Endarwin, Endarwin
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENENTUAN LOKASI TERBAIK UNTUK ESTIMASI CURAH HUJAN BERDASARKAN EFEK PARALAKS DAN SUHU PUNCAK AWAN MENGGUNAKAN DATA SATELIT HIMAWARI-8 (STUDI KASUS DI WILAYAH INDONESIA BAGIAN TENGAH) Jonathan, Hibar Nugraha; Endarwin, Endarwin; Fahdiran, Riser
PROSIDING SEMINAR NASIONAL FISIKA (E-JOURNAL) Vol. 12 (2024): PROSIDING SEMINAR NASIONAL FISIKA (E-JOURNAL) SNF2023
Publisher : Program Studi Pendidikan Fisika dan Program Studi Fisika Universitas Negeri Jakarta, LPPM Universitas Negeri Jakarta, HFI Jakarta, HFI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/03.1201.FA07

Abstract

Abstrak Kondisi cuaca khususnya hujan dapat mempengaruhi aktivitas manusia, maka upaya untuk melakukan prediksi terhadap kondisi cuaca menjadi alternatif yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan yang akan terjadi. Pengamatan curah hujan dilakukan dengan alat pencatat curah hujan automatis/Automatic Rain Gauge (ARG) untuk wilayah tertentu dan menggunakan satelit Himawari-8 atau Himawari-9 untuk cakupan yang lebih luas berdasarkan suhu puncak awan. Namun, satelit Himawari-8 atau Himawari-9 merupakan satelit geostasioner yang memiliki efek paralaks yaitu kesalahan dalam pembacaan data curah hujan di suatu wilayah yang berbeda dengan wilayah atau objek pengamatan yang sebenarnya. Penelitian ini menggunakan korelasi Pearson untuk menganalisis korelasi antara curah hujan ARG dengan data suhu puncak awan. Dari korelasi yang dihasilkan menunjukkan bahwa lokasi terbaik untuk estimasi curah hujan berada pada 10-15 km ke arah barat laut dari daerah pengamatan (ARG) wilayah Tomohon, 2,5-5 km ke arah barat daya dari daerah pengamatan (ARG) wilayah Kolaka, dan 10-15 km ke arah barat daya dari daerah pengamatan (ARG) wilayah Bajawa. Sedangkan untuk model regresi linier memiliki nilai korefisien determinasi (R2) sebesar 0.170006503893808 dan nilai MAPE yang memiliki nilai error yang sangat tinggi sehingga model ini tidak cocok untuk prediksi curah hujan berdasarkan data yang digunakan. Kata-kata kunci: Curah hujan, suhu puncak awan, Korelasi Pearson, efek paralaks. Abstract Weather conditions, especially rain can affect human activities, so works to make predictions about weather conditions are an alternative that can be done to anticipate the possibility that will occur. Rainfall observations were using Automatic Rain Gauge (ARG) for certain areas and using the Himawari-8 or Himawari-9 satellite for wider coverage based on cloud top temperatures. However, the Himawari-8 or Himawari-9 satellite is a geostationary satellite which has parallax effect, which have error in reading rainfall data in area that is different from the actual area or object of observation. This research uses Pearson correlation would be analyzed the correlation between ARG rainfall and cloud top temperature data. The resulting correlation shows that the best location for estimating rainfall is 10-15 km to the northwest of the observation area (ARG) of the Tomohon area, 2.5-5 km to the southwest of the observation area (ARG) of the Kolaka, and 10-15 km to the southwest of the observation area (ARG) of Bajawa area. Whereas the linear regression model has a coefficient of determination (R2) of 0.170006503893808 and the MAPE values have very high error values so this model is not suitable for predicting rainfall based on the data used. Keywords: Rainfall, cloud-top temperatures, Pearson Correlation, parallax effect.
IDENTIFIKASI LOKASI TERBAIK PENGGUNAAN DATA SATELIT HIMAWARI-8 DALAM ESTIMASI CURAH HUJAN BERDASARKAN PERMASALAHAN PARALAKS DAN SUHU PUNCAK AWAN (STUDI KASUS DI WILAYAH INDONESIA BAGIAN BARAT) Ghufron, Galih Muhammad; Endarwin, Endarwin; Fahdiran, Riser
PROSIDING SEMINAR NASIONAL FISIKA (E-JOURNAL) Vol. 12 (2024): PROSIDING SEMINAR NASIONAL FISIKA (E-JOURNAL) SNF2023
Publisher : Program Studi Pendidikan Fisika dan Program Studi Fisika Universitas Negeri Jakarta, LPPM Universitas Negeri Jakarta, HFI Jakarta, HFI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/03.1201.FA08

Abstract

Abstrak Dampak yang diberikan oleh kondisi cuaca terutama hujan bisa dirasakan secara signifikan terhadap aktifitas manusia. Pencatatan data curah hujan dilakukan dengan Automatic Rain Gauge (ARG) untuk daerah tertentu, sedangkan untuk cakupan yang lebih luas menggunakan satelit cuaca geostasioner. Namun, satelit cuaca geostasioner dalam kasus ini Himawari-8 memiliki kendala efek Paralaks yang dapat mempengaruhi pembacaan data citra satelit. Penelitian ini menggunakan metode Korelasi Pearson dan Regresi Linier untuk membangun model estimasi curah hujan berdasarkan suhu puncak awan. Hasil menunjukkan bahwa suhu puncak awan yang memiliki korelasi terbaik dengan curah hujan terletak pada posisi 10-15 km arah barat laut dari daerah pengamatan (ARG) di wilayah Cot Girek, 5-10 km arah barat dari daerah pengamatan (ARG) di wilayah Meranti, dan 5-10 km arah barat daya dari daerah pengamatan di wilayah Ciomas. Sementara untuk model regresi linier tidak akurat untuk data yang digunakan dengan nilai koefisien korelasi (R2) sebesar 0,2003 dan Mean Absolute Percentage Error (MAPE) yang sangat tinggi. Oleh karena itu, metode machine learning Regresi Linier kurang dapat diaplikasikan untuk data yang digunakan. Kata-kata kunci: Curah hujan, suhu puncak awan, Korelasi Pearson, Efek Paralaks, Regresi Linier. Abstract The impact of weather conditions especially rainfall can significantly affect human activities. Rainfall data is recorded using an Automatic Rain Gauge (ARG) for specific areas, while geostationary weather satellites are used for broader coverage. However, geostationary weather satellites in this case Himawari-8 have the constraint of parallax effects that can influence satellite image data readings. This research utilizes the Pearson Correlation and Linear Regression methods to develop a rainfall prediction model based on cloud-top temperature. The results indicate that the cloud-top temperature with the best correlation to rainfall is located at a position 10-15 km northwest of the observation area (ARG) in the Cot Girek region, 5-10 km west of the observation area (ARG) in the Meranti region, and 5-10 km southwest of the observation area in the Ciomas region. However, the linear regression model is not accurate for the data used, with a coefficient of determination (R2) value of 0.2003 and a very high Mean Absolute Percentage Error (MAPE). Therefore, the linear regression method is not suitable for the data used. Keywords: Rainfall, cloud-top temperatures, Pearson Correlation, Parallax effect, Linear Regression.