Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Membaca Praktik Pengelolaan Tari Topeng Lengger Wanasaban: Antara Aset dan Industri Budaya Alaudin, Faris
Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal Vol. 2 No. 2 (2023): Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Arif.022.09

Abstract

Tari topeng lengger, yang berkembang di wilayah geografi budaya Wonosobo, sintas sebagai pertunjukan seni tradisi yang populer. Menjamurnya grup kesenian topeng lengger di Wonosobo menjadikan daya saing mereka dalam berebut pasar makin ketat saja. Grup Kesenian Rukun Putri Budhaya, yang menjadi patron kesenian topeng lengger di Wonosobo, tidak luput dari arus dinamika seni tradisi ini. Penelitian ini bertujuan untuk melihat praktik pengelolaan tari topeng lengger grup kesenian Rukun Putri Budhaya dalam menegosiasi pasar. Metode etnografi dan pendekatan kajian tradisi lisan digunakan sebagai kacamata dalam menganalisis praktik pengelolaan topeng lengger sebagai modal budaya oleh Rukun Putri Budhaya. Sebagai hasil, Rukun Putri Budhaya menjadikan tari topeng lengger sebagai aset budaya sekaligus industri budaya. Melalui Sanggar Ciptaning, Rukun Putri Budhaya hadir untuk menyebarluaskan tradisi topeng lengger sebagai aset budaya. Selain itu, lewat gelaran wisuda lengger, Rukun Putri Budhaya mengomodifikasi topeng lengger untuk dikomersialisasikan.
Ngruwat Bocah Bajang: Makna Ruwatan Cukur Rambut Gembel bagi Masyarakat Dieng Alaudin, Faris
Jurnal Seni Nasional Cikini Vol. 9 No. 2 (2023): Jurnal Seni Nasional Cikini Vol. 9 No. 2
Publisher : Riset, inovasi dan PKM - Institut Kesenian Jakarta, DKI Jakarta.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsnc.v9i2.240

Abstract

ABSTRAK: Ruwatan cukur rambut gembel sebagai tradisi lisan milik masyarakat Dieng masihdisintaskan hingga kini. Tradisi lisan ini berpusat pada ritus peralihan bagi bocah bajang di Dieng.Ruwatan cukur rambut gembel dilaksanakan dengan cara memenuhi bebana yang diminta oleh bocahbajang, memotong dan melarung rambut gembel, serta mengadakan selamatan. Sejak tahun 2010,ruwatan cukur rambut gembel digelar secara anual sebagai bagian dari Dieng Culture Festival. Atasdasar ini, alasan masyarakat Dieng meyintaskan ruwatan cukur rambut gembel dikaji lebih jauh untukmenyasar pemaknaan masyarakat Dieng atas tradisi lisan yang mereka miliki. Data dikumpulkanmenggunakan pendekatan kajian tradisi lisan yang dilakukan dengan cara menyaksikan pergelaranruwatan cukur rambut gembel secara langsung dan mewawancarai masyarakat Dieng. Sebagai hasil,keinginan untuk mempertahankan markah galur Kiai Kolodete yang berambut gembel menjadi alasanmasyarakat Dieng mempertahankan ruwatan cukur rambut gembel.