Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Robhong Holo: Migrasi, Diferensiasi Kebudayaan dan Deteriorasi pada Cagar Alam Pegunungan Cycloop di Kabupaten Jayapura Lekitoo, Brayon Virgil; Yuwono, Pujo Semedi Hargo
Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya (Journal of Social and Cultural Anthropology) Vol 10, No 1 (2024): Juli
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/antro.v10i1.56945

Abstract

Kerusakan lingkungan merupakan fenomena global yang saat ini sedang dihadapi oleh seluruh umat manusia sebagai akibat dari pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali dan terbatasnya sumber daya alam yang tersedia. Salah satu faktor utama yang mendukung terjadinya kerusakan lingkungan adalah migrasi dan perbedaan budaya antara pendatang dan penduduk asli yang menempati wilayah tersebut. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan etnograf. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara antropologis hubungan antara populasi pendatang dari Pegunungan Tengah Papua yang memiliki konstruksi budaya yang berbeda dengan masyarakat Sentani di wilayah Sentani, Kabupaten Jayapura, yang menyebabkan perbedaan konsepsi pemanfaatan lahan. Para Migran memiliki model ekonomi tradisional perladangan berpindah dengan cara membabat dan membakar daerah potensial yang adalah hutan, berdampak signifikan terhadap perubahan lanskap dan deteriorasi lingkungan yang terjadi di daerah pegunungan Cycloop. Dampak dari pemanfaatan lahan yang berlebihan di kawasan cagar alam ini menyebabkan perubahan bentang alam dan kerusakan lingkungan, yang manifestasinya terlihat pada bencana banjir bandang di tahun 2019. Environmental degradation is a global phenomenon that is currently being faced by all mankind as a result of uncontrolled population growth and limited natural resources available. One of the main factors supporting environmental deterioration is migration and cultural differentiation of migrants and indigenous people who occupy the area. This research is qualitative research with an ethnographic approach This article aims to describe anthropologically the relationship between population migration from the Central Mountains of Papua who have different cultural constructions and the Sentani people in the Sentani area, Jayapura Regency, which causes differences in conceptions of land use. Migrants have a traditional economic model of shifting cultivation by clearing and burning potential forest areas, which has a significant impact on landscape changes and environmental deterioration that occurs in the Cycloop mountain area.  The impact of excessive land use in this nature reserve area has caused landscape changes and environmental deterioration, the manifestation of which was seen in the flash flood disaster in 2019.
Robhong Holo: Migrasi, Diferensiasi Kebudayaan dan Deteriorasi pada Cagar Alam Pegunungan Cycloop di Kabupaten Jayapura Lekitoo, Brayon Virgil; Yuwono, Pujo Semedi Hargo
Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya (Journal of Social and Cultural Anthropology) Vol. 10 No. 1 (2024): Juli
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/antro.v10i1.56945

Abstract

Kerusakan lingkungan merupakan fenomena global yang saat ini sedang dihadapi oleh seluruh umat manusia sebagai akibat dari pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali dan terbatasnya sumber daya alam yang tersedia. Salah satu faktor utama yang mendukung terjadinya kerusakan lingkungan adalah migrasi dan perbedaan budaya antara pendatang dan penduduk asli yang menempati wilayah tersebut. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan etnograf. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara antropologis hubungan antara populasi pendatang dari Pegunungan Tengah Papua yang memiliki konstruksi budaya yang berbeda dengan masyarakat Sentani di wilayah Sentani, Kabupaten Jayapura, yang menyebabkan perbedaan konsepsi pemanfaatan lahan. Para Migran memiliki model ekonomi tradisional perladangan berpindah dengan cara membabat dan membakar daerah potensial yang adalah hutan, berdampak signifikan terhadap perubahan lanskap dan deteriorasi lingkungan yang terjadi di daerah pegunungan Cycloop. Dampak dari pemanfaatan lahan yang berlebihan di kawasan cagar alam ini menyebabkan perubahan bentang alam dan kerusakan lingkungan, yang manifestasinya terlihat pada bencana banjir bandang di tahun 2019. Environmental degradation is a global phenomenon that is currently being faced by all mankind as a result of uncontrolled population growth and limited natural resources available. One of the main factors supporting environmental deterioration is migration and cultural differentiation of migrants and indigenous people who occupy the area. This research is qualitative research with an ethnographic approach This article aims to describe anthropologically the relationship between population migration from the Central Mountains of Papua who have different cultural constructions and the Sentani people in the Sentani area, Jayapura Regency, which causes differences in conceptions of land use. Migrants have a traditional economic model of shifting cultivation by clearing and burning potential forest areas, which has a significant impact on landscape changes and environmental deterioration that occurs in the Cycloop mountain area.  The impact of excessive land use in this nature reserve area has caused landscape changes and environmental deterioration, the manifestation of which was seen in the flash flood disaster in 2019.
Dinamika Pencemaran Lingkungan Berdasarkan Perspektif Sosio Kultur, Kesehatan dan Kebijakan di Teluk Numbay Kota Jayapura Kainama, Tamara Louraine Jeanette; Dosinaeng, Antonius Satrio Wicaksono; Lekitoo, Brayon Virgil; Krisifu, Pasca Fransiscus Izaak
ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Vol 8 No 2 (2025): ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Edisi November 2025
Publisher : Cenderawasih University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31957/acr.v8i2.5091

Abstract

Air merupakan sumber daya fundamental yang menopang kehidupan dan aktifitas semua organisme. Sumber daya air harus dikelola secara berkelanjutan untuk melindungi lingkungan dan kegunaannya bagi kehidupan manusia dan organisme lain. Namun, pencemaran yang diakibatkan limbah rumah tangga (domestik), limbah industri, limbah pertanian, penggunaan pestisida, kepadatan populasi, sanitasi yang buruk dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat serta pertumbuhan penduduk dari segi sosial dan kultur. Teluk Numbay adalah salah satu bagian dari rangkaian kenampakan alam perairan yang ada di wilayah Kota Jayapura. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui dampak dari pencemaran dari faktor kesehatan dan sosio kultur. Berdasarkan hasil yang didapatkan, Akibat pencemaran lingkungan yang terjadi diwilayah Sungai Anafre, sebagian masyarkat menderita beberapa penyakit kulit Dermatitis Iritan yang terkonfirmasi Laboratorium pada tahun 2025 di Puskesmas Jayapura Utara sebanyak 51 orang dengan nilai tertinggi terjadi pada Bulan Juli, dengan angka kejadian sebesar 30 pasien dengan presentasi 58,8%. Upaya yang dilakukan pemerintah dalam mengatasi pencemaran diimplementasikan dalam Peraturan Daerah Kota Jayapura Nomor 10 Tahun 2007.