Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Implementasi Support Vector Machine-Genetic Algorithm (SVM-GA) dalam Mengklasifikasikan Kelulusan Tepat Waktu Mahasiswa Statistika Unisba Indah Siti Rahmawati; Mahdy, Ilham Faishal
Bandung Conference Series: Statistics Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Statistics
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcss.v4i2.12768

Abstract

Abstract. Support Vector Machine (SVM) is a classification method that finds the optimal hyperplane for separating two data classes. However, SVM has weaknesses in determining hyperparameter values, necessitating parameter optimization. The Genetic Algorithm (GA) is an optimization method proven effective in handling complex optimization problems and irregular, complicated solutions. The classification system for the timely graduation of Unisba Statistics students is important for improving the quality and accreditation of study programs. Therefore, this study aims to obtain the best SVM model for classifying the timely graduation of Unisba Statistics students with the help of a Genetic Algorithm (GA). The data used in this study includes the graduation records of Unisba Statistics students from January 24, 2019, to August 29, 2023. By doing SVM-GA modeling using 9 combinations of GA, 10-Cross Validation, and RBF kernels, the best performance model was obtained from the genetic algorithm parameter of a population of 200, the value of 0,8, value of 0,05, an SVM parameter of 2242,1776, and 0,0002. Model performance evaluation showed that the resulting model achieved an average accuracy of 78.2664%, an average recall of 78,3287%, an average precision of 86.2500%, and an average f1-score of 81.92%. Abstrak. Support Vector Machine (SVM) merupakan metode klasifikasi yang menemukan hyperplane optimal dalam memisahkan dua kelas data. SVM memiliki kelemahan dalam menentukan nilai hyperparameter, sehingga perlu dilakukan optimasi parameter. Genetic Algorithm (GA) merupakan metode optimasi yang terbukti efektif dalam menangani masalah optimasi yang kompleks dan solusi yang tidak teratur serta rumit. Sistem klasifikasi dalam kasus kelulusan tepat waktu mahasiswa Statistika Unisba menjadi hal penting untuk meningkatkan kualitas dan akreditasi program studi. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk memperoleh model SVM terbaik dalam mengklasifikasikan kelulusan tepat waktu mahasiswa Statistika Unisba dengan bantuan Genetic Algorithm (GA). Data yang digunakan pada penelitian ini merupakan data kelulusan mahasiswa Statistika Unisba pada periode kelulusan sejak tanggal 24 Januari 2019 sampai 29 Agustus 2023. Dengan melakukan pemodelan SVM-GA menggunakan 9 kombinasi parameter GA, 10-Cross Validation, dan kernel RBF, diperoleh model dengan kinerja terbaik dari parameter algoritma genetika berupa populasi sebanyak 200, nilai sebesar 0,8, nilai sebesar 0,05, dengan parameter SVM berupa parameter sebesar 2242,1776 dan sebesar 0,0002. Evaluasi kinerja model menunjukkan bahwa model yang dihasilkan memperoleh rata-rata akurasi sebesar 78,2664%, Rata-rata recall sebesar 78,3287%, rata-rata precision sebesar 86,2500%, dan rata-rata f1-score sebesar 81,9225%.
Pengelompokan Daerah Rawan Gempa Bumi di Pulau Jawa Menggunakan Metode Density Based Spatial Clustering of Application with Noise (DBSCAN) Naufalia Alfiryal; Mahdy, Ilham Faishal
Bandung Conference Series: Statistics Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Statistics
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcss.v4i2.13873

Abstract

Abstract. In cluster analysis, there are often several problems, such as arbitrary cluster shapes and different cluster sizes and densities. One method that can handle these problems is Density Based Spatial Clustering of Application with Noise (DBSCAN). Java Island is one of the areas in Indonesia that often experiences earthquakes, due to the collision zone of the Indo-Australian plate colliding with the Eurasian plate and the presence of 34 active volcanoes. The earthquakes that occur also vary in terms of magnitude and depth. The greater the magnitude and the shallower the depth, the greater the damage. Java is one of the most populous islands in Indonesia, so it is important to know the earthquake-prone areas in Java to minimize the risk through cluster analysis minimize risk through cluster analysis. The data used in this study is earthquake event data in the January 1, 2021 - January 1, 2024 date range obtained from the United States Geological Survey (USGS). From the cluster analysis or grouping carried out, 2 clusters and 1 noise were obtained with the optimal parameter value ε = 0.2857 and MinPts = 4. Cluster 1 consists of 167 areas prone to medium earthquakes and has an average magnitude of 4.42 mb. Cluster 2 consists of 8 areas prone to deep earthquakes and have an average magnitude of 4.46 mb. Meanwhile, the noise regions are areas prone to deep and high magnitude earthquakes. The Silhouette coefficient of 0.6788 means that the cluster structure formed is already in the good structure category. Abstrak. Dalam analisis klaster seringkali terjadi beberapa permasalahan, seperti bentuk klaster yang tidak beraturan (arbitrary) serta ukuran dan kepadatan klaster yang berbeda. Salah satu metode yang mampu menangani permasalahan tersebut adalah Density Based Spatial Clustering of Application with Noise (DBSCAN). Pulau Jawa merupakan salah satu daerah di Indonesia yang sering mengalami gempa bumi. Hal ini dikarenakan adanya zona tumbukan lempeng Indo-Australia yang bertabrakan dengan lempeng Eurasia serta adanya 34 gunung berapi aktif. Gempa bumi yang terjadi juga bervariasi dari segi magnitudo maupun kedalamannya (depth). Semakin besar magnitudo dan semakin dangkal kedalamannya, maka akan semakin besar pula kerusakan yang terjadi. Pulau Jawa merupakan salah satu pulau terpadat di Indonesia sehingga penting untuk mengetahui daerah rawan gempa bumi di Pulau Jawa untuk meminimalisir risiko melalui analisis klaster. Data yang digunakan pada penelitian ini merupakan data kejadian gempa bumi pada rentang tanggal 1 Januari 2021-1 Januari 2024 yang diperoleh dari United States Geological Survey (USGS). Dari analisis klaster atau pengelompokkan yang dilakukan diperoleh 2 klaster dan 1 noise dengan nilai parameter optimal ε = 0.2857 dan MinPts = 4. Klaster 1 terdiri dari 167 daerah yang rawan akan gempa bumi menengah dan memiliki rata-rata magnitudo 4.42 mb. Klaster 2 terdiri dari 8 daerah yang rawan akan gempa bumi dalam dan memiliki rata-rata magnitudo 4.46 mb. Sedangkan, daerah yang menjadi noise merupakan daerah yang rawan gempa bumi dalam dan magnitudo tinggi. Silhouette coefficient sebesar 0.6788 mengartikan bahwa struktur klaster yang terbentuk sudah dalam kategori struktur yang baik.
Pengaruh antara Loneliness dan Budaya Fear of Missing Out dengan Quarter Life Crisis pada Civitas Akademik Statistika Unisba Jasmine Azalia Pangesti; Mahdy, Ilham Faishal
Bandung Conference Series: Statistics Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Statistics
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcss.v4i2.15236

Abstract

Abstract. Quarter Life Crisis phase is a phase that occurs by a person with an age range of 20 - 40 years. In this phase, a person often experiences anxiety and uncertainty of goals, plans. This Quarter Life Crisis phase can cause a person to feel anxious about the future and tend to compare their lives with the lives of others or what is usually called Fear of Missing Out (FOMO). FOMO or a condition where a person feels that other people's lives are more fun and causes a person to lock themselves up. Because of this, the person can lead to experiencing Loneliness. So the purpose of this study is to see the influence or impact between FOMO (Fear of missing Out), Loneliness, and Quarter Life Crisis on the academic community of statistics at the Islamic University of Bandung. By using Path Analysis, it is concluded that Quarter Life Crisis has a positive effect on Fear of Missing Out (FOMO) and Fear of Missing Out (FOMO) has a positive effect on Loneliness. Therefore, the Quarter Life Crisis phase can cause someone to experience Fear of Missing Out (FOMO) and someone who experiences Fear of Missing Out (FOMO) can cause Loneliness. Abstrak. Fase Quarter Life Crisis adalah fase yang terjadi oleh seseorang dengan rentang usia 20 – 40 tahun. Pada fase ini, seseorang sering kali mengalami kecemasan dan ketidakpastian tujuan, rencana. Fase Quarter Life Crisis ini dapat menyebabkan seseorang merasa cemas akan masa depan dan cenderung membandingkan hidup mereka dengan kehidupan orang lain atau yang biasanya disebut dengan Fear of Missing Out (FOMO). FOMO atau kondisi dimana seseorang merasa kehidupan orang lain lebih menyenangkan dan mengakibatkan seseorang mengurung diri. Karena hal tersebut orang tersebut bisa mengarahkan mengalami Loneliness. Sehingga tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh atau dampak antara FOMO (Fear of missing Out), Loneliness, dan Quarter Life Crisis pada civitas akademik statistika Universitas Islam Bandung. Dengan menggunakan Analisis Jalur didapat kesimpulan bahwa Quarter Life Crisis berpengaruh positif terhadap Fear of Missing Out (FOMO) dan Fear of Missing Out (FOMO) berpengaruh positif terhadap Loneliness. Oleh karena itu, fase Quarter Life Crisis dapat menyebabkan seseorang mengalami Fear of Missing Out (FOMO) dan seseorang yang mengalami Fear of Missing Out (FOMO) dapat menyebabkan Loneliness.