Pengukuran beda tinggi dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu beda tinggi dengan menggunakan Sipat Datar dan beda tinggi menggunakan Total Station atau biasa disebut dengan beda tinggi metode Trigonometri. Pengukuran beda tinggi dengan Sipat Datar lebih teliti dibandingkan dengan metode Trigonometri. Hal ini dikarenakan ketelitian beda tinggi dengan Total Station bergantung pada besaran-besaran yang harus diukur, seperti ketelitian hasil ukuran sudut vertikal, jarak, tinggi instrumen dan tinggi reflektor. Melalui penelitian ini, diharapkan kedepannya pengukuran beda tinggi dengan Total Station dapat menghasilkan beda tinggi dengan ketelitian yang mendekati dengan pengukuran dengan Sipat Datar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari penerapan model koreksi beda tinggi metode Trigomometri yaitu y = 0,000126x+0,0014 terhadap ketelitian penentuan tinggi yang dihasilkan, dengan mengambil kasus jaring pemantau stabilitas Candi Borobudur. Penilitian dilakukan dengan menggunakan data jaring vertikal Sipat Datar Leica SPRINTER-100 Candi Borobudur tahun 2011 dan data jaring vertikal Total Station Nikon DTM-322 Candi Borobudur tahun 2012. Pada jaring vertikal Total Station diberikan model koreksi y= 0,000126x+0,0014. Data diproses menggunakan hitung perataan kuadrat terkecil dengan metode parameter terkendala minimal. Pengujian untuk analisis hasil dilakukan dengan menggunakan Uji Fisher dan Uji-t dengan tingkat kepercayaan 95%. Proses pengujian dilakukan pada varian masing-masing data yang dihasilkan, kemudian dilakukan pengujian tinggi titik yang diestimasi untuk melihat hasil penentuan tinggi dengan Total Station yang dibandingkan dengan Sipat Datar. Hasil dari penerapan model koreksi beda tinggi pada jaring vertikal Total Station Nikon DTM-322 ini bersifat sistematis. Dalam penelitian ini model koreksi tersebut tidak secara signifikan memberikan perubahan pada ketelitian pengukuran tersebut.Kata kunci: jaring vertikal Candi Borobudur, model koreksi beda tinggi, ketelitian tinggiABSTRACTMeasurement of height differences can be obtained by two approaches, that is leveling and trigonometric methods using Total Station. The levelling method is more accurate than trigonometric because the accuracy depends on the precision of the vertical angle, distance, instrumentâs height and reflectorâs height data. In the future, the Total Station measurements expected could provide the accuracy of height differences approach the levelling. This research aims to find out the impact of giving the height difference model corrections using Trigonometric method, that is y = 0,000126x + 0,0014 to the precision and accuracy of the height determination using Total Station at Borobudur vertical monitoring network. Data used in this research are leveling data using Leica SPRINTER-100 of Borobudur network in 2011 and trigonometric leveling data using Nikon DTM-322 Total Station in 2012. Correction Model y = 0,000126x + 0,0014 was given height data of Borobudur network in 2012. The data was processed using least square adjustment with minimum constraint. Statistic test to analyze the result provides using Fisher and student t-test with 95% level of confidence. The test was done in each varian data, then the height test estimation conducted to find the Total Station measurement result compared by levelling. Evaluation result indicated that giving correction using model to height differences measured by TS Nikon DTM-322 can not improve the measurements accuracy, because the correction is systematic evaluation.In this study, the correction model is not significantly change in the measurement accuracy.Keywords: vertical network Borobudur Temple, correction model of height difference, height accuracyÂ