Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Dialectics of Jurisprudence, Science, and Tradition Analysis of the Accuracy of the Qibla Direction of Sentot Ali Basya Cemetery Badrut Taman; Doki Hermansyah; Harahap, Rindom; Agutini; Japarudin; Imam Mahdi
NUSANTARA: Journal Of Law Studies Vol. 2 No. 2 (2023): Nusantara: Journal of Law Studies
Publisher : Islamic Research Publiser

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.17388710

Abstract

This research examines the direction of the old grave of Sentot Ali Basya, which tends to accurately align with the qibla compared to the new cemetery in the city of Bengkulu. The ironic condition where the qibla direction in the new cemetery cannot be as accurate as the old cemetery becomes the uniqueness of this study. Data on the accuracy of the qibla direction in the cemetery were obtained through field observations, while social-religious data related to the development of fiqh schools, the level of knowledge, and Islamic traditions in the community of Bengkulu were explored through historical literature on Islam in Bengkulu. This research found that the people of Bengkulu in 1885, the year of Sentot Ali Basya's death, already had a high civilization in the fields of fiqh, science, and tradition. The people of Bengkulu in the 19th century adhered to the Shafi'i fiqh school. This school entered Bengkulu through preachers, including Sentot Ali Basya. In this school, rules regarding the qibla direction of the deceased were highly regarded, to the extent that a corpse not facing the qibla had to be reoriented towards the qibla, even if it required exhuming the grave. In terms of science, knowledge of navigation was still prevalent among the people of Bengkulu, partly because many residents worked as fishermen and also due to the indirect contribution of navigation methods, including the qibla direction, brought by traders sailing to Bengkulu.
Tradisi Bahasa Dan Budaya Seorang Petugas Jenang “Makna Dan Simbol Kuliner Tradisional Masyrakat Lembak Kota Bengkulu” Rochmansyah, Erwin; Musyaffa; Zainuri; Japarudin; Mahdi, Imam
Jurnal Kaganga: Jurnal Ilmiah Sosial dan Humaniora Vol. 9 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/jkaganga.9.2.178-195

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana masyarakat adat di Kota Bengkulu menyambut tamu. Peran bahasa dan budaya pelayan yang dikenal dengan nama jenang merupakan simbolis dalam proses penyajian berbagai hidangan. Menu makanan yang disajikan di hadapan tamu oleh jenang rupanya memiliki arti tersendiri. Penulisnya, terbatas pada kegiatan doa pemakaman masyarakat Lembak di Kota Bengkulu. Sangat mudah untuk memahami apa yang dilihat Nabi Muhammad dan tidak tahu bagaimana melakukannya. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Tujuannya adalah untuk mengeksplorasi makna simbolis kuliner sekaligus mengeksplorasi genang dan makanan yang disajikan secara komprehensif. Data akan dikirimkan kepada Anda pada waktu yang akan menjadi bagian dari layanan, dan kemudian data akan dikirimkan kepada Anda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada persyaratan khusus bagi seseorang untuk menjabat sebagai jenang; Tidak sembarang orang dapat melakukan tugas dan peran. Kemudian, ada banyak arti dari menu sederhana yang disajikan. Jumlah hidangan harus ganjil, belum termasuk nasi. Tentu saja, ini adalah fitur unik dari tradisi ini. Tradisi yang ditemui penulis selama tinggal di Kota Bengkulu