Artikel ini bertujuan mengkaji kebijakan publik al-Nāṣir (w. 961) dalam mengakselerasi produksi pengetahuan Andalus dan menemukan korelasi positif antara kebijakannya dengan fakta majunya ilmu pengetahuan Andalus. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan kualitatif-eskploratif dan filosofis. Analisis data memakai teknik Miles and Huberman melalui reduksi data, penyajian data, verifikasi data dan penyimpulan data. Banyak studi telah membahas kebijakan publik al-Nāṣir namun studi kebijakan spesifik dalam akselerasi pengetahuan dirasa belum ada yang memuaskan. Padahal kepemimpinan alNāṣir dicatat sejarawan sebagai masa keemasan Andalus sampai puncaknya pada abad 13 Masehi. Bahkan kepemimpinan alNāṣir dianggap sebagai kepemimpinan terbaik yang pernah dimiliki Andalus. Studi ini menunjukkan korelasi positif antara kebijakan publik al-Nāṣir dan meningkatnya produksi pengetahuan Andalus. Memang hasilnya tidak tampak konkret pada masa kepemimpinannya. Namun mulai tampak pada masa akhir al-Nāṣir sampai puncaknya pada abad 13 Masehi. Majunya ilmu pengetahuan Andalus yang mengungguli negara manapun, termasuk Baghdad. Keterlambatan ini wajar karena kebijakan dalam pendidikan merupakan bentuk investasi jangka panjang. Butuh puluhan tahun untuk melihat hasil konkretnya. Beberapa kebijakan al-Nāṣir adalah membentuk tim khusus untuk mencari buku-buku langka dan diperkuat tim teknis dalam negeri. Membangun pendidikan tinggi yaitu Univesitas Kordova dengan fasilitas penunjang yang lengkap. Membuat insentif yang ditujukan bagi pengajar dan pelajar. Mengembangkan perpustakaan al-Ḥakam dengan menambah koleksinya baik dari luar negeri ataupun dalam negeri. Membangun industri kertas untuk menunjang kebijakan akselerasi produksi pengetahuan. [ This article aims to examine al-Nāṣir’s public policies in accelerating Andalus knowledge production and find a positive correlation between his policies and the facts of the advancement of Andalus science. This type research is qualitative with a qualitative-exploratory and philosophical approach. Data analysis uses the Miles and Huberman technique through data reduction, data presentation, verification and conclusion. Many studies have discussed al-Nāṣir’s public policy, but none of the specific policy studies regarding knowledge acceleration have been deemed satisfactory. In fact, historians recorded al-Nāṣir’s leadership as the golden age of Andalus until its peak in the 13th century AD. In fact, al-Nāṣir’s leadership is considered the best leadership Andalus has ever had. This study shows a positive correlation between al-Nāṣir’s public policies and increasing Andalus knowledge production. Indeed, the results did not appear concrete during his leadership. However, it began to appear in the late al-Nāṣir period until its peak in the 13th century AD. The advancement of Andalus science surpassed that of any country, including Baghdad. This delay is natural because policies in education are a form of long-term investment. It will take decades to see concrete results. Some of al-Nāṣir’s policies include forming a special team to search for rare books and strengthening the domestic technical team. Building higher education, namely Kordova University with complete supporting facilities. Create incentives aimed at teachers and students. Developing the al-Ḥakam library by adding to its collection both from abroad and domestically. Building a paper industry to support policies to accelerate knowledge production.]