Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Kepribadian Tokoh Utama Dalam Novel al-Ajnihah al-Mutakassirah Karya Kahlil Gibran: Kajian Psikologi Sastra Wahida, Mizatul; ., Mashyur; Sumarna, Luqman
Kitabina: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 1 No 1 (2020): Kitabina: Jurnal Bahasa & Sastra
Publisher : Program Studi Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab dan Humaniora UIN Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.801 KB) | DOI: 10.19109/kitabina.v1i1.7393

Abstract

Salah satu bentuk karya sastra adalah novel. Menurut paham genetik, novel sebagai sebuah teks merupakan ekspresi menyeluruh dari pribadi pengarang dan latar belakang budaya nya. Keduanya mencakup banyak hal antara lain kepribadian penulis, kondisi psikologi, selera, keterampilan, kondisi sosial, pengalaman, kemampuan, dan berbagai peristiwa disekitarnya. Novel merupakan medium bagi seorang penulis untuk mencurahkan gagasannya berdasarkan struktur mental trans-individual dari anggota masyarakat tempat dia hidup. Novel ini dipilih untuk diteliti karena memiliki nilai sastra yang tinggi yaitu memiliki nilai estetika dan makna yang dalam. Novel al-Ajnihah al-Mutakassirah merupakan novel best seller Kahlil Gibran karena novel tersebut merupakan novel perdana yang diterjemahkan hampir keseluruh bahasa di dunia. Novel ini lahir karena terinspirasi dari sebuah kisah cinta Gibran yang menggetarkan, menarik dan mengesankan namun berakhir tragis bersama seorang gadis yang dicintainya yang bernama Selma.Bagi Gibran, cinta adalah standing in (bertahan di dalam). Itu berarti cinta lebih pada sebuah tindakan aktif yang bersifat memberi ketimbang menerima. Selain elegi cinta yang sangat mengharukan, Gibran juga menyelipkan pandangannya mengenai berbagai masalah yang berkaitan dengan nasib perempuan, penindasan, ketidakadilan, dan korupsi yang terjadi di Lebanon. Pengaruh dari novel al-Ajnihah al-Mutakassirah yang ditulis oleh Kahlil Gibran ini terasa sangat besar di dunia Arab, karena di sini untuk pertama kalinya wanita-wanita Arab yang dinomorduakan mempunyai kesempatan untuk berbicara bahwa mereka adalah istri yang memiliki hak untuk memprotes struktur kekuasaan yang diatur dalam perkawinan.