Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Law Enforcement and Efforts to Prevent Doping Abuse in Football Athletes Fajriyah, Laila Himmatul; Rusdiana, Emmilia; Faizah, Rohmatul
NOVUM : JURNAL HUKUM Vol. 11 No. 03 (2024): The Epistemic and Normative Being of Law: Protecting Rights, Regulating Pract
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.2674/novum.v0i0.63057

Abstract

Athletes are professional individuals trained to possess agility, strength, and speed for competitive performance. Football athletes, in particular, exhibit a high spirit of competitiveness to bring pride to their country, club, and region. This intense desire to win has led some athletes to resort to doping as a shortcut to enhance performance. This study aims to examine the legal framework governing the use of doping among football athletes in Indonesia, the enforcement of these laws, and the preventive efforts undertaken by the Bojonegoro Regency PSSI Association. Using a sociological juridical approach, data was collected through field studies and interviews with relevant stakeholders. The findings reveal that doping is strictly prohibited in football and is subject to legal sanctions, especially when involving narcotics-type substances. Law enforcement has been effectively implemented against offenders. Furthermore, the Bojonegoro PSSI Regency Association has taken active preventive measures by organizing awareness campaigns and educational sessions. These initiatives are conducted in collaboration with local hospitals and the National Narcotics Agency (BNN) of Tuban Regency. Such efforts aim to enhance athletes' understanding of the dangers and legal consequences of doping, thereby fostering a culture of fair play and clean competition in regional football.
Peran Meme sebagai Instrumen Opini di Media Sosial dalam Membentuk Persepsi dan Respons Publik terhadap Kasus Korupsi di Indonesia Fajriyah, Laila Himmatul
Equality: Law and Social Vol. 1 No. 4 (2026)
Publisher : Riset Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66618/dnm38j55

Abstract

Era digital telah mengubah media sosial menjadi ruang publik baru yang memungkinkan masyarakat untuk berdiskusi mengenai isu politik, sosial, dan hukum, termasuk korupsi yang masih menjadi permasalahan serius di Indonesia. Tingginya tingkat korupsi tidak hanya disebabkan lemahnya regulasi, tetapi juga adanya kesenjangan antara law in book dan law in action sebagaimana dikemukakan Roscoe Pound, yang menunjukkan bahwa hukum yang tertulis tidak selalu sejalan dengan praktik penegakannya. Lambannya respons aparat penegak hukum seringkali mendorong masyarakat untuk memviralkan kasus guna memperoleh perhatian publik (no viral no justice). Namun, tidak semua orang merasa percaya diri untuk membahas isu hukum karena sifat hukum yang kompleks, formal, dan sulit dipahami. Dalam konteks ini, meme hadir sebagai media digital yang sederhana, kreatif, dan mudah diakses untuk menerjemahkan kompleksitas isu korupsi. Meme tidak hanya berfungsi sebagai humor, tetapi juga sebagai wacana sosio-legal yang membentuk opini publik, menjadi alat kritik sosial, serta sarana kontrol sosial terhadap kasus korupsi. Dengan visual yang sederhana dan mudah dikenali, meme mampu memicu respons emosional masyarakat, menciptakan solidaritas, dan membangun persepsi terhadap supremasi hukum. Selain itu, meme sering menjadi narasi tandingan yang menyoroti ketidakadilan hukum dan memperkuat diskursus publik mengenai integritas penegakan hukum. Artikel ini menganalisis bagaimana meme berperan sebagai instrumen budaya digital yang tidak sekadar menghibur, tetapi juga berkontribusi dalam membentuk kesadaran kolektif, emosi publik, dan kontrol sosial dalam isu korupsi di Indonesia.