Cahyaningsih, Clarisa Shinta
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

TWIPLOMACY DALAM DIPLOMASI PUBLIK DIGITAL: ANALISIS TWEET KONTROVERSIAL DONALD TRUMP Cahyaningsih, Clarisa Shinta; Syamsudduha, Achmad
Jurnal Pena Wimaya Vol 4, No 1 (2024): Jurnal Pena Wimaya
Publisher : Pena Wimaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jpw.v4i1.8587

Abstract

Digitalisasi yang ada membuat adanya transformasi praktik diplomasi dari diplomasi tradisional menjadi diplomasi digital. Presiden Amerika Serikat ke-45, Donald Trump menjadi sorotan publik dikarenakan cuitannya yang kontroversial. Penulisan ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana Donald Trump menggunakan twitter sebagai alat diplomasi publik digitalnya dan mengapa praktik Twiplomacy Donald Trump dianggap kontroversial dan cerminan ironi diplomasi publik. Penulisan didasarkan pada konsep diplomasi publik digital yang diterapkan dalam analisa tweet akun @realDonaldTrump pada tahun 2017 hingga 2021. Indikasi kontroversial dan ironi diplomasi Trump dilihat dari reaksi sosial masyarakat Twitter dalam setiap postingannya. Trump menggunakan Twitter sebagai media untuk berkomunikasi, berinteraksi, dan menyampaikan informasi kenegaraan kepada publik. Diketahui total tweet trump selama masa kepresidenannya yakni sekitar 26.242 ribu tweet. Dari tweet tersebut ditemukan bahwa Trump sering menggunakan bahasa yang kasar, arogansi, dan asumsi pribadi dalam unggahan tweetnya. Hal tersebut yang mendasari mengapa tweet Donald Trump disebut sebagai cerminan kontroversi dan ironi diplomasi publik digital. Kata Kunci: twiplomacy, diplomasi publik digital, @realDonaldTrump, kontroversial.
TWIPLOMACY DALAM DIPLOMASI PUBLIK DIGITAL: ANALISIS TWEET KONTROVERSIAL DONALD TRUMP Cahyaningsih, Clarisa Shinta; Syamsudduha, Achmad
Jurnal Pena Wimaya Vol. 4 No. 1 (2024): Jurnal Pena Wimaya
Publisher : Pena Wimaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jpw.v4i1.8587

Abstract

Digitalisasi yang ada membuat adanya transformasi praktik diplomasi dari diplomasi tradisional menjadi diplomasi digital. Presiden Amerika Serikat ke-45, Donald Trump menjadi sorotan publik dikarenakan cuitannya yang kontroversial. Penulisan ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana Donald Trump menggunakan twitter sebagai alat diplomasi publik digitalnya dan mengapa praktik Twiplomacy Donald Trump dianggap kontroversial dan cerminan ironi diplomasi publik. Penulisan didasarkan pada konsep diplomasi publik digital yang diterapkan dalam analisa tweet akun @realDonaldTrump pada tahun 2017 hingga 2021. Indikasi kontroversial dan ironi diplomasi Trump dilihat dari reaksi sosial masyarakat Twitter dalam setiap postingannya. Trump menggunakan Twitter sebagai media untuk berkomunikasi, berinteraksi, dan menyampaikan informasi kenegaraan kepada publik. Diketahui total tweet trump selama masa kepresidenannya yakni sekitar 26.242 ribu tweet. Dari tweet tersebut ditemukan bahwa Trump sering menggunakan bahasa yang kasar, arogansi, dan asumsi pribadi dalam unggahan tweetnya. Hal tersebut yang mendasari mengapa tweet Donald Trump disebut sebagai cerminan kontroversi dan ironi diplomasi publik digital. Kata Kunci: twiplomacy, diplomasi publik digital, @realDonaldTrump, kontroversial.
Upaya Multisektor Penanggulangan Femisida di Meksiko dan Relevansinya bagi Indonesia Cahyaningsih, Clarisa Shinta
Az-Zahra: Journal of Gender and Family Studies Vol. 6 No. 1 (2025): December 2025
Publisher : UIN Sunan Gunung Dajti Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fenomena femisida atau pembunuhan terhadap perempuan semakin menjadi perhatian global, termasuk di Meksiko, dimana merujuk pada Amnesty International mencatat sedikitnya sepuluh kasus setiap harinya. Tingginya angka femisida di negara tersebut tidak terlepas dari pengaruh budaya patriarki yang masih mengakar kuat dalam struktur sosial dan hukum. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis berbagai upaya penanganan femisida di Meksiko serta menelaah relevansinya dalam konteks Indonesia, mengingat kasus kekerasan berbasis gender juga kian mengkhawatirkan di tanah air. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan, mengandalkan data sekunder dari literatur akademik, laporan organisasi internasional, media massa, dan dokumen hukum. Hasil analisis menunjukkan bahwa penanganan femisida di Meksiko melibatkan intervensi berbagai aktor, mulai dari organisasi internasional dan regional, perjuangan aktivis dan seniman melalui berbagai medium termasuk media digital, hingga penguatan aspek hukum dengan pemberian sanksi tegas terhadap pelaku. Upaya tersebut dapat menjadi bahan refleksi dan inspirasi bagi Indonesia dalam membangun kebijakan penanggulangan femisida yang lebih komprehensif dan responsif terhadap korban.