Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Kajian Inovasi Pewarnaan Kain Batik dengan Metode Penyemprotan Mesin CNC Zainal Arifin, Muhamad; Sudiarso, Andi
Journal Pemberdayaan Masyarakat Indonesia Vol 4 No 1 (2022): Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Indonesia (JPMI)
Publisher : Pusat Pengabdian kepada Masyarakat (PPKM) Universitas Prasetiya Mulya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21632/jpmi.4.1.95-100

Abstract

Batik merupakan warisan budaya Indonesia yang telah diakui dunia melalui UNESCO. Pada proses pembuatan kain batik terdapat tiga proses utama yaitu, pemberian motif dengan malam (lilin), pewarnaan dan pelorotan. Pada perkembangan teknologi berpengaruh pada proses perlakuan dalam pembuatan batik, pada revolusi industry 4.0 dapat menjadi langkah dalam melestarikan produk batik dan meningkatkan jumlah produksi. Munculnya mesin pembuatan motif batik tulis pada kain menggunakan CNC (Computer Numerical Control) menjadi ide terhadap inovasi pewarnaan batik dengan cara penyemprotan warna pada kain batik menggunakan mesin CNC 3 Axis (X, Y, Z) agar dapat meningkatkan jumlah produksi kain batik, mempercepat proses pewarnaan dan melestarikan batik pada tingkat UMKM. Dalam hal ini peluang penelitian yang dapat direkomendasikan adalah inovasi baru pada proses pewarnaaan kain batik menggunakan metode penyemprotan dengan mesin dan menerapkan DOE (Design of Experiment) Metode Taguchi dan ANOVA sehingga dapat menentukan parameter optimal, selain itu penambahan uji beda warna untuk mengetahui kerataan warna dan konsistensi warna yang dihasilkan pewarnaan pada kain batik menggunakan metode penyemprotan.
Keabsahan Hak Guna Usaha yang Tumpang Tindih dengan Kawasan Hutan Zainal Arifin, Muhamad
Jurnal Ilmu Hukum, Humaniora dan Politik Vol. 5 No. 4 (2025): (JIHHP) Jurnal Ilmu Hukum, Humaniora dan Politik
Publisher : Dinasti Review Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jihhp.v5i4.4257

Abstract

Penelitian ini menganalisis keabsahan sertifikat Hak Guna Usaha (HGU) yang tumpang tindih dengan kawasan hutan serta perlindungan hukum bagi pemegangnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sertifikat HGU yang tumpang tindih dengan kawasan hutan tetap dianggap sah selama belum ada pembatalan resmi dari pejabat berwenang atau keputusan pengadilan yang final. Pemegang HGU mendapat perlindungan hukum berdasarkan asas praesumptio iustae causa, yang menjamin keabsahan sertifikat hingga terbukti sebaliknya. Dualisme kewenangan antara Badan Pertanahan Nasional dan Kementerian Kehutanan sering memicu konflik akibat ketidakjelasan batas kawasan hutan dan hak atas tanah. Beberapa kasus hukum menunjukkan perlunya penyelesaian tumpang tindih melalui penguatan koordinasi antar lembaga dan penyempurnaan regulasi dalam rangka memberikan kepastian hukum  bagi pemegang HGU. Penelitian menggunakan metode yuridis normatif berdasarkan bahan hukum primer dan sekunder.
MANTRA JAMPE NYIMPEN BEAS SEBAGAI REPRESENTASI SIMBOLIS NYI POHACI DALAM SASTRA LISAN SUNDA Haikal Yasa, Faiz; Haryadi, Ardi Mulyana; Zainal Arifin, Muhamad; Julianto, Cecep Dudung
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6 No 1 (2026)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v6i1.291

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi simbolik dan sinkretisme teologis yang terkandung dalam mantra Jampe Nyimpen Beas (Mantra Menyimpan Beras) dalam konteks masyarakat agraris Desa Sukaraja, Kabupaten Sumedang, melalui pendekatan kajian semiotik Roland Barthes. Menggunakan metode kualitatif deskriptif analitis dengan teknik pengumpulan data observasi dan wawancara mendalam terhadap informan kunci, penelitian ini membongkar teks ritual tersebut menjadi tiga tingkatan analisis: Denotasi, Konotasi, dan Mitos/Ideologi. Temuan utama menunjukkan bahwa mantra ini beroperasi sebagai sistem penandaan yang secara fundamental mengukuhkan Representasi Simbolis Nyi Pohaci Sanghyang Sri sebagai entitas hidup yang dimuliakan melalui diksi seperti "gedong manik ratna inten" (konotasi kesakralan wadah) dan "abdi ngiringan" (konotasi ketaatan). Lebih lanjut, mantra ini menampilkan mekanisme sinkretisme teologis yang adaptif, di mana unsur-unsur kepercayaan lokal (Pemujaan Pohaci) diintegrasikan dan disahkan secara budaya melalui penyisipan syahadat dan ujaran Islam esoteris, yang secara fungsional memberikan ketenangan batin (salamet ing dunya ing akherat) sekaligus mendorong etos konservasi pangan. Dengan demikian, Jampe Nyimpen Beas terbukti bukan hanya artefak sastra lisan, melainkan dokumen sosiokultural yang merekam strategi masyarakat Sunda dalam menjaga keseimbangan antara spiritualitas tradisi agraris dan dogma keagamaan. KATA KUNCI: Semiotik; Mantra; Jampe Nyimpen Beas; Nyi Pohaci;, Sinkretisme; Sastra Lisan Sunda. >  THE MANTRA JAMPE KEEPS RICE AS A SYMBOLIC REPRESENTATION OF NYI POHACI IN SUNDANESE ORAL LITERATURE   ABSTRACT: This research aims to analyze the symbolic construction and theological syncretism embedded within the Jampe Nyimpen Beas (Rice Storage Mantra) in the agrarian community of Sukaraja Village, Sumedang Regency, through the Roland Barthes semiotic approach. Using a qualitative descriptive analytic method with in depth interviews and observation of key informants, the study deconstructs the ritual text into three analytical levels Denotation, Connotation, and Myth/Ideology. The main findings indicate that the mantra operates as a system of signification that fundamentally affirms the Symbolic Representation of Nyi Pohaci Sanghyang Sri as an honored living entity through diction like "gedong manik ratna inten" (connoting the sacredness of the container) and "abdi ngiringan" (connoting subservience). Furthermore, the mantra exhibits an adaptive theological syncretism, where elements of local beliefs (Pohaci reverence) are integrated and culturally validated through the insertion of the syahadat (Islamic creed) and esoteric Islamic phrases, functionally providing inner peace (salamet ing dunya ing akherat) while simultaneously fostering a rice conservation ethos. Consequently, Jampe Nyimpen Beas proves to be not merely an artifact of oral literature but a sociocultural document that records the Sundanese community's strategy for maintaining the balance between the spirituality of agrarian tradition and religious dogma. KEYWORDS: Semiotics; Mantra; Jampe Nyimpen Beas; Nyi Pohaci; Syncretism; Sundanese Oral Literature.