Puspitosari, Warih Andan
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Terapi Kognitif dan Perilaku pada Gangguan Obsesif Kompulsif Puspitosari, Warih Andan
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 2 (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The prevalence of Obsessive Compulsive Disorder about 2-3%, mostly happened on male teenagers. The causes are multifactors including biological, behavior and psychosocial factor, so the treatment needs farmacotherapy and psychotherapy. The combination of SRI (Serotonin Reuptake Inhibitor) and Cognitive Behavioral Therapy is the first choice to manage Obsessive Compulsive disorder. The aim of this case report is to reporting the treatment of Obsessive Compulsive disorder by using the combination of SRI and Cognitive Behavioral Therapy. A patient, male, 18th years old was brought by his mother to the Psychiatry outpatient department for doing something repeatedly. It was annoyed him and other person. The mental status examination showed that he always thought repeatedly and did something, so that he will felt released. His neurological and psysical status were within normal limite. After he was treated with the combination of SRI and Cognitive Behavioral Therapy for 5 sessions, he is getting better.Prevalensi Gangguan ObsesifKompulsif berkisar antara 2-3% populasi, pada remaja lebih banyak terjadi pada laki-laki. Penyebabnya multifaktorial meliputi faktor biologi, perilaku dan psikososial, sehingga penatalaksanaannya memerlukan farmakoterapi dan psikoterapi. Kombinasi antara golongan SRI (Serotonin Reuptake Inhibitor) dan terapi kognitif perilaku merupakan pilihan pertama. Terapi kognitif perilaku memerlukan sedikitnya 12 sesi pertemuan, berdasarkan pengalaman praktek yang terjadi di Indonesia, sulit dilakukan karena terlalu lama, rumit, dan faktor biaya. Dicoba modifikasi untuk menyingkat menjadi 5 sesi terapi. Tujuan penulisan laporan kasus ini adalah melaporkan hasil penatalaksanaan penderita Gangguan Obsesif Kompulsif dengan menggunakan kombinasi antara golongan SRI (Serotonin Reuptake Inhibitor) dan terapi kognitif perilaku modifikasi 5 sesi. Seorang pasien, laki-laki, berusia 18 tahun diantar oleh ibunya ke poliklinik jiwa karena sering mengulang-ulang suatu perbuatan, yang sudah mengganggu pasien dan orang lain. Pemeriksaan status mental didapatkan adanya pikiran berulang yang mengganggu dan harus dikerjakan agar merasa lega. Pada status internus dan status neurologikus belum ditemukan adanya kelainan. Setelah dilakukan penatalaksanaan dengan menggunakan kombinasi antara golongan SRI (Serotonin Reuptake Inhibitor) dan terapi kognitif perilaku modifikasi 5 sesi, pasien mengalami perbaikan gejala klinis.
Tinjauan Keluarga tentang Tempat Terakhir Perawatan pada Pasien di Saat Terakhir Kehidupan Puspitosari, Warih Andan
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 3, No 2 (2003)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lebih dari seabad yang lalu, perawatan di rumah dan rumah sakit meningkat menjadi tempat kematian, walaupun demikian belum ada penelitian secara nasional yang mengamati kecukupan atau kualitas perawatan pasien stadium terminal di institusi kesehatan dibandingkan dengan perawatan di rumah.
Perbandingan Tingkat Kecemasan Ibu Menyusui Bekerja dan Tidak Bekerja Puspitosari, Warih Andan; Prasetya, Andhika Bintang
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7, No 2 (s) (2007)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anxiety is dependence, uncomforting feel, appear apprehensive, because something sense of unhappy feeling, but the most source cannot know and the cause is from inside. The women who has breastfeeding is more easy to feel anxiety, this problem cause by hormonal and environment factor. The aim of this research is to be able compare of anxiety levels from breastfeeding mother which occupation and breastfeeding mother which inoccupation. The research was accomplished in Posyandu on Dukuh Sidorejo, Ngestiharjo from February until May 2008 with use cross sectional method. The total sample in this research is 68 respondents with age between 17-40 years old. The data analysis using t-test paired sample. The results of this research showed that breastfeeding mother which occupation, mean value of anxiety level is 17,09, even though breastfeeding mother which inoccupation, mean value of anxiety level is 15,76, so the difference is 1,324. The value result acquire t count is 1,619 and a = 0,05 with probability 0,115. Because the probability 0,115 > 0,05 therefore Ho accepted so can be made the conclusion that the compare of anxiety level from breastfeeding mother which occupation and breastfeeding mother which inoccupation is relative same.Kecemasan adalah ketergantungan, rasa tidak aman dan kekhawatiran yang timbul, karena dirasakan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan, tetapi sumbernya sebagian besar tidak diketahui dan berasal dari dalam. Wanita yang sedang menyusui lebih rentan dengan gejala kecemasan, hal itu karena didominasi oleh faktor lingkungan dan hormonal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan tingkat kecemasan pada ibu yang menyusui dengan membandingkan ibu yang menyusui dengan bekerja dan ibu menyusui yang tidak bekerja. Penelitian dilakukan di Posyandu yang berada di Dukuh Sidorejo, Ngestiharjo selama bulan Februari sampai bulan Mei 2008 dengan menggunakan metode cross sectional. Sampel pada penelitian ini berjumlah 68 responden dengan rentang usia 17- 40 tahun. Analisis data menggunakan uji t-test paired sample. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa ibu menyusui yang bekerja memiliki rata-rata nilai tingkat kecemasan 17,09, sedangkan yang tidak bekerja memiliki nilai tingkat kecemasan 15,76, jadi perbedaan meannya 1,324. Didapatkan hasil nilai t hitung adalah 1,619 dan a=0,05 dengan probabilitas 0,115. Karena probabilitas 0,115 > 0,05, maka Ho diterima sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa perbandingan tingkat kecemasan pada ibu menyusui yang bekerja maupun yang tidak bekerja adalah relatif sama.