ABSTRAK. Rumah Betang merupakan rumah panjang tradisional masyarakat Dayak di Kalimantan yang berkembang sebagai bentuk adaptasi terhadap kondisi lingkungan lahan basah. Arsitektur vernakular ini mencerminkan kemampuan masyarakat lokal dalam merespons karakteristik alam, seperti banjir musiman, tingkat kelembapan yang tinggi, serta iklim tropis yang panas dan lembap. Adaptasi tersebut terlihat melalui penerapan struktur panggung, penggunaan material lokal yang tahan terhadap kondisi lingkungan, serta pengaturan ruang komunal yang mendukung kehidupan sosial masyarakat. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi prinsip-prinsip arsitektur yang terdapat pada Rumah Betang serta menganalisis keterkaitannya dengan konsep arsitektur ekologi pada kawasan lahan basah. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif melalui observasi lapangan pada beberapa rumah Betang di Kalimantan Tengah, wawancara dengan masyarakat setempat, serta studi literatur terkait arsitektur vernakular dan ekologi lahan basah. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif dan interpretatif untuk memahami hubungan antara aspek budaya, sistem konstruksi bangunan, dan keberlanjutan lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rumah Betang memiliki sejumlah prinsip desain yang selaras dengan pendekatan arsitektur ekologis, seperti penerapan struktur panggung sebagai strategi adaptasi terhadap banjir, pemanfaatan ventilasi alami untuk meningkatkan kenyamanan termal, serta penggunaan material lokal yang mendukung keberlanjutan lingkungan. Selain itu, tata ruang komunal pada rumah Betang juga mencerminkan keberlanjutan sosial dalam kehidupan masyarakat Dayak. Temuan ini menunjukkan adanya keterkaitan antara nilai-nilai budaya lokal dengan prinsip keberlanjutan dalam praktik arsitektur vernakular, sehingga kearifan lokal yang tercermin dalam arsitektur Rumah Betang berpotensi menjadi referensi dalam pengembangan desain arsitektur kontemporer yang lebih adaptif terhadap kondisi lingkungan lahan basah. Kata Kunci: Rumah Betang, arsitektur vernakular, lahan basah, arsitektur ekologi, adaptasi lingkungan. ABSTRACT. The Betang House is a traditional longhouse of the Dayak community in Kalimantan that developed as a response to the characteristics of wetland environments. This vernacular architecture reflects the local community’s ability to adapt to natural conditions such as seasonal flooding, high humidity levels, and tropical climate conditions. These adaptations are evident in the use of elevated stilt structures, the utilization of locally sourced materials that are resistant to environmental conditions, and a communal spatial organization that supports the social life of the community. This study aims to identify the architectural principles embodied in the Betang House and to analyze their relationship with ecological architectural approaches in wetland areas. The research employs a qualitative approach through field observations of several Betang Houses in Central Kalimantan, interviews with local communities, and literature studies related to vernacular architecture and wetland ecology. The collected data were analyzed descriptively and interpretatively to understand the relationship between cultural aspects, construction systems, and environmental sustainability. The results indicate that the Betang House embodies several design principles that align with ecological architecture concepts, including the use of elevated structures as a strategy for flood adaptation, natural ventilation systems that enhance thermal comfort, and the use of local materials that support environmental sustainability. In addition, the communal spatial arrangement of the Betang House reflects social sustainability within Dayak society. These findings demonstrate a strong relationship between local cultural values and sustainability principles within vernacular architectural practices, suggesting that the local wisdom embedded in the Betang House can serve as an important reference for developing contemporary architectural designs that are more adaptive to wetland environmental condition. Keywords: Betang House, Kalimantan Vernacular Architecture, Wetland Ecological Architecture, Environmental Adaptation.