Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KARAKTERISTIK DEMOGRAFI PASIEN SKIZOFRENIA RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT JIWA DR. SOEHARTO HEERDJAN PERIODE 2022 Putri, Zalfa Hemilda; Evi, Evi
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol. 7 No. 2 (2023): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v7i2.23808

Abstract

Schizophrenia is a chronic mental disorder characterized by disturbances in consciousness, emotion, perception, thinking, and behavior changes. Schizophrenia affects around 24 million people or 1 in 300 people in the world based on data from the World Health Organization (WHO). Schizophrenic patients are 2-3 times more likely to die early in the general population. This study was a retrospective descriptive study conducted at the Dr. Soeharto Heerdjan Mental Hospital using patients’ medical records from 2022. The characteristics observed consisted of gender, age, marital status, occupation, type of schizophrenia, clinic visit, guarantor, and patients’ origin. The results of this study show the characteristic patients that schizophrenic at the hospital in 2022 are mostly men by 67,2%. Most patients are 18-60 years old by 92,6%, and the marital status of most patients is not married by 64,7%. Unspecificied schizophrenia is the most type of schizophrenia by 52%. Most patients visit through the hospital’s emergency room by 84,8%, with BPJS as the guarantor by 79,9%, and most of them are from Banten province by 40,5%. Keywords: characteristic demographic; schizophrenia; outpatient Abstrak Skizofrenia merupakan gangguan jiwa kronik yang ditandai dengan gangguan dalam kesadaran, emosi, persepsi, pemikiran, dan perubahaan perilaku. Skizofrenia menyerang sekitar 24 juta penduduk atau 1 dari 300 orang di dunia berdasarkan data dari World Health Organization (WHO). Pasien skizofrenia lebih rentan 2-3 kali untuk meninggal lebih awal dalam populasi secara general. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif yang dilaksanakan di Rumah Sakit Jiwa Dr. Soeharto Heerdjan dengan menggunakan rekam medis pasien pada tahun 2022. Karakteristik yang dilihat terdiri dari jenis kelamin, usia, status pernikahan, pekerjaan, tipe skizofrenia, klinik kunjungan, penjamin, dan asal pasien. Hasil dari penelitian pada pasien skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Dr. Soeharto Heerdjan periode 2022 menunjukan bahwa karakteristik pasien yang terkena skizofrenia laki-laki sebesar 67,2%. Kelompok umur terbanyak pasien adalah 18-60 tahun sebesar 92,6% dan status pernikahan pasien terbanyak adalah belum menikah sebesar 64,7%. Jenis skizofrenia terbanyak adalah tipe skizofrenia tak tergolongkan sebesar 52%. Klinik kunjungan terbanyak pasien adalah IGD sebesar 84,8%, dengan penjamin BPJS sebesar 79,9%, dan asal pasien terbanyak adalah dari Banten sebesar 40,5%.
Peningkatan Pengetahuan Tuberkulosis dan Demonstrasi Upaya Mengatasi Jumlah Kasus Tuberkulosis Paru di Desa Bojong, Wilayah Kerja Puskesmas Cikupa, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Cikupa, Provinsi Banten Assyifa, Amelia; Atzmardina, Zita; Putri, Zalfa Hemilda; Letius, Fairuz Zefiro; Fadillah, Salsabila Rahma
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 3 (2026): Volume 8 Nomor 3 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i3.24539

Abstract

ABSTRACT Tuberculosis (TB) is an infectious disease caused by Mycobacterium tuberculosis and remains a major public health concern in Indonesia. In 2023, an estimated 1.090.000 cases were reported, equivalent to 387 from 100.000 population, with more than one million cases and approximately 125.000 deaths occurring annually. Similar trends are observed in the working area of the Cikupa Primary Health Center, where TB case numbers have fluctuated since 2022. Recorded cases include 217 cases in 2022, 190 cases in 2023, 193 cases in 2024, and 124 cases from January to July 2025. This study aims to identify the root causes behind the increase in TB cases and to design effective interventions to improve community knowledge and TB prevention. The methods used in this study included problem identification using the Blum Paradigm, determining priority problems with the Urgency, Seriousness, Growth (USG) scoring technique and the non-scoring Delphi method, and conducting root cause analysis using a fishbone diagram and 5 Whys approach. In addition, health education interventions were carried out, including counseling and demonstrations of clean and healthy behaviors such as proper coughing and sneezing etiquette and handwashing. The evaluation results based on pre-test and post-test assessments and monitoring using the Plan–Do–Check–Act (PDCA) cycle showed that limited community knowledge about TB symptoms, transmission, diagnostic procedures, treatment, and prevention was a major factor contributing to fluctuating TB cases. In one of the intervention areas, Bojong Village, 23 participants (60.53%) showed an improvement of ≥20 points between their pre-test and post-test scores, and 34 participants (89.47%) achieved post-test scores above 70. Several participants were also able to correctly demonstrate clean and healthy behaviors. In conclusion, health education on TB symptoms, transmission, diagnosis, treatment, and prevention combined with demonstrations of clean and healthy practices proved effective in improving community knowledge and awareness in the effort to control TB. This intervention is expected to contribute to reducing new TB cases in the Cikupa Primary Health Center working area. Keywords : Tuberculosis, Health Education, Blum Paradigm.  ABSTRAK Tuberkulosis merupakan salah satu penyakit menular akibat Mycobacterium Tuberculosis yang menjadi perhatian dalam masalah kesehatan di Indonesia dimana pada tahun 2023 diperkirakan 1.090.000 atau 387 per 100.000 penduduk dengan lebih dari 1 juta kasus dan 125.000 terjadi kematian setiap tahunnya, termasuk di Wilayah Kerja Puskesmas Cikupa terjadi penyebaran kasus Tuberkulosis secara fluktuatif sejak tahun 2022 hingga 2025 tercatat sejak tahun 2022 sebanyak 217 kasus, tahun 2023 sebanyak 190 kasus, tahun 2024 sebanyak 193 kasus, dan Januari hingga Juli 2025 sebanyak 124 kasus. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi akar masalah penyebab terjadinya peningkatan kasus Tuberkulosis serta merancang intervensi yang efektif dalam meningkatkan pengetahuan serta pencegahan Tuberkulosis pada masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi identifikasi masalah menggunakan Paradigma Blum, menentukan prioritas masalah menggunakan teknik skoring urgency, seriousness, growth (USG) dan non skoring Delphi, analisis akar masalah dengan diagram fishbone dan 5 whys. Selain itu, dilakukan juga edukasi kesehatan berupa intervensi penyuluhan dan demonstrasi perilaku hidup bersih dan sehat mencakup etika batuk dan bersin serta cuci tangan. Hasilnya dari evaluasi berupa pre-test dan post-test serta pemantauan dengan Plan, Do, Check, Act (PDCA) menunjukkan kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai gejala, transmisi, pemeriksaan, pengobatan dan pencegahan Tuberkulosis yang menjadi faktor utama fluktuasi kasus Tuberkulosis. Intervensi yang dilakukan pada salah satu Wilayah Kerja Puskesmas Cikupa, yakni Desa Bojong didapatkan 23 responden (60,53%) yang mengalami kenaikan skor ≥20 poin dari nilai pre-test ke post-test dan 34 responden (89,47%) memperoleh nilai post-test 70, serta beberapa peserta mampu mendemonstrasikan ulang praktik perilaku hidup bersih dan sehat. Kesimpulan yang didapatkan, penyuluhan Tuberkulosis terkait gejala, transmisi, pemeriksaan, pengobatan dan pencegahan serta demonstrasi perilaku hidup bersih dan sehat terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan kewaspadaan masyarakat dalam upaya pengendalian Tuberkulosis. Intervensi ini diharapkan dapat berkontribusi terhadap penurunan kasus baru Tuberkulosis di Wilayah Kerja Puskesmas Cikupa. Kata Kunci: Tuberkulosis, Edukasi Kesehatan, Paradigma Blum.