Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Model Pemberdayaan Dan Pengembangan Karir Pada Brigade Mobile (Brimob) Berdasarkan Peraturan Kapolri Nomor 09 Tahun 2016 Tentang Sistem Pembinaan Karir Anggota Polri Wicaksono, Tunggul; Suhartini, Endeh; Nyi Mas Gianti B. Erbiana
Karimah Tauhid Vol. 3 No. 5 (2024): Karimah Tauhid
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v3i5.13163

Abstract

Penempatan anggota, peningkatan kinerja, dan kenaikan kepangkatan kadang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan dan kompetensi dari setiap anggota brimob, hal dapat menyebabkan tidak sesuainya job yang diberikan dengan kemampuan anggota yang ditempatkan. penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tentang Model Pemberdayaan Dan Pengembangan Karir Pada Brigade Mobile (Brimob) Berdasarkan Peraturan Kapolri Nomor 09 Tahun 2016 Tentang Sistem Pembinaan Karir Anggota Polri”. Penelitian ini merupakan penelitian yuridis empiris yaitu penelitian yang dilakukan terhadap gejala hukum yang muncul dari masyarakat, organisasi atau lembaga. Dengan menggunakan pendekatan norma, peraturan perundang-undangan, teori dan doktrin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pemberdayaan dan pengembangan karir pada Brigade Mobile (Brimob) berdasarkan Peraturan Kapolri Nomor 09 Tahun 2016 Tentang Sistem Pembinaan Karir Anggota Polri belum efektif dan belum berdampak pada peningkatan kinerja anggota dan persepsi masyarakat terhadap peran polri dalam menjamin keamanan dan ketertiban dalam negeri. Hambatannya 1) Kurangnya Sumber Daya Manusia (SDM) yang tersedia untuk menempati bidang-bidang pekerjaan tertentu; 2) Kompetensi anggota yang tidak sesuai dengan bidang yang dikerjakan; 3) Rotasi anggota yang tidak rutin yang dilakukan hanya sesuai kebutuhan kerja, dan 4) Daerah penempatan yang jauh dari asal anggota.
Navigating Turbulence: ASEAN’s Leadership Challenges in the Human Rights Violation in Myanmar and South China Sea Dispute Agussalim, Dafri; Wicaksono, Tunggul
JAS (Journal of ASEAN Studies) Vol. 12 No. 1 (2024): Journal of ASEAN Studies
Publisher : Centre for Business and Diplomatic Studies (CBDS) Bina Nusantara University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21512/jas.v12i1.11158

Abstract

The Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) is one of the most rapidly growing regional organizations, significantly influencing the geopolitical landscape of Southeast Asia and beyond. Despite these successes, however, ASEAN currently faces serious challenges in maintaining its unity, solidarity, and cohesiveness. A critical issue is the divergence in views, attitudes, and policies of member countries on crucial political and security matters. This study explores the concept of leadership within the structure of regionalization in the Association of Southeast Asian Nations (ASEAN). The concept is shaped by structural capabilities derived from the region's resource production and manpower, with charisma playing a crucial role in leadership. Based on this concept, this study explores the leadership role in ASEAN's efforts to address current and upcoming issues, particularly about human rights abuses in Myanmar and South China Sea disputes. This study compares Indonesia's leadership within ASEAN to that of other member states using a qualitative comparative case study design. This method investigates how different elements affect the phenomenon that is being studied. A more nuanced understanding of the complex relationships between various variables, including leadership, domestic turmoil, and regional dynamics, can be obtained through the analysis of cases in real-life contexts. The study posits that ASEAN will not be able to uphold its integrity and accelerate the realization of a harmonious ASEAN society in the future without robust leadership. Unlike in its early years, ASEAN today lacks a leader capable of mobilizing political resources to address and resolve collective issues within the organization.
PENGUATAN KETAHANAN KOMUNITAS DESA WISATA TANJUNG MELALUI EDUKASI MITIGASI BENCANA Rahmahwati, Isti Nur; Kuswardini, Seftina; Hasymi, Aditya Maulana; Santoso, Yohanes William; Wicaksono, Tunggul
Jurnal Abdi Insani Vol 13 No 4 (2026): Jurnal Abdi Insani
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v13i4.3782

Abstract

Desa Wisata Tanjung memiliki potensi wisata budaya dan kesehatan tradisional. Wilayah Desa Tanjung terletak menanjung atau menjorok yang mengikuti aliran sungai Opak. Kondisi geografis ini menjadikan desa tersebut berpotensi menghadapi ancaman banjir, khususnya jika curah hujan tinggi. Di samping itu, Desa Tanjung juga menghadapi ancaman bencana alam lainnya seperti erupsi gunung berapi karena lokasinya berada di sekitar 15-20 km dari Gunung Merapi. Edukasi mitigasi bencana diperlukan sebagai dukungan untuk meningkatkan ketahanan komunitas Desa Wisata Tanjung dalam mengatasi bencana alam melalui International Workshop on Strengthening Community Resilience through Disaster Mitigation Education yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan ketahanan masyarakat Desa Wisata Tanjung terhadap berbagai risiko bencana alam. Metode yang digunakan adalah pemaparan materi dan simulasi game. Hasil kegiatan ini adalah edukasi masyarakat terhadap kesiapsiagaan dan ketahanan komunitas dalam menghadapi bencana alam menunjukkan adanya kesadaran dan pemahaman yang baik dalam mitigasi bencana alam khususnya banjir. Melalui simulasi game, para peserta sangat antusias dan koordinasi internal kelompok berjalan secara interaktif. Dari ketiga kelompok yang sudah ditentukan, kelompok police mengumpulkan 72 poin, media sebanyak 70 poin, dan local leader sebanyak 50 poin. Perolehan poin dalam game berkelompok menunjukkan bahwa peran aktif peserta pada kelompok police dalam upaya mitigasi bencana memiliki presentase lebih tinggi sebesar 65% dibandingkan kelompok media dan local leader. Hal ini memperlihatkan bahwa mengambil peran sebagai anggota kepolisian memiliki tanggung jawab yang lebih besar dalam mitigasi bencana dari sebelum, saat, dan setelah terjadinya banjir.