Dewi, Gusti Ayu Arya Prima
Unknown Affiliation

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

URGENSI IMPLEMENTASI PERJANJIAN PRA NIKAH DITINJAU DARI HUKUM NASIONAL INDONESIA Devari, Made Kharisma Yona; Dewi, Gusti Ayu Arya Prima
Kertha Wicara : Journal Ilmu Hukum Vol 13 No 05 (2024)
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/KW.2024.v13.i5.p1

Abstract

Penulisan penelitian ilmiah ini memiliki tujuan demi mengetahui tentang urgensi dalam pengimplementasian perjanjian pra nikah yang sudah diatur dalam hukum nasional di Indonesia, serta perlindungan hukum terhadap para pihak dalam penerapan perjanjian pra nikah. Penelitian karya ilmiah ini dapat dimasukkan sebagai penelitian hukum normatif dengan menggunakan suatu pendekatan terhadap peraturan perundang-undangan. Kesimpulan dari penelitian ilmiah ini menyatakan bahwa sudah secara ekspilisit mengatur mengenai perjanjian pra nikah serta perlindungan hukum terhadap para pihak, sebagaimana sudah diatur dalam Undang-Undang Tentang Perkawinan, KUHPerdata. Perjanjian pra nikah dapat dijadikan suatu perlindungan terhadap para pihak terkait adanya wanprestasi. Perjanjian ini dapat menjadi pertimbangan sebagai awal dari pernikahan terutama terkait harta benda, serta hak dan kewajiban para pihak. Penting bahwasannya bagi masyarakat yang masih tabu untuk memahami pentingnya implementasi serta perlindungan hukum dari perjanjian pra nikah. Kata kunci: Urgensi Pengimplementasian, Perlindungan Hukum, Perjanjian Pra Nikah. ABSTRACT The purpose of writing this scientific research is to discover the urgency of implementing pre-nuptial agreements, which are regulated by national law in Indonesia, as well as how legal prtection is for the parties in implementing pre-nuptial agreements and legal protection for the parties, as regulated in the Law on Marraige, the Civil Code. A pre-nuptial agreement can be used as protection for the parties in the event of daefault. This agreement can be considered as the beginning of a marriage, especially regarding property, as well as the rights and obligations of the parties. It is crucial for people who are still taboo to understand the importance of implementation and legal protection of pre-nuptial agreements. Keywords: Urgency of Implementation, Legal Protection, Prenuptial Agreement.
HAK ASUH ANAK PASCA PERCERAIAN: PERSPEKTIF HUKUM PERDATA DI INDONESIA Pratama, I Gusti Bagus Krisna Putra; Dewi, Gusti Ayu Arya Prima
Kertha Wicara : Journal Ilmu Hukum Vol 12 No 07 (2023)
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/KW.2023.v12.i07.p2

Abstract

Tujuan dari adanya Penulisan Artikel ini untuk menjelaskan bagaimanakah hak asuh anak itu ketika kedua orang tuanya telah bercerai di dalam sudut pandang hukum perdata. Dalam penelitian ini lebih berfokus kepada penegakan hukum dan juga pertanggungjawaban dari kedua orang tua yang bercerai tersebut terhadap anak yang ditinggalkan berdasarkan sudut pandang hukum perdata, dalam penelitian dikaji berdasarkan metode hukum normatif yang berfokus pada pengkajian Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dengan metode pendekatan yang digunakan yaitu pendekatan Analisa, pendekatan konseptual, dan pendekatan perundang-undangan. Hasil dari penelitian ini dapat diliat bahwasanya KUHPerdata tidak menyebutkan bagaimana sistematika hak asuh anak pasca perceraian kedua orangtuannya, tetapi kemudian menjadi adil ketika nantinya hak asuh serta segala kebutuhan anak tersebut dimuat dalam putusan majelis hakim, dimana agar nasib anak tersebut menjadi terang dan terjamin. Kata Kunci: Kepastian Hukum, Perceraian, Hak Asuh Anak. ABSTRACT The purpose of writing this article is to explain what child custody rights are when the parents have divorced from a civil law perspective. In this research, the focus is more on law enforcement and the responsibility of the two divorced parents towards the abandoned child from a civil law perspective. In this research, it is studied based on normative legal methods that focus on the study of the Civil Code. The results of this research show that the Civil Code does not mention the systematics of child custody after the divorce of the parents, but it becomes fair when later the custody rights and all the child's needs are included in the decision of the panel of judges, so that the child's fate becomes clear and guaranteed. Key Words: Legal Certainty, Divorce, Child Custody.
PEGAWAI NEGERI SIPIL YANG MELAKUKAN PERCERAIAN TANPA IZIN DARI ATASAN BERDASARKAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 45 TAHUN 1990 Surbakti, Pascal Adven Genbadi; Dewi, Gusti Ayu Arya Prima
Kertha Wicara : Journal Ilmu Hukum Vol 12 No 11 (2023)
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/KW.2023.v12.i11.p5

Abstract

Studi ini bertujuan untuk mengetahui konsekuensi hukum jika terjadi tindak pelanggaran berupa Pegawai Negeri Sipil yang tak menjalankan persyaratan dan prosedural perceraian dalam melakukan perceraian dan tidak mendapat persetujuan dari atasan. Artikel ini dibuat melalui pendekatan penelitian hukum Yuridis Normatif dengan mengacu pada peraturan perundang-undangan dan menganalisis aspek hukumnya. Metode ini berkaitan dengan masalah hukum yang menjadi fokus penulisan. Prosedur perceraian bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Indonesia diatur oleh Peraturan Pemerintah, seperti Peraturan Pemerintah No. 10 Tahun 1983 dan Peraturan Pemerintah No. 45 Tahun 1990. Meskipun izin atasan dianggap administratif, bukan syarat mutlak, PNS yang tidak memenuhi persyaratan dapat dikenai sanksi disiplin berat sesuai Peraturan Pemerintah No. 53 Thn 2010. Surat Edaran Mahkamah Agung No. 5 Thn 1984 memberikan panduan bagi hakim terkait izin atasan dalam kasus perceraian PNS. Oleh karena itu, studi ini penting agar mengetahui konsekuensi hukum bagi Pegawai Negeri Sipil yang akan melaksanakan perceraian tanpa persetujuan dari atasan. Kata Kunci : Perceraian, Pegawai Negeri Sipil, Konsekuensi Hukum ABSTRACT The aim of this study is to determine the legal consequences if a violation occurs in the form of a Civil Servant who fails to fulfill the requirements and procedural aspects of divorce and does not obtain approval from superiors. This article is created through a Juridical Normative legal research approach, referring to legislation and analyzing its legal aspects. This method is related to legal issues that are the focus of the writing. The divorce procedure for Civil Servants in Indonesia is regulated by Government Regulations, such as Government Regulation No. 10 of 1983 and Government Regulation No. 45 of 1990. Although supervisor approval is considered administrative, not an absolute requirement, PNS who do not meet the requirements may face severe disciplinary sanctions according to Government Regulation No. 53 of 2010. Supreme Court Circular No. 5 of 1984 provides guidance for judges regarding supervisor approval in cases of PNS divorce. Therefore, this study is crucial to understand the legal consequences for Civil Servants who intend to divorce without the approval of their superiors. Keywords : Divorce, Civil Servants, Legal Consequences
KEABSAHAN PERKAWINAN BEDA AGAMA YANG DILAKUKAN OLEH WARGA NEGARA INDONESIA DI LUAR NEGERI Auriel, Farrel; Dewi, Gusti Ayu Arya Prima
Kertha Desa Vol 12 No 1 (2024)
Publisher : Kertha Desa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fokus utama penelitian ini yaitu guna mengetahui apakah perkawinan beda agama oleh WNI di luar negeri dapat dikatakan sah atau tidak. Jenis penelitian yuridis normatif merupakan jenis penelitian yang dipergunakan pada penelitian ini. Bahan pustaka dipergunakan untuk penelitian ini. Penelitian ini mengkaji hukum dan aturan yang mengatur perkawinan. Perkawinan beda agama sebagai hal yang lumrah terjadi di Indonesia yang merupakan negara multikultural. Perkawinan ini sudah berlangsung lama dan terjadi di masyarakat dari semua kelas sosial. Akan tetapi dikarenakan perkawinan adalah urusan pribadi tetapi juga publik, negara dapat mengatur bagaimana masyarakatnya melaksanakan perkawinan. Pasal 2 ayat (1) UU No. 1 Tahun 1974 menyebutkan bahwa perkawinan bukan hanya merupakan urusan hukum bagi masyarakat Indonesia, tetapi juga merupakan persoalan keagamaan. Tidak ada cara untuk memisahkan perkawinan dari agama karena merupakan peristiwa sakral dan mengikuti kaidah agama masing-masing. Dalam menghindari ketentuan tersebut, pasangan beda agama biasanya menikah di luar negeri untuk mendapatkan keabsahan perkawinan mereka. Hal ini karena perkawinan yang tidak memenuhi persyaratan agama hanya dapat dilakukan di luar wilayah hukum Indonesia, sehingga perkawinan tersebut sebenarnya melanggar hukum nasional, dianggap sebagai penyelundupan hukum, dan oleh karena itu dianggap batal sesuai dengan istilah "fraus omnia corumpit". This research focuses on determining whether interfaith marriages conducted by Indonesian citizens abroad can be considered valid or not. A juridical-normative research approach is employed in this study, utilizing literature review as its methodology. This research examines the laws and regulations governing marriage. Interfaith marriages are common in Indonesia, a multicultural country, and have been prevalent across various social classes for a long time. However, because marriage is both a personal and public matter, the state has the authority to regulate how its citizens conduct marriages. Article 2 (1) of Law No. 1 of 1974 states that marriage is not only a legal matter for the Indonesian society but also a religious issue. There is no way to separate marriage from religion as it is a sacred event and follows the principles of each respective religion. To circumvent these provisions, interfaith couples typically marry abroad to validate their marriage, as marriages that do not meet religious requirements can only be performed outside the jurisdiction of Indonesia's laws. Therefore, such marriages are deemed to violate national laws, considered as legal evasion, and consequently nullified under the doctrine of "fraus omnia corumpit".
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KONSUMEN DAN TANGGUNG JAWAB BANK PADA KEJAHATAN INTERNET BANKING Dewantara, Krisna; Dewi, Gusti Ayu Arya Prima
Kertha Desa Vol 11 No 10 (2023)
Publisher : Kertha Desa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penulisan karya ilmiah ini yakni untuk mengetahui serta memahami pengaturan mengenai Perlindungan Hukum terhadap Konsumen dan Tanggung Jawab Bank pada kejahatan internet banking. Dalam mengkaji tulisan ilmiah ini menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan dari suatu peraturan perundang-undangan yang disebut (statute approach) dan pendekatan konseptual. Hasil dari penulisan karya ilmiah ini menerangkan bahwa pengaturan khusus terhadap perlindungan konsumen sudah ada dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, serta peraturan lainnya seperti Undang-Undang Republik Indonesia No. 10 Tahun 1998 tentang perubahan atas Undang-Undang No. 7 tahun 1992 tentang Perbankan dan Undang-Undang Republik Indonesia No. 19 Tahun 2016 perubahan atas UU/11/2008 tentang Informsi dan Transaksi Elektronik. Dalam pasal 2 UU/11/2008 tentang ITE menentukan bahwa penyelenggara bertanggung jawab terhadap objek yang diselenggarakan. Penjelasan mengenai ketentuan tersebut menggandung makna jika sebuah bank dalam menjalankan sistem harus bertanggubgjawab atas kerugian yang timbul. Namun terdapat mengecualian jika murni kerugian itu berasal dari konsumen itu sendiri baik berupa kelalaian maupun kesalahan. Selanjutnya didalam ayat 2 Peraturan Bank Indonesia No. 22/20/Pbi/2020 mengenai Perlindungan Konsumen Bank Indonesia dijelaskan bahwa penyelenggara bertanggungjawab atas kerugian yang berasal dari pengurus dan/atau pegawai penyelenggara. Secara garis besar belum terdapat pengaturan khusus mengenai kejahatan internet banking sehingga belum terciptanya kepastian hukum terhadap permasalahan yang timbul mengenai kejahatan internet banking tersebut. The purpose of writing this scientific work is to find out and understand the regulations regarding legal protection for consumers and bank responsibility for internet banking crimes. In reviewing this scientific paper, we use a normative legal method with an approach from a statutory regulation called a statute approach and a conceptual approach. The results of this scientific work explain that special regulations for consumer protection already exist in Law of the Republic of Indonesia No. 8 of 1999 concerning Consumer Protection, as well as other regulations such as Law of the Republic of Indonesia no. 10 of 1998 concerning amendments to Law no. 7 of 1992 concerning Banking and Law of the Republic of Indonesia no. 19 of 2016 amendments to Law 11/2008 concerning Electronic Information and Transactions. Article 2 of Law 11/2008 concerning electronic transaction information stipulates that the organizer is responsible for the object being held. The explanation of these provisions means that a bank, in running the system, must be responsible for losses that arise. However, there are exceptions if the loss originates purely from the consumer himself, whether in the form of negligence or error. Furthermore, in paragraph 2 of Bank Indonesia Regulation no. 22/20/Pbi/2020 concerning Bank Indonesia Consumer Protection explains that the organizer is responsible for losses originating from the organizer's management and/or employees. In general, there are no special regulations regarding internet banking crimes so that legal certainty has not been created regarding problems that arise regarding internet banking crimes.