Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Konsumsi Kafein Pada Pasien Migrain Tamara, Filipo David
Health Information : Jurnal Penelitian Content Digitized
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Migrain merupakan keadaan yang ditandai dengan episode sakit kepala sedang hingga berat, biasanya unilateral, mual dan muntah, serta berkaitan dengan peningkatan kepekaan terhadap cahaya dan suara. Faktor risiko migrain berupa genetik, stres, perubahan hormon, ovulasi, kehamilan, alkohol, merokok dan kurang tidur. Kafein dosis yang sesuai diketahui dapat digunakan sebagai terapi adjuvan dalam pengobatan migrain dengan mekanisme kerjanya yang kompleks. Sebaliknya apabila kafein dikonsumsi dalam jumlah berlebihan dan dalam waktu yang lama, kemudian berhenti makan dapat menyebabkan terjadinya migrain. Sumber literatur yang digunakan yaitu Pubmed, Google scholar, Medline, Ebsco, Hindawi, Science direct dan Cochrane. Setelah ditemukan berbagai literatur yang sesuai maka penulisan literatur dimulai. Kafein terdapat dalam berbagai macam produk, salah satunya adalah kopi. Kafein dengan dosis yang tepat yaitu sekitar 50 – 100 mg dapat digunakan sebagai terapi dalam mengobati migrain sesuai dengan mekanisme kerjanya. Withdrawal kafein yang terjadi dalam 24 jam setelah konsumsi kafein reguler lebih dari 200 mg/hari selama 2 minggu merupakan salah satu faktor risiko terjadinya migraine. Hal ini menunjukan bahwa kafein dapat berguna untuk terapi migrain, tetapi juga dapat menjadi pemicu migrain. Migrain merupakan keadaan sakit kepala yang kompleks dengan faktor risiko dan tanda gejalanya. Penggunaan kafein telah diketahui dapat berfungsi sebagai terapi migrain tetapi apabila dikonsumsi dalam jumlah yang tidak sesuai maka dapat menyebabkan terjadinya migrain.
Hubungan Konsumsi Antiplatelet Dengan Kejadian Perdarahan Intrakranial Tamara, Filipo David
Health Information : Jurnal Penelitian Content Digitized
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Terapi antiplatelet semakin sering digunakan terapi pencegahan sekunder penyakit kardiovaskular dan mengurangi risiko kejadian iskemik berulang. Penggunaan antiplatelet sering dikaitkan dengan risiko terjadinya perdarahan intrakranial. Perdarahan intrakranial merupakan perdarahan yang terjadi di dalam kranium, terbagi atas beberapa jenis dengan karakteristik yang berbeda-beda. Pendapat mengenai peningkatan risiko perdarahan intrakranial yang diakibatkan oleh terapi antiplatelet tidak sepenuhnya disetujui oleh para peneliti. Faktor risiko lainnya seperti usia lanjut dianggap lebih berisiko dalam terjadinya perdarahan intrakranial. Sumber literatur yang digunakan yaitu Pubmed, Google scholar, Medline, Ebsco, Hindawi, Science direct dan Cochrane. Setelah ditemukan berbagai literatur yang sesuai maka penulisan literatur dimulai. Obat-obatan antiplatelet digunakan sebagai terapi pencegahan sekunder penyakit kardiovaskular dan mengurangi risiko terjadinya kejadian iskemik berulang. Penggunaan antiplatelet dianggap sebagai faktor risiko terjadinya perdarahan intrakranial bagi pasien yang mengalami trauma maupun nontraumatik. Pendapat ini belum sepenuhnya disetujui oleh para peneliti. Berdasarkan penelusuran literatur yang telah dilakukan, maka penggunaan antiplatelet diketahui tidak berhubungan dengan terjadinya perdarahan intrakranial baik yang disebabkan oleh trauma maupun nontraumatik. Perdarahan intrakranial merupakan suatu keadaan dengan proses patologis yang kompleks. Perdarahan intrakranial diketahui tidak berhubungan dengan penggunaan antiplatelet.