Roswita Defolopement Hia
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

ANALISIS PERIBAHASA PADA ACARA PESTA JASA (FANGOWASA) DI KECAMATAN AMANDRAYA KABUPATEN NIAS SELATAN Roswita Defolopement Hia
KOHESI : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 4 No 1 (2023): KOHESI : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : Universitas Nias Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57094/kohesi.v4i1.1161

Abstract

Istilah “peribahasa” mengacu pada kumpulan kata atau kalimat dengan makna atau benda yang telah ditentukan sebelumnya yang menggambarkan seseorang atau sesuatu. Peribahasa ini mengandung banyak peribahasa, antara lain metafora, perumpamaan, ungkapan, peribahasa, perumpamaan, dan mboyan. Dalam budaya Nias, khususnya tradisi lisan, peribahasa sering digunakan atau diucapkan dalam kehidupan sehari-hari; Oleh karena itu, sastra lisan merupakan metode enkulturasi dalam proses penanaman nilai-nilai tradisional. Perubahan sering kali dipandang sebagai ekspresi non-verbal yang, karena pendengar dan pembaca memiliki latar belakang budaya yang sama, secara implisit menyampaikan informasi yang dapat dipahami. Kesempatan yang sama dalam konteks budaya yang sama sangatlah penting, karena diskusi peribahasa akan kehilangan efektivitasnya. Misalnya saja adagium yang lazim di masyarakat Nias adalah “ligi-ligi siliwi, falö tofesu mbagi, hese hese najese, falö tofesu gahe”, yang artinya “pertajam lidah sebelum berbicara, dan berpikirlah sebelum melangkah”. Agar tidak ada yang asing bagi mereka, khususnya warga Kecamatan Amandraya, Kabupaten Nias Selatan, para penutur sering menggunakan peribahasa ini dalam kegiatan bertutur, khususnya pada pertemuan adat. Dalam merayakan ibadah (fangowasa), masyarakat Nias, khususnya di Kecamatan Amandraya, Kabupaten Nias Selatan, selalu menggunakan bahasa kiasan (metafora) dan bentuk komunikasi tidak langsung untuk menyampaikan tujuan tertentu. Komunikasi tidak langsung melibatkan berbagai hal, seperti menghindari membuat orang lain kesal, menggunakan ekspresi tertentu, menarik perhatian pendengar, dan menghindari pendengar menjadi bosan.