Penelitian ini mengevaluasi penggunaan laboratorium IPA di MTsN 1 Kepulauan Sula dan mengusulkan strategi optimalisasi yang sesuai dengan konteks lokal. Menggunakan pendekatan mixed-method, studi ini mengumpulkan data melalui survei, wawancara, observasi, dan analisis dokumen. Temuan utama mengungkapkan bahwa laboratorium digunakan rata-rata 2,3 jam per minggu per kelas, jauh di bawah standar ideal. Kendala utama meliputi keterbatasan sumber daya, kurangnya pelatihan guru, dan tantangan logistik. Meskipun 75% siswa menunjukkan preferensi terhadap pembelajaran berbasis laboratorium, hanya 40% guru merasa percaya diri dalam mengelola kegiatan praktikum. Analisis data menunjukkan korelasi positif antara frekuensi penggunaan laboratorium dengan hasil belajar siswa. Integrasi teknologi dan pertimbangan keberlanjutan dalam kegiatan laboratorium masih minimal. Berdasarkan temuan ini, rekomendasi strategis meliputi pengembangan profesional guru, integrasi kurikulum, optimalisasi sumber daya, adopsi teknologi, pendekatan keberlanjutan, kolaborasi regional, serta monitoring dan evaluasi berkelanjutan. Implementasi rekomendasi ini berpotensi meningkatkan kualitas pendidikan IPA di MTsN 1 Kepulauan Sula dan dapat menjadi referensi bagi sekolah di wilayah terpencil Indonesia dengan tantangan serupa.