Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU DALAM MENYUSUN SOAL-SOAL HOTS MELALUI BIMBINGAN INDIVIDUAL DI SD NEGERI 5 PANGANDARAN TAHUN 2019 Sarsih, Encih
Jurnal Pelita Nusa Vol 2 No 1 (2022): Juni-Jurnal Pelita Nusa
Publisher : Pelita Nusa Jurnal, published by the Institute for Research and Community Service (LP2M) of the Pelita Nusa Islamic Religious College West Bandung (STAI PENUS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61612/jpn.v2i1.50

Abstract

Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan terhadap instrumen-instrumen penilaian pencapaian kompetensi, yakni butir-butir soal di sekolah saat melaksanakan Kepala Sekolahan akademik, ditemukan bahwa penyusunan tes dan pengembangan butir soal masih banyak yang tidak valid dan reliabel. Dalam mengadakan ulangan harian, ulangan tengah semester, dan ulangan semester, guru hanya menyalin soal-soal dari LKS (Lembar Kerja Siswa) dan atau menyalin dari buku-buku lainnya tanpa memperhatikan apakah soal-soal sesuai dengan indikator-indikator dan kompetensi dasar yang telah ditentukan atau tidak. Mereka menyusun tes dan mengembangkan butir soal terkesan asal-asalan tidak sesuai dengan indikator-indikator dan kompetensi dasar yang telah ditentukan. Dari sini peneliti tertarik untuk melalukan penelitian yang berjudul Meningkatkan Kemampuan Guru dalam Menyusun Soal-Soal HOTS Melalui Bimbingan Individual pada SDN 5 Pangandaran Tahun Pelajaran 2019/2020. Hasil penelitian ini adalah dari hasil observasi yang di lakukan pada siklus 1. Dari hasil telaah untuk penyusunan dan pengembagan soal-soal HOTS dari 8 orang guru diperoleh nilai rata-rata 62.5. Dari hasil kuesioner tentang sikap para guru terhadap bimbingan individual 62.5% setuju dan yang masih ragu 37.5%. Ini menunjukkan sikap positif bagi guru terhadap bimbingan individual. Dari siklus 2 hasil telaah untuk penyusunan dan pengembangan soal-soal HOTS diperoleh nilai rata-rata 87.5. Persentase kuesioner sikap positif guru pada pra siklus diperoleh 50% setuju terhadap model pembimbingan melalui bimbingan individual. Hal ini berarti bahwa guru kurang atau tidak menunjukkan respon positif terhadap bimbingan individual. Mereka menganggap bahwa menyusun butir soal tidak perlu bertele-tele yang penting ada. Namun setelah tindakan siklus I dan II melalui bimbingan individual respon positif mereka meningkat menjadi 87.5%. dengan demikian terjaadi peningkatan positif sebesar 37.5%, Ini menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan.