Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Muhkam Mutasyabih, Seni, Dan Keadilan Sosial Dalam Tanwirul Miqbas Min Tafsir Ibn Abbas Ahmadiy
Jurnal Kajian Islam dan Sosial Keagamaan Vol. 1 No. 4 (2024): April - Juni
Publisher : CV. ITTC INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Al-Qur’an merupakan pusat ajaran Islam telah menjadi bahan pengkajian yang sangat menarik. Ia selalu digali agar ditemukan berbagai mutiara dari dalam kandungannya. Sepanjang perjalanan sejarah Al-Qur’an, berbagai kalangan telah berusaha segenap waktu, tenaga dan fikirannya untuk selalu dapat berinteraksi dengan Al-Qur’an. Semakin intens perhatian yang diarahkan kepadanya, semakin besar daya tarik yang ia pancarkan dan daya tarik tersebut tidak pernah habis dan selalu tampak menarik. Salah satu jenis kajian yang terus berkembang seiring perjalanan waktu adalah kajian tafsir. Cabang ini telah menghasilkan pemikir-pemikir brilian yang telah mampu menjelaskan berbagai macam makna yang terkandung dalam Al-Qur’an dan menghasilkan karya-karya besar. Penafsiran Nabi yang melewati batas-batas leksikal (daftar kata) menjadi pijakan bagi para mufassir pada generasi selanjutnya untuk lebih leluasa mengembangkan serta mengaplikasikan, khususnya terhadap kasus ayat-ayat yang tidak mudah dipahami. Seperti ayat-ayat muhkam mutasyabbih, seni dan keadilan sosial. Salah satu generasi penerus yang melakukan penafsiran seperti yang dilakukan Nabi adalah Ibn Abbas.Ibnu Abbas mendapat julukan Tarjuman al-Qur`an dari para ulama. Hal ini mengindikasikan kepiawaian dan kedalamannya dalam memahami al-Qur`an. Penobatannya sebagai peletak dasar ilmu tafsir menandakan dalamnya pengalaman yang dimiliki dalam dunia penafsiran.
Pemikiran Quraish Shihab Tentang Al-Qur’an, Tafsir Dan Takwil Ahmadiy
Jurnal Kajian Islam dan Sosial Keagamaan Vol. 2 No. 4 (2025): April - Juni
Publisher : CV. ITTC INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Faktor terpenting yang membedakan kita sebagai umat, baik sebagai masyarakat kontemporer atau peradaban klasik, adalah bahwa kita telah menerima wahyu yang memiliki paling tidak tiga keistimewaan. Pertama, wahyu merupakan fase akhir perkembangan dalam sejarah sejak Adam hingga Muhammad. Dengan demikian, kita memiliki wahyu yang tersempurnakan dalam bentuknya yang terakhir, yang dapat diambil sebagai syariat-syariat tanpa menunggu perubahan, penggantian atau penghapusan. Kedua, wahyu terjaga sebagai kitab dalam al-Qur’an, sehingga bebas dari bahaya perubahan yang telah menimpa kitab-kitab suci lain, yaitu Taurat dan Injil dilingkungn Bani Israel. Ketiga, al-Qur’an sebagai kitab suci tidak diturunkan sekaligus, tetapi secara bertahap. Setiap turun sebagai penyelesaian atas situasi, ayat-ayat itu kemudian terakumulasi selama 23 tahun dan menjadi al-Qur’an. Jadi faktor utama yang membedakan kita dengan semua umat dan peradaban kontemporer adalah al-Qur’an. Al-Qur’an adalah kumpulan ayat. Ayat pada hakikatnya adalah tanda dan simbol yang tampak. Namun symbol tersebut tidak dapat dipisahkan dari sesuatu yang lain yang tidak tersurat, tetapi tersirat, sebagaimana diperkenalkan konsep tafsir dan ta’wil. Hubungan antara keduanya, antara makna tersurat dan makna tersirat, terjalin sedemikian rupa, hingga bila tanda dan symbol itu dipahami oleh pikiran, maka makna yang tersirat akan dipahami oleh jiwa seseorang.
Semantik Al-Qur’an (Toshihiko Izutsu): Penelitian Ahmadiy
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 1 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 1 (Juli 2025 -
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i1.2766

Abstract

Babak awal dalam kesadaran semantik, dalam jagad penafsiran al-Qur’an, dimulai sejak sarjana yang bernama Muqatil ibn Sulayman. Meski karya tafsir Mujahid dalam poin tertentu melampaui apa yang telah dilakukan Ibn Sulayman. Karya Ibn Sulayman yang menjadi focus ulasan sebagai babak awal dari kesadaran semantik adalah al-Asybah wa al-Nazha’ir fi al-Qur’an al-Karim dan tafsir Muqatil ibn Sulaiman.Kata semantik merupakan suatu ungkapan yang sangat ambigu (dua pemahaman) dan elusif (sulit dipahami maknanya). Setiap orang yang ingin membicarakan secara tuntas mengenai studi semantic dari obyek apa saja dengan ukuran konsistensi maka mau tak mau harus mencari jalan lain kerah jenis definisi tertentu, yang sampai batas tertentu tidak dapat menghindari sifat sewenang-wenang. Semantik jika dinyatakan secara singkat meliputi suatu studi analitik mengenai suatu segmen (bagian) atau segmen-segmen yang dipermasalahkan. Dalam pengertian ini, semantik semacam suatu ontologi yang kongkret, hidup dan dinamik, bukan semacam ontologi sistematik statis yang dihasilkan seorang filsuf pada tingkat pemikiran metafisika yang abstrak. Analisis semantic ini akan membentuk ontology wujud dan eksistensi pada tingkat kongkret sebagaimana tercermin pada ayat-ayat al-Qur’an. Tujuannya adalah memunculkan tipe ontologi hidup yang dinamik dari al-Qur’an dengan penelaahan analitis dan metodologis terhadap konsep-konsep pokok, yaitu konsep-konsep yang tampaknya memainkan peran menentukan dalam pembentukan visi qur’ani terhadap alam semesta.