Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Politik Luar Negeri Indonesia Di Era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono Mutaal, Najwa Azhar; Ali Noer Zaman
HUMANUS : Jurnal Sosiohumaniora Nusantara Vol. 1 No. 3 (2024): HUMANUS (Jurnal Sosiohumaniora Nusantara)
Publisher : Yayasan Pengembangan Dan Pemberdayaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62180/gg5gjp58

Abstract

Politik Luar Negeri merupakan sebuah hasil kebijakan yang di dasari oleh kebutuhan nasional sebuah negara. Dalam melaksanakan Politik Luar Negeri Presiden SBY mengedepankan motto ”Thousand friends zero enemy” sehingga dalam pelaksanannya Indonesia di bawah Pemerintahan SBY melakukan berbagai upaya agar terus aktif di dinia Internasional. Hal-hal seperti diplomasi, konferensi, dan kerjasama internasional dilakukan dengan mengedepankan perdamaian. Sehingga Indonesia memiliki wajah baru di dunia internasional sebagai negara yang mengedepankan perdamaian. Isu internasional seperti terorisme dan konflik yang terjadi menjadi sarana pengambilan peran sebagai jembatan bagi negara yang berkonflik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa dan mengobservasi kebijakan luar negeri selama masa jabatan SBY, dengan mempertimbangkan kebijakan nasional dan internasional. Teori liberalisme dan politik luar negeri digunakan untuk mengevaluasi studi ini. Metode kualitatif digunakan untuk melakukan penelitian ini. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kebijakan luar negeri pemerintahan SBY terlalu fokus pada peningkatan citra Indonesia di mata dunia. Oleh karena itu, kebijakan nasional tidak mendapatkan perhatian penuh. Hal ini mempengaruhi penilaian dunia Internasional yaitu, menghasilkan citra Indonesia sebagai negara yang kurang tegas dalam pengambilan keputusan. Kata Kunci: Politik Luar Negeri, SBY, Thousand Friends Zero Enemy
Diplomasi Thailand dalam Upaya Menyelesaikan Konflik Sosial dan Politik Akibat Kudeta Junta Militer di Myanmar Tahun 2021 Ahmad Sabil; Ali Noer Zaman
SABER : Jurnal Teknik Informatika, Sains dan Ilmu Komunikasi Vol. 4 No. 2 (2026): April : Jurnal Teknik Informatika, Sains dan Ilmu Komunikasi
Publisher : STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The military coup in Myanmar in February 2021 triggered a prolonged political crisis that impacted the stability of the Southeast Asian region. This study analyzes the role of Thai diplomacy in responding to and contributing to the resolution of Myanmar's social and political conflict between 2021 and 2024. Using a qualitative approach and descriptive-analytical study, this study examines Thailand's diplomatic steps both bilaterally and multilaterally, particularly within the ASEAN framework. The results show that Thailand played a significant role as a facilitator of dialogue and negotiations with the Myanmar military junta through an approach that prioritized the principles of non-intervention, soft diplomacy, and the interests of regional stability. Thailand was also active in encouraging the implementation of the ASEAN Five-Point Consensus and facilitating informal communication channels that created a space for discussion between the junta and the international community. This study concludes that geopolitical interests, border security, and economic relations influenced Thailand's diplomatic stance and strategy in addressing the Myanmar crisis.