Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

STUDI KASUS PENERAPAN TEORI RASIONAL EMOTIF DALAM PENDAMPINGAN BAGI REMAJA YANG SEDANG MENGALAMI KRISIS PERTUMBUHAN SAPUTRI, ADIEK ERMA; WIDIANTO , BUDI
Jurnal Hasil Penelitian dan Pengembangan (JHPP) Vol. 1 No. 4 (2023): Oktober
Publisher : Perkumpulan Cendekia Muda Kreatif Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61116/jhpp.v1i4.194

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pola berpikir para remaja yang dipengaruhi oleh emosi. Teori rasional emotif beranggapan, setiap manusia yang normal memiliki pikiran, perasaan, perasaan, dan perilaku yang ketiganya berlangsung secara bersamaan. Melalui teknik ini Albert Ellis mengungkapkan bahwa proses terapi ini pada dasarnya membentuk pribadi yang rasional, dengan memperoleh jalan pengganti cara-cara berpikir yang irasional. Penelitian menggunakan metode kualitatif melalui tahapan observasi, wawancara, dan pendampingan. Responden yang diteliti sebanyak delapan orang remaja yang bergabung di persekutuan remaja di GKJ Bibisluhur Surakarta. Menurut teori pertumbuhan, remaja mengalami krisis pertumbuhan pada tahap remaja awal dan tengah, yaitu usia 10-16 tahun. Krisis yang dihadapi adalah ketidak percayaan, ragu-ragu, dan kebingungan peran. Krisis ini masih dianggap wajar, karena pada usia sebelumnya remaja memang belum mengerti akan makna, alasan, dan tanggungjawab yang harus dijaga dan ditingkatkan. Hasil dan kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa pola-pola pikir rasional perlu diajarkan kepada remaja supaya remaja dapat menemukan pola-pola berpikir rasional tersebut sebagai penganti pola berpikir yang irasional. menggunakan teori Albert Ellis yaitu Teori A-B-C tentang kepribadian. A adalah keberadaan suatu fakta, tingkah laku, sikap seseorang.. C adalah dampak yang dialami mempengaruhi emosi yang dihadapi. Sedangkan B adalah keyakinan tentang fakta A, dan reaksi emosional yang disebabkan C. Pada bagian A peneliti mendapatkan subjek mengalami krisis kebingungan peran yang disebabkan dari keluarga, diri sendiri dan teman sebaya. Pada bagian B peneliti menemukan sikap subjek yang menjadi kurang percaya diri, merasa terintimindasi, dan kesepian. Pada bagian C peneliti menemukan reaksi subjek secara emosional mengalami trauma, dan harus dibimbing supaya mudah menjalani kehidupan selanjutnya. Tujuan terapi ini adalah pemahaman bahwa setelah melakukan konseling subjek mendapat efek (E) yaitu menemukan solusi dari pendampingan yang dilakukan peneliti dalam wujud (desputing/D) untuk menemukan gagasan dasar dalam berpikir irasional dan menggantikannya menjadi rasional, sehingga teori A-B-C berakhir menjadi A-B-C-D-E.