Arif Akhyat
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

A EKSPLOITASI MURIA: PERUBAHAN EKOLOGI DI LERENG MURIA JEPARA PADA AKHIR ABAD XIX SAMPAI AWAL ABAD XX Arif Akhyat
KARMAWIBANGGA: Historical Studies Journal Vol. 6 No. 1, 2024
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada akhir abad XIX dan memasuki abad XX, praktik-praktik kapitalisme berbasis industri di Jepara berdampak pada luasnya kerusakan lingkungan. Eksploitasi tanaman jati sebagai bahan material industry tidak hanya mengakibatkan terjadinya kebencanaan lingkungan di sekitar lereng Muria, namun juga merembet ke persoalan tanaman produksi sebagaimana kopi yang rusak akibat penebangan tanaman jati secara tradisional.  Ekploitasi alam di lereng Muria tidak hanya mengakibatkan banjir, namun juga hancurnya habitat flora dan fauna. Dibalik kerusakan lingkungan di lereng Muria, tidak serta merta memunculkan persoalan social-ekonomi di kalangan petani dan pekebun. Artikel ini bertujuan menjelaskan proses kerusakan lingkungan akibat eksploitasi lahan di lereng Muria yang berakibat kebencanaan, baik kebencanaan alam maupun lingkungan social serta bagaimana reaksi social di kalangan komunitas local. Oleh karena itu artikel ini juga ingin menjelaskan mengapa komunitas local dapat bertahan di tengah-tengah kebencanaan yang menghantamnya.  Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah metode sejarah dengan melakukan desk study terhadap arsip terutama peta kerusakan, buku-buku sezaman, dan literatur sekunder. Kajian sejarah local merupakan perspektif yang digunakan untuk menjelaskan variable kebencanaan dan reaksi adaptif dari komunitas local. Hasil temuan kajian ini menunjukkan bahwa komunitas desa sebagai korban bencana memiliki kemampuan adaptif secara ekonomi dengan melakukan konversi pekerjaan, dari petani dan pekebun menjadi buruh industri di kota. Reboisasi yang dilakukan oleh pemerintah kolonial, hanya sebagai penyelamat kepentingan kolonial    
A EKSPLOITASI MURIA: PERUBAHAN EKOLOGI DI LERENG MURIA JEPARA PADA AKHIR ABAD XIX SAMPAI AWAL ABAD XX Arif Akhyat
KARMAWIBANGGA Historical Studies Journal Vol. 6 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/fkip.vi.6576

Abstract

Pada akhir abad XIX dan memasuki abad XX, praktik-praktik kapitalisme berbasis industri di Jepara berdampak pada luasnya kerusakan lingkungan. Eksploitasi tanaman jati sebagai bahan material industry tidak hanya mengakibatkan terjadinya kebencanaan lingkungan di sekitar lereng Muria, namun juga merembet ke persoalan tanaman produksi sebagaimana kopi yang rusak akibat penebangan tanaman jati secara tradisional.  Ekploitasi alam di lereng Muria tidak hanya mengakibatkan banjir, namun juga hancurnya habitat flora dan fauna. Dibalik kerusakan lingkungan di lereng Muria, tidak serta merta memunculkan persoalan social-ekonomi di kalangan petani dan pekebun. Artikel ini bertujuan menjelaskan proses kerusakan lingkungan akibat eksploitasi lahan di lereng Muria yang berakibat kebencanaan, baik kebencanaan alam maupun lingkungan social serta bagaimana reaksi social di kalangan komunitas local. Oleh karena itu artikel ini juga ingin menjelaskan mengapa komunitas local dapat bertahan di tengah-tengah kebencanaan yang menghantamnya.  Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah metode sejarah dengan melakukan desk study terhadap arsip terutama peta kerusakan, buku-buku sezaman, dan literatur sekunder. Kajian sejarah local merupakan perspektif yang digunakan untuk menjelaskan variable kebencanaan dan reaksi adaptif dari komunitas local. Hasil temuan kajian ini menunjukkan bahwa komunitas desa sebagai korban bencana memiliki kemampuan adaptif secara ekonomi dengan melakukan konversi pekerjaan, dari petani dan pekebun menjadi buruh industri di kota. Reboisasi yang dilakukan oleh pemerintah kolonial, hanya sebagai penyelamat kepentingan kolonial