Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh Variasi Waktu Fiksasi Sediaan Apusan Darah Tepi pada Pewarnaan Giemsa terhadap Morfologi Sel Darah Merah Triyani, Puput; Arfa Izzati
Health Information : Jurnal Penelitian Content Digitized
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sediaan Apus Darah Tepi (SADT) merupakan slide yang salah satu permukaannya dilapisi lapisan darah tipis, difiksasi menggunakan methanol (methyl alkohol) dan diwarnai dengan pengecatan giemsa atau wright. Methanol yang baik digunakan untuk fiksasi memiliki kandungan air kurang dari 3% dengan konsentrasi larutan 96%. Methanol yang dibiarkan terlalu lama terbuka akan menguap dan mengalami penurunan konsentrasi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat adanya pengaruh dari variasi waktu fiksasi SADT pada pewarnaan giemsa terhadap morfologi sel darah merah. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen. Penelitian eksperimen dengan jumlah sampel 24 dalam bentuk sediaaan apusan darah tepi dibagi 4 berdasarkan variasi  waktu fiksasi yaitu 3 menit, 5 menit, 10 menit, dan 15 menit. Waktu fiksasi 3 menit menunjukan morfologi sel darah merah pada preparat dalam kondisi baik 100%, pada waktu 5 menit hasil krenasi sedang menjadi 16,7%, pada waktu 10 menit hasil krenasi sedang menjadi 50,0%, pada waktu 15 menit hasil krenasi sedang menjadi 83,3%. Hasil penelitian menunjukan waktu yang tepat untuk fiksasi pada waktu 3 menit. Hasil uji statistik Chi Square didapatkan nilai signifikan (P value) 0,015 (<0,05) sehingga dapat dinyatakan bahwa   terdapat pengaruh yang jelas terhadap hasil mikroskopis bentuk sel darah merah dengan variasi waktu pada proses fiksasi sediaan apusan darah tepi.
Analisis Pengaruh Transfusi Darah terhadap Kadar Feritin pada Pasien Thalasemia Mayor di RSUD Al Ihsan Riki Tria wahyuda; Arfa Izzati
Jurnal Riset Sains dan Kesehatan Indonesia Vol. 2 No. 4 (2025): Jul-Agu
Publisher : CV. Science Tech Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69930/jrski.v2i4.497

Abstract

Thalasemia mayor adalah kelainan genetik yang menyebabkan anemia berat sehingga membutuhkan transfusi darah rutin. Terapi transfusi berulang dapat menimbulkan iron overload, yang dipantau melalui kadar feritin serum. Menganalisis hubungan antara transfusi darah dan kadar feritin sebelum serta sesudah transfusi pada pasien thalasemia mayor berusia <20 tahun di RSUD Al Ihsan. Penelitian ini merupakan studi deskriptif analitik dengan desain cross-sectional. Sampel terdiri dari 30 pasien thalasemia mayor yang menjalani pemeriksaan feritin pada periode 2024–2025. Pemeriksaan feritin dilakukan menggunakan metode ELFA (VIDAS). Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat dengan uji korelasi Pearson. Rata-rata kadar feritin pada kelompok usia <5 tahun meningkat dari 2.293,17 menjadi 2.845 ng/mL. Pada kelompok usia 5–10 tahun dan >10 tahun, kadar feritin menunjukkan penurunan setelah transfusi. Hasil uji Pearson menunjukkan korelasi positif signifikan antara kadar feritin sebelum dan sesudah transfusi (r = 0,657; p = 0,000). Terdapat hubungan bermakna antara kadar feritin sebelum dan sesudah transfusi darah. Pemantauan kadar feritin secara berkala dan kepatuhan terapi kelasi besi sangat penting untuk mencegah komplikasi iron overload.