Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

The Implementation of Mosque-Based Islamic Education Programs in Schools Moch. Bachrurrosyady , Amrulloh; Ariyanti, Annisa
Journal of Education and Religious Studies Vol. 3 No. 02 (2023): Education, Pesantren and Culture Society
Publisher : Academia Publication

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57060/jers.v3i02.88

Abstract

In today’s era, many children face challenges, including a declining interest in attending mosques and participating in mosque-related activities. Addressing this issue requires the collective effort of the government, parents, educators, the community, and other stakeholders. Schools, as key educational institutions, play a crucial role in instilling and applying religious values in children. Parents aspire for their children to be intelligent, pious, memorizing the Quran (hafidz), and deeply connected to the mosque. This aspiration inspired Laznas Nurul Hayat and the Khairunnas Education Foundation to introduce an innovative program: “School in the Mosque.” This study aimed to analyze the implementation of the mosque-based Islamic education program at SD Khairunnas 2 Surabaya and to identify the supporting and inhibiting factors affecting its execution. The study was conducted using a qualitative descriptive approach, utilizing observations, interviews, and documentation for data collection. Data analysis followed the Miles & Huberman model. Findings of this study indicated that the Khairunnas Education Foundation, established by LAZNAS Nurul Hayat in 2018 in Surabaya, is dedicated to enhancing education in Indonesia across various levels, from early childhood (KB-TK) to higher education (KEPQ). One of its key initiatives is SD Khairunnas 2 Surabaya, which has successfully implemented a mosque-based Islamic education program in collaboration with As-Shobirin Mosque and Al-Haq Mosque. The implementation of this program is influenced by four key factors: (1) communication, (2) resources, (3) disposition, and (4) bureaucratic structure.
Analisis Kerjasama UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta Kota Bukittinggi Dengan Lembaga Informasi Afrina, Cut -; Syafrinal S, Syafrinal S; Annisa, Annisa; Ariyanti, Annisa; Aulia Rahma, Arini; Nazira, Hanifa; Yuli Yanti, Fivi
Tik Ilmeu : Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol. 7 No. 2 (2023)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Curup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29240/tik.v7i2.8300

Abstract

This research uses descriptive qualitative methods with a field research approach. This study aims to examine the phenomenon of institutional cooperation in the information field at the Hatta Proclamation Library in Bukittinggi City. The research methods used were direct interviews with related parties and primary data collection. The results of this study will provide a detailed picture of the collaboration carried out by UPT Proclamation Library Hatta with information institutions. Based on this research, it can be concluded that institutional cooperation in the field of information at the Hatta Proclamation Library in Bukittinggi City has been carried out through collaboration with other information institutions. This collaboration is carried out with the aim of helping others and achieving specified goals. Descriptive qualitative research methods are used to examine this phenomenon of cooperation holistically and describe the characteristics of the activities carried out. The results of this study are expected to provide a deeper understanding of institutional cooperation in the field of information.
KONSEP ISLAMIC PARENTING DALAM SURAH LUQMAN PERSPEKTIF PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (Studi Fenomenologi Pengasuh Pondok Pesantren Sirojul Haromain Pongangan) Ariyanti, Annisa
Al Iman: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan Vol. 9 No. 2 (2025): Al-Iman Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan
Publisher : STID Raudlatul Iman Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pesantren adalah sebuah pendidikan tradisional yang para siswanya tinggal bersama dan belajar di bawah bimbingan guru yang lebih dikenal dengan sebutan ustaz dan mempunyai asrama untuk tempat menginap santri. Santri tersebut berada dalam kompleks yang juga menyediakan masjid untuk beribadah, ruang untuk belajar, dan kegiatan keagamaan lainnya dengan peraturan yang ada. Peraturan pesantren umumnya adalah untuk mendisiplinkan anak santri agar bisa membagi waktunya dengan baik dan agar tidak menyia-nyiakan waktu yang kosong untuk hal yang tidak berguna. Menurut Wahab (2004) penting adanya peran pengasuh dalam pesantren terkait bagaimana cara parenting atau pola asuh yang diterapkan kepada para santri. Seperti merujuk pada Al-Qur’an surah Luqman yang mengisahkan tentang pendidikan Luqman terhadap anaknya. Penelitian ini membahas lebih jauh tentang pola asuh (parenting) dalam islam, khususnya dalam persfektif surah Luqman. Yang mana proses pendidikan dan pola asuh terhadap anak sudah dirumuskan ketika surah Luqman ini diturunkan jauh sebelum munculnya teori-teori parenting yang dirumuskan oleh tokoh psikologi modern. Berdasarkan hasil wawancara dengan responden, ditemukan bahwa Islamic parenting didasarkan pada prinsip-prinsip tauhid (keesaan Allah), akhlak, serta tanggung jawab pengasuh dan pengurus dalam membimbing santri sesuai dengan ajaran Al-Qur'an dan Sunnah. Para pengurus yang diwawancarai memahami bahwa mendidik santri adalah amanah besar yang diberikan oleh Allah SWT, dan pengurus memiliki tanggung jawab untuk menanamkan nilai-nilai agama sejak santri dititipkan ke pondok. Berdasarkan hasil penelitian ini menyimpulkan, bahwa pondok pesantren sirojul haromain telah melakukan pengasuhan santri dengan baik melalui upaya pembimbingan dan pengawasan santri secara terus menerus dengan fenomena yang di terlihat dari parenting oleh pengasuh pondok sirojul haromain yaitu KH. Umar thoha agar santri dapat mengikuti kebijakan dan peraturan pesantren. Bentuk komunikasi yang dibangun dengan baik di pondok pesantren sirojul haromain adalah komunikasi antara pengasuh dengan orangtua santri, pengasuh dengan santri, musrifah dengan santri, santri senior dengan santri junior. Komunikasi dan kerjasama antara guru, orangtua dan pihak-pihak terkait telah dilakukan terutama dalam mengawal perkembangan santri dalam menuntut ilmu, dan keberadaan santri di asrama. Pada prinsipnya kehidupan di pesantren sangat dinamis, bisa dilihat pada saat berinteraksi antara kyai, ustaz/h, dan santri/i yang mampu memposisikan sesuai dengan porsi dan fungsinya masing-masing.
KONSEP ISLAMIC PARENTING DALAM SURAH LUQMAN PERSPEKTIF PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (Studi Fenomenologi Pengasuh Pondok Pesantren Sirojul Haromain Pongangan) Ariyanti, Annisa
Al Iman: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan Vol. 9 No. 2 (2025): Al-Iman Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan
Publisher : STID Raudlatul Iman Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pesantren adalah sebuah pendidikan tradisional yang para siswanya tinggal bersama dan belajar di bawah bimbingan guru yang lebih dikenal dengan sebutan ustaz dan mempunyai asrama untuk tempat menginap santri. Santri tersebut berada dalam kompleks yang juga menyediakan masjid untuk beribadah, ruang untuk belajar, dan kegiatan keagamaan lainnya dengan peraturan yang ada. Peraturan pesantren umumnya adalah untuk mendisiplinkan anak santri agar bisa membagi waktunya dengan baik dan agar tidak menyia-nyiakan waktu yang kosong untuk hal yang tidak berguna. Menurut Wahab (2004) penting adanya peran pengasuh dalam pesantren terkait bagaimana cara parenting atau pola asuh yang diterapkan kepada para santri. Seperti merujuk pada Al-Qur’an surah Luqman yang mengisahkan tentang pendidikan Luqman terhadap anaknya. Penelitian ini membahas lebih jauh tentang pola asuh (parenting) dalam islam, khususnya dalam persfektif surah Luqman. Yang mana proses pendidikan dan pola asuh terhadap anak sudah dirumuskan ketika surah Luqman ini diturunkan jauh sebelum munculnya teori-teori parenting yang dirumuskan oleh tokoh psikologi modern. Berdasarkan hasil wawancara dengan responden, ditemukan bahwa Islamic parenting didasarkan pada prinsip-prinsip tauhid (keesaan Allah), akhlak, serta tanggung jawab pengasuh dan pengurus dalam membimbing santri sesuai dengan ajaran Al-Qur'an dan Sunnah. Para pengurus yang diwawancarai memahami bahwa mendidik santri adalah amanah besar yang diberikan oleh Allah SWT, dan pengurus memiliki tanggung jawab untuk menanamkan nilai-nilai agama sejak santri dititipkan ke pondok. Berdasarkan hasil penelitian ini menyimpulkan, bahwa pondok pesantren sirojul haromain telah melakukan pengasuhan santri dengan baik melalui upaya pembimbingan dan pengawasan santri secara terus menerus dengan fenomena yang di terlihat dari parenting oleh pengasuh pondok sirojul haromain yaitu KH. Umar thoha agar santri dapat mengikuti kebijakan dan peraturan pesantren. Bentuk komunikasi yang dibangun dengan baik di pondok pesantren sirojul haromain adalah komunikasi antara pengasuh dengan orangtua santri, pengasuh dengan santri, musrifah dengan santri, santri senior dengan santri junior. Komunikasi dan kerjasama antara guru, orangtua dan pihak-pihak terkait telah dilakukan terutama dalam mengawal perkembangan santri dalam menuntut ilmu, dan keberadaan santri di asrama. Pada prinsipnya kehidupan di pesantren sangat dinamis, bisa dilihat pada saat berinteraksi antara kyai, ustaz/h, dan santri/i yang mampu memposisikan sesuai dengan porsi dan fungsinya masing-masing.