Kegiatan pengabdian kepada masyarakat adalah upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia yang mencakup perluasan wawasan, pengetahuan, dan keterampilan. Dalam beberapa tahun terakhir, istilah bullying, atau perundungan dalam bahasa Indonesia, semakin banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya di kalangan anak muda tetapi juga di kalangan orang dewasa. Kejadian perundungan dalam masyarakat memiliki beragam intensitas, dari yang kecil hingga yang besar. Kasus perundungan verbal sering kali disamarkan sebagai guyonan, meskipun dapat membuat korban merasa sangat tidak nyaman. Contoh perundungan dengan intensitas tinggi termasuk pengucilan di sekolah karena perbedaan fisik, kognitif, atau materi. Mengingat berbagai kondisi dan penyebab perundungan ini, sangat penting untuk memahami fenomena bullying lebih dalam. Harapannya, dengan pemahaman yang lebih baik tentang perundungan, kita dapat mengurangi perilaku tersebut dan mencegah semakin banyaknya korban bullying. Dalam konteks ini, peran kita sebagai upstanders sangat penting; kita harus mengambil tindakan empati ketika melihat perilaku perundungan untuk membantu mengurangi penderitaan korban. Metode pengabdian yang dilakukan mencakup penyuluhan dan diskusi kelompok tentang bullying dan dampaknya, pelatihan keterampilan sosial untuk siswa/siswi SMK Ma'arif Hasyim Asy'ari Tegalombo, serta kampanye kesadaran tentang pentingnya peran upstanders dalam lingkungan sekolah. Dengan adanya kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, diharapkan peserta didik akan memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai cara pencegahan bullying dan berperan aktif sebagai upstander dalam menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman dan inklusif.