Idiopathic atrophie blanche (AB) is a rare case, mostly represent associ-ated with systemic diseases, as secondary AB. Frequency of AB in the general population is 1-5%.A woman, 41 years old was complaint red spots, painful lesion, with white spot and black on the surrounding area and feel since V/2 years ago. There are non palpable purpuric, painful lesion, ulcerate, heal with small and atrophie white scar with hyperpigmentation on the surrounding areas on her lower legs. The biopsy result shows thickening vessels, fibrinoid degeneration with thrombosis, limphocyte infiltrate and extravasation of erythrocyte. Others physical and laboratory examination from blood, routine urinalysis and feces show a normal results besides APTT and PTT that longer result.Diagnose of idiopathic or primary AB performs if no underlying sys¬temic diseases, so needs completely clinical and laboratory examination. In this case, diagnosis of AB based on the anamnesis, physical examination and biopsy result. From laboratory examination such as routine blood, urinalysis and feces test, liver and renal function test, glucose, electrolyte, cholesterol, protein, ASTO, rheuma factor, LE cells show good result. APTT and PTT show a longer than normal. Diagnose of idiopathic AB needs more laboratory examination, but the patient refused.Atrophie blanche (AB) idiopatik merupakan kasus yang jarang ditemukan. Gambaran AB lebih sering disebabkan penyakit sistemik sebagai AB sekunder. Frekuensi AB pada populasi umum 1-5%.Seorang wanita, 41 tahun, datang dengan bercak kemerahan, nyeri, berlanjut menjadi bercak putih dikelilingi kehitaman pada kedua tungkai bawah, sudah berlangsung IV2 tahun. Pada kedua tungkai bawah tampak purpura non palpabel, multipel, ulserasi, dan atropi hipopigmentasi dengan begian tepi hiperpigmentasi. Hasil biopsi tampak penebalan pembuluh darah, degenerasi fibrinoid, trombosis, infiltrat limfosit dan ekstravasasi eritrosit. Hasil pemeriksaan fisik lainnya dan pemeriksaaan darah, urin dan feces dalam batas normal, kecuali pemanjangan APTT dan PIT.Diagnosis AB idiopatik atau primer ditegakkan apabila tidak ditemukan kelainan sistemik yang mendasari, sehingga perlu pemeriksaan klinis dan laboratorium selengkap mungkin. Berdasar anamnesis, pemeriksaan klinis dan biopsi ditegakkan diagnosis AB. Pelacakan kemungkinan kelainan sistemik yang mendasari AB dengan pemeriksaan darah, urin dan feces rutin, tes fungsi hati dan ginjal, gula darah, elektrolit darah, kimia darah, ASTO, rheuma factor dan sel LE dengan hasil dalam batas normal. Pemeriksaan faktor pembekuan darah menunjukkan APTT dan PTT sedikit memanjang. Penegakan diagnosis AB idiopatik masih memerlukan lebih banyak pemeriksaan, namun penderita keberatan.