Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

RELASI TRADISI DAN MODERNITAS (MENIMBANG KRITIK NALAR ARAB MOHAMMAD ‘ABED AL-JABIRI) Ah. Haris Fahrudi
MIYAH : Jurnal Studi Islam Vol. 12 No. 2 (2016)
Publisher : Universitas Kiai Abdullah Faqih Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Modernitas sebagai fakta historis perkembangan peradaban umat manusia tidak bisa dipungkiri adanya. Bahkan moernitas menjadi identitas yang tidak bisa dipisahkan dari peradaban umat manusia saat ini. Hegemoni Modernitas Eropa bahkan telah berhasil menjadi representasi peradaban universal. Saat arus modernitas merasuk hampir seluruh belahan bumi, benturan antara tradisi dan modernitas menjadi tidak terelakkan. Reaksi atas modernitas dan bagimana memposisikan tradisi di hadapan modernitas memunculkan tiga kelompok utama yaitu kelompok transformaatif, kelompok reformis dan kelompok idealis-totalistik. Al-Jabiri mencoba mengurai persoalan hubungan tradisi dan modernitas dengan merumuskan suatu konsep pembacaan modernitas yang produktif yakni modernitas yang tidak diadopsi dan ditransfer dari peradaban luar yang tidak memiliki akar dalam tradisi. Sebaliknya modernitas yang sesungguhnya tidak-bisa tidak harus dibangun dan berangkat dari dalam tradisi. Dalam hal ini al-Jabiri melalui proyek kritik nalar arabnya membongkar tradisi-tradisi dalam peradaban Arab-Islam untuk menemukan benih-benih tradisi yang berpotensi dikembangkan untuk membangun peradaban Arab-Islam sehingga modernitas menemukan wujud kesejatiannya dalam tradisi. Dari kajiannya atas sejarah Arab-Islam, setidaknya ada tiga otoritas rujukan epistemologis dan ideologis” atau tiga sistem pemikiran (episteme) yang masing-masing berbeda yaitu episteme bahasa yang berasal dari kebudayaan Arab (nalar bayani), episteme gnosis yang berasal dari tradisi Persia dan Hermetis (nalar ‘irfani) dan episteme rasionalis (burhani) yang berasal dari Yunani (nalar Burhani). Tesis Al-Jabiri mengenai basis modernisasi Arab Islam yang pantas dan patut dijadikan dasar bagi modernisasi Arab-Islam adalah merekonstruksi bangunan relasi antara epistem bayani dan epistem burhani adapun epistem ‘irfani diabaikan oleh al-jabiri karena yang ketiga ini cenderung berlawanan dengan dua epistem sebelumnya. Dengan cara ini al-Jabiri mengharapkan kemodernan yang sebenarnya dengan menjadi subyek pelaku (fail) dan bukan semata sebagai konsumen (munfa’il). Dengan tesisnya ini al-jabiri dapat digolongkan sebagai golongan reformis dalam menyikapi modernitas daihadapan tradisi. Keyword: Al-Jabiri. Relasi tradisi, Modernitas.
MODEL SISTEM TAFSIR TAWHIDI IBN BARRAJAN DALAM MENAFSIRKAN AYAT-AYAT KAWNIYYAH Ah. Haris Fahrudi
MIYAH : Jurnal Studi Islam Vol. 20 No. 01 (2024): JANUARI
Publisher : Universitas Kiai Abdullah Faqih Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The Qur'an mentions many natural phenomena (al-âyat al-kawniyyah) so that humans take lessons from them. Unfortunately, classical interpretations do not give enough attention to it. One of the classical interpretations that gives attention to it is the interpretation of Ibn Barrajân, the Andalusian mufasir and Sufi figure of the 16th century H. Sufi interpretations that reveal many non-literal dimensions of the Qur'an have been seen as a form of deviation from the standard interpretation of the Qur'an or only as an emotional expression that is subjective, given / mawhibah and therefore not iterative. This article discusses Ibn Barrajân's Sufistic interpretation of the âyât kawniyyah through a systems approach. With this approach, Ibn Barrajân's interpretation is seen as a system by identifying the elements of the system in it. This research extends two discernible conclusions: First, Ibn Barrajân's Sufi interpretation is a system of interpretation that transforms the sources of interpretation as input into a holistic interpretation (al-tafsîr al-tawhîdî) as its output through the integral cognitive process of the mufasir consisting of tauhid paradigm, methodology and competence of the mufasir. Second, Ibn Barrajân's system of interpretation is an open system that interacts with its environment so that it is dynamic. Keywords: sistem tafsir, tafsir sufi, Ibn Barrajân, ayat kawniyyah