Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Aspek Agraris dan Maritim dalam Makanan Tradisional Kuah Tige Destriyadi
Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal Vol. 3 No. 1 (2023): Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Arif.031.10

Abstract

Hasil hubungan masyarakat dengan alam dapat dilihat dari makanan tradisional kuah tige, Natuna. Budaya maritim dan budaya agraris berhubungan dengan masyarakat dan alam. Penelitian ini bertujuan mengungkapkan aspek agraris dan maritim dalam makanan tradisional kuah tige. Data penelitian kualitatif deskriptif ini diperoleh melalui wawancara, observasi, dan studi pustaka. Ada tiga tahap penelitian, yaitu reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Natuna yang dikelilingi lautan luas dan tanah yang subur, makanan tradisional kuah tige menjadi milik sebagian komunitas masyarakat secara kolektif. Bahan baku makanan tradisional kuah tige berasal dari budaya agraris seperti kelapa kukur, sagu butir, dan ubi rebus, sedangkan yang berasal dari budaya maritim adalah gulai air ikan. Perbedaan pandangan dan kebiasaan masyarakat Natuna mengenai kuah tige dipandang sebagai cara untuk menguatkan dan memperkaya kebudayaan.
The Politic of Space in Martavan by Fahrul Khahim Destriyadi
Abjad Journal of Humanities & Education Vol. 2 No. 1 (2024): Abjad: Journal of Humanities & Education
Publisher : Centre for Literary and Cultural Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62079/abjad.v2i1.2

Abstract

The confinement and construction of Lita's body formed by the traditional environment forced her to fight against it all. In the short story Martavan by Fakhrul Khakim, Lita makes a solid attempt to redefine her body. By using Sara Upstone's theory of space politics, this paper tries to reveal how the efforts of space politics in this short story take place in the character. In this research, we explain the political classification of body space. This research uses a qualitative descriptive method. This research aims to reveal the failure of body politics in Fahrul Khakim's Martavan short story. The data collection techniques used are reading and note-taking techniques. The short story Martavan by Fahrul Khahim, seen from the perspective of postcolonialism, did not go smoothly and failed body politics. This phenomenon can be ascertained after chaos cannot be taken over by post-space. Resistance efforts in this short story can be done repeatedly to find a body upon which one agrees. This failure can be caused by the balance of resistance between East and West, where the East can only attack through the character Lita. Bapak and Hari are part of the West that can attack or indoctrinate the East. It is as if the women in this short story are unable to become their bodies to escape the boundaries that colonialism has created. The body present in the short story is a weakly constructed female body, failing to influence or dismantle the construction of the body.
Fungsi Sastra Lisan Tepung Tawar Natuna Destriyadi
Jurnal Nusantara Raya Vol. 3 No. 1 (2024)
Publisher : Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/jnr.v4i1.9417

Abstract

Natuna sebagai wilayah kepulauan, tidak hanya bergantung dan hidup dari kemaritiman, tetapi juga kehidupan agraris. Sastra lisan Natuna yang menjadi objek material pada penelitian ini adalah sastra lisan tepung tawar yang masih berbentuk lisan. Rumusan masalah penelitian ini apa saja fungsi sastra lisan kaitannya dengan konteks sosial budaya maritim dan agraris. Untuk menjawab rumusan masalah tersebut, penelitian ini menggunakan funsi sastra lisan Ruth Finnegan. Sementara tujuan penelitian ini mengungkapkan fungsi sastra lisan tepung tawar kaitannya dengan sosial budaya maritim dan agraris. Proses wawancara, perekaman, dan observasi lapangan dilakukan di Kecamatan Pulau Tiga Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sastra lisan tepung tawar memenuhi kedua konteks sosial budaya agraris dan maritim. Konteks sosial budaa maritim lebih unggul daripada konteks sosial budaya agraris jika dilihat secara keseluruhan. Sementara hubungan dengan masyarakat lebih diutamakan daripada hubungan dengan alam dan hubungan dengan Tuhan, baik konteks sosial budaya maritim maupun agraris.
Penanaman dan Penyebaran Hegemoni dalam “Siapa Suruh Sekolah Di Hari Minggu?” Karya Faisal Oddang Destriyadi
MABASAN Vol. 19 No. 1 (2025): Mabasan 19 (1)
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v19i1.732

Abstract

Dalam kumpulan cerpen Sawerigading Datang dari Laut karya Faisal Oddang, tergambar bagaimana seorang anak dapat menaruh kepercayaan yang lebih besar kepada sosok yang dianggap sebagai guru dibandingkan kepada orang tuanya sendiri. Cerpen “Siapa Suruh Sekolah di Hari Minggu?” secara khusus menunjukkan bagaimana sikap dan perilaku seseorang dapat memengaruhi orang lain, terutama anak-anak. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan objek material primer berupa cerpen tersebut. Sumber data sekunder diperoleh dari berbagai penelitian yang membahas wacana hegemoni. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui pembacaan cermat dan pencatatan terhadap teks. Dengan menggunakan teori hegemoni Antonio Gramsci, artikel ini bertujuan mengungkap praktik-praktik hegemoni yang muncul dalam relasi antartokoh. Fokus utamanya adalah bagaimana ideologi disebarkan dan diterima secara sukarela oleh pihak subordinat, khususnya anak-anak, yang menjadi sasaran strategis penyebaran nilai-nilai kelas dominan. Analisis menunjukkan bahwa apa yang tampak sebagai tindakan sukarela atau masuk akal, sebenarnya dibentuk oleh nilai-nilai hegemonik yang telah tertanam melalui proses ideologisasi. Hasil penelitian menegaskan bahwa keberhasilan dan kelanggengan hegemoni dalam cerita pendek ini bertumpu pada relasi saling membutuhkan dan saling memahami antara kelas dominan dan subordinat. Dengan demikian, studi ini menyoroti pentingnya memperhatikan praktik-praktik hegemoni dalam narasi sastra, khususnya melalui instrumentalisasi anak-anak sebagai medium penyebaran ideologi.