Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

al Judzūr al Fikriyyah littatorruf wa Hall Mushkilàtihà Kholilurrohman, H.
Heritage of Nusantara: International Journal of Religious Literature and Heritage Vol. 6 No. 1 (2017): HERITAGE OF NUSANTARA
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31291/hn.v6i1.405

Abstract

Salah satu penyebab utama timbulnya pemahaman ekstrim dalam memahami ajaran agama adalah literalisme. Teks-teks syari’at, baik al-Qur’an atau hadits seringkali dipahami oleh sekte literalis dalam makna yang sangat harfiah. Mereka tidak mempertimbangkan konteks dan latar belakang dari teks-teks tersebut. Pemahaman kebanyakan mereka hanya terbatas pada keyakinan bahwa al-Qur’an merupakan firman Allah dan sabda-sabda Rasul-Nya adalah kebenaran pasti yang harus diterima utuh, literal, dan tanpa interpretasi akal. Catatan ini hendak membongkar akar yang paling mendasar dari timbulnya faham-faham ekstrim, terutama pemahaman kaum literal yang berkesimpulan “at-Ta’wil Ta’thil” (Mentakwil teks adalah sama dengan mengingkari teks itu sendiri). Ini adalah mind idea dari tema ini, sekaligus sebagai tawaran solusi bagi problem di atas. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, dengan melihat takwil ulama klasik dan metodologi mereka dalam menafsirkan teks-teks mutasyabihat. Di bagian akhir tulisan, -selain solusi yang ditawarkan oleh penulis untuk memecahkan problem- disimpulkan dua poin besar; (pertama); bahwa metode takwil dalam memahami beberapa teks syari’at adalah keharusan yang tidak dapat terbantahkan, dan (poin kedua); adalah bahwa kekukuhan yang rigid seperti pemahaman kaum literalis sesungguhnya adalah sebab utama dari lahirnya ajaran-ajaran tasybih, tajsim, skriptural, fundamental, dan ektrim yang hanya akan menganggap hanya paham dia sendiri yang benar mutlak, dan siapapun yang tidak sejalan dengannya adalah paham sesat. Cara memahami teks model kaum literlis seperti ini sangat riskan. Selain berpotensi besar akan menimbulkan klaim terhadap pemahaman yang tidak sejalan dengan tuduhan tabdi’ (membid’ahkan), tafsiq (mem-fasikan), tadl-lil (menyesatkan), bahkan hingga takfir (mengkafirkan) yang tidak didsarkan kepada kaedah-kaedah; akibat yang lebih besar dari itu adalah potensi timbulnya paham-paham terosirme.