Algifari, Muhammad Shabrun
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Selayang Pandang Tafsir Bi Al-Ra’yi Algifari, Muhammad Shabrun
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol 3, No 4 (2023): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jis.v3i4.31042

Abstract

Seiring berkembangnya zaman, tafsir al-Qur’an mengalami banyak problematika dalam perkembangannya, terutama pada sumber penafsiran sekunder atau tafsir bi al-ra’yi. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya Rasulullah Saw tidak memberikan penjelasan ayat al-Qur’an secara menyeluruh, sehingga mendorong para sahabat untuk senantiasa menafsirkan dan mencari tahu makna yang terkandung pada ayat-ayat al-Qur’an. Apalagi pasca wafatnya Rasulullah Saw banyak muncul permasalahan yang belum pernah ada di zamannya, yang menjadikan penafsiran dengan menggunakan ra’yu amat dibutuhkan. Dengan demikian, diperlukan adanya pengkajian kembali tentang tafsir bi al-ra’yi untuk mengetahui lebih jauh terkait sejarah, problematika, maupun batasan-batasan yang ada pada tafsir bi al-ra’yi. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif yang menghasilkan data deskriptif berupa hal-hal yang berkaitan dengan tafsir bi al-ra'yi melalui riset kepustakaan (library research). Adapun hasil dari penelitian ini adalah tafsir bi al-ra’yi merupakan penafsiran al-Qur’an dengan menggunakan nalar dan logika. Pada dasarnya tafsir bi al-ra’yi telah muncul di zaman Rasulullah, tetapi sebagian ulama mengganggapnya sebagai tafsir bi al-ma’tsur karena bersumber dari Nabi dan segala yang bersumber dari Nabi dianggap sebagai wahyu. Pada awalnya penafsiran dengan menggunakan ra’yu mengalami banyak penolakan karena dianggap dapat membawa pada kesesatan. Tetapi seiring berjalannya waktu, sebagian ulama memperbolehkan penggunaan akal dalam menafsirkan al-Qur’an, namun dengan syarat harus mengikuti sejumlah kaidah bahasa dan ketentuan lainnya.
SHALAT SEBAGAI PENCEGAH PERBUATAN FAHSYA’ DAN MUNKAR (ANALISIS MUQARAN TAFSIR AL-QURTUBI DAN TAFSIR AL-AZHAR TERHADAP Q.S. AL ‘ANKABUT/29:45) Algifari, Muhammad Shabrun; Zuhra, Ni’matuz
EL-MAQRA' Vol 3 No 1 (2023): Mei
Publisher : IAIN KENDARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/elmaqra.v3i1.6278

Abstract

Penelitian ini berangkat dari permasalahan yang terdapat pada Q.S. Al-‘Ankabu>t/29:45 dalam memahami maksud shalat yang dapat mencegah perbuatan fah{sya>’ dan munkar. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan antara penafsiran Al-Qurt}ubi> dalam Tafsi>r al-Jami’ Li Ah}kam al-Qur’an dan penafsiran Hamka dalam Tafsir al-Azhar yang merupakan dua ulama dari bidang keilmuan tafsir yang berbeda. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif yang menghasilkan data deskriptif melalui riset kepustakaan (library research). Dan menggunakan metode muqa>ran untuk membandingkan kedua kitab tafsir tersebut. Hasil yang ditemukan mengungkapkan bahwa Al-Qurt}ubi> memahami shalat yang dapat mencegah perbuatan fah}sya> dan munkar adalah yang di dalam setiap gerakan pergerakan atau setiap amalan yang dikerjakan baik dari niat untuk wudhu, niat melaksanakan shalat, masuk ke mihrab, takbiratul ihram, sampai salam, masing-masing terdapat zikir di dalamnya. Sehingga zikir yang diulang-ulangi tersebut menjadi kekuatan yang memberikan efek hingga di luar shalat dan menjadikan pelaku yang mengerjakan shalat tersebut terhindar dari perbuatan fah}sya> dan munkar. Sedangkan Hamka tidak memahami ayat ini dari hal tersebut, beliau memaknai shalat yang mencegah perbuatan fah}sya> dan munkar yang dimaksud adalah shalat secara keseluruhan, yakni gerakan dan zikir mencakup suatu kesatuan yang utuh. Kemudian hal itulah yang memberikan dampak pada aktifitas diluar shalat dalam kehidupan sehari-hari dan menjadikan pelaku shalat tersebut terhindar dari perbuatan-perbuatan fah}sya> dan munkar. Perbedaan penafsiran keduanya dipengaruhi oleh latar belakang kehidupan dan bidang keilmuan kedua mufassir. Sehingga mempengaruhi cara penafsiran mereka dalam memaknai Q.S. al-‘Ankabu>t/29:45, yang mana Al-Qurt}ubi> merupakan ulama pada Era klasik yang terkenal dengan keilmuan fiqihnya dan kitabnya yang bercorak Fiqih, sedangkan Hamka merupakan ulama pada Era kontemporer yang terkenal dengan tasawuf modernnya dan kitabnya yang bercorak al-Adab al-Ijtima’i.