Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Studi bahasa gender dalam film Kartini: Princess of Java dari perspektif sosiolinguistik Jing, Yang
Sintesis Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v17i2.7450

Abstract

Bahasa sebagai alat komunikasi dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti pemikiran, emosi, dan psikologi pengguna bahasa. Perbedaan gender dalam bahasa adalah fenomena bahasa yang muncul dari pengaruh faktor-faktor sosial, budaya, fisiologis, dan psikologis pengguna bahasa. Artikel ini menggunakan dialog dari film Kartini: Princess of Java yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo sebagai bahan penelitian. Teori karakteristik bahasa perempuan yang diajukan oleh Lakoff (1975) digunakan sebagai dasar teoretis untuk menganalisis karakteristik bahasa dan gender dan faktor-faktor yang memengaruhi karakteristik bahasa perempuan. Pengumpulan data dilakukan dengan metode simak. Untuk menganalisis bahasa gender, artikel ini akan menggunakan metode analisis percakapan dan analisis wacana. Eksplorasi topik ini diharapkan dapat mendorong sejauh mungkin proses penelitian bahasa gender dari sudut pandang sosiolinguistik. Dengan demikian, penelitian ini dapat memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan kesadaran perempuan dan promosi kesetaraan gender dalam masyarakat. Adapun penyajian hasil analisis data dilakukan dengan menggunakan metode informal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh perempuan menggunakan pertanyaan, kalimat permintaan dengan kata-kata sopan, dan penggunaan bentuk kalimat yang sangat sopan sebagai strategi komunikasi. Hal ini merupakan cerminan atas norma-norma sosial yang berlaku pada masa tersebut.
Musical Characteristics of the Pingxian Folk Song as Cultural Narrative Jing, Yang; Theerapan, Suthasinee; Chuangprakhon, Sayam; Chaiyason, Noppon; Jungate, Kittikun; Wenying, Chen
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 26, No 2 (2025): Agustus 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v26i2.17192

Abstract

This study aims to analyze the musical characteristics of the Pingxian Folk Song in Ping’an District, Qinghai Province, with a particular focus on its function as a cultural narrative. Employing a qualitative methodology, the research integrates ethnomusicological analysis, field observations, and interpretive frameworks to examine four key dimensions: lyrical structure and language use, rhythmic patterns and vocal ornamentation, melodic and modal systems, and cultural symbolism embedded in performance contexts. Findings indicate that Pingxian folk songs exhibit a distinct lyrical form known as the “3.5-line structure,” incorporating hybrid use of Mandarin and local dialects that reflect regional linguistic identity. The flexible rhythmic style, often governed by breath and emotion, is supported by the traditional use of Paiban as a percussive timing device. Melodic lines follow a modal system capable of symbolic modulation, such as transitions between Bb Gong and C Shang Qingyue, to express shifts in emotional and ritual states. Culturally, the songs encode ethnic memory and social values through symbolic narratives referencing local myths, ancestral figures, and natural imagery. Performances are deeply embedded in ritual, seasonal festivals, and informal educational settings, thereby serving as dynamic vehicles for the transmission of intangible cultural heritage. These musical features collectively affirm the role of Pingxian Folk Song as a medium for maintaining ethnic identity and cultural continuity. The study highlights the necessity of understanding folk music as both sonic art and cultural practice. It is recommended that future research explore comparative modal systems across folk traditions in the Hehuang cultural region and investigate the integration of Pingxian folk elements into contemporary educational and digital platforms to support sustainable heritage preservation.