Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Laporan kasus: Komplikasi H+3 post trakeostomi emfisema subkutan pada pasien sumbatan jalan nafas atas Sopacua, Audrine Diloren; Sembiring, Edward Suryanta
Buletin Kedokteran & Kesehatan Prima Vol. 2 No. 1 (2023): Maret
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kedokteran Gigi, dan Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/bkkp.v2i1.3471

Abstract

Trakeostomi adalah tindakan untuk membuat lubang pada dinding anterior trakea. Dilaporkan pasien laki–laki berusia 59 tahun dengan keluhan sesak nafas post trakeostomi H+3. Sebelum trakeostomi dilakukan, pemeriksaan laringoskopi indirect kesan parese pita suara bilateral. Pasien retraksi suprasternal dan epigastrium yang termasuk dalam Jackson II. Tiga hari setelah trakeostomi, diijumpai krepitasi dan bengkak pada daerah wajah, leher, dan klavikula. Pasien langsung diberikan tindakan buka jahitan luka trakeostomi, insersi abocath ukuran besar ke daerah–daerah yang bengkak sebanyak 10 buah abocath. Setelah insersi abocath, pasien merasa keluhan berkurang. Pemantauan setiap hari dilakukan dan didapati bengkak menghilang sekitar 48 jam setelah insersi abocath. Didapati abocath terlepas dengan sendirinya. Disimpulkan bahwa penanganan terhadap emfisema subkutan pasca trakeostomi adalah membuka kembali jahitan luka trakeostomi dan dilakukan insersi abocath pada bagian–bagian yang bengkak.
Laporan kasus: Komplikasi H+3 post trakeostomi emfisema subkutan pada pasien sumbatan jalan nafas atas Sopacua, Audrine Diloren; Sembiring, Edward Suryanta
Buletin Kedokteran & Kesehatan Prima Vol. 2 No. 1 (2023): Maret
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kedokteran Gigi, dan Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/bkkp.v2i1.3471

Abstract

Trakeostomi adalah tindakan untuk membuat lubang pada dinding anterior trakea. Dilaporkan pasien laki–laki berusia 59 tahun dengan keluhan sesak nafas post trakeostomi H+3. Sebelum trakeostomi dilakukan, pemeriksaan laringoskopi indirect kesan parese pita suara bilateral. Pasien retraksi suprasternal dan epigastrium yang termasuk dalam Jackson II. Tiga hari setelah trakeostomi, diijumpai krepitasi dan bengkak pada daerah wajah, leher, dan klavikula. Pasien langsung diberikan tindakan buka jahitan luka trakeostomi, insersi abocath ukuran besar ke daerah–daerah yang bengkak sebanyak 10 buah abocath. Setelah insersi abocath, pasien merasa keluhan berkurang. Pemantauan setiap hari dilakukan dan didapati bengkak menghilang sekitar 48 jam setelah insersi abocath. Didapati abocath terlepas dengan sendirinya. Disimpulkan bahwa penanganan terhadap emfisema subkutan pasca trakeostomi adalah membuka kembali jahitan luka trakeostomi dan dilakukan insersi abocath pada bagian–bagian yang bengkak.