Percepatan teknologi, yang dipicu oleh teknologi industri 4.0, memengaruhi banyak aspek kehidupan manusia. Salah satunya adalah penggunaan nyanyian jemaat di gereja. Di gereja nyanyian jemaat merupakan bagian yang penting dalam interaksi umat. Nyanyian di gereja inilah yang tidak terkecuali juga mengalami perkembangan yang dipengaruhi oleh percepatan teknologi tadi. Buku nyanyian, sebagai media yang sejak dahulu jamak digunakan, kini mulai tergeser. Media digital kini menjadi fasilitas utama dalam mempelajari, mempersiapkan, dan menyajikan nyanyian dalam ibadah. Media digital mengarahkan pengguna sehingga lebih banyak aktif mendengar daripada membaca partitur. Membaca notasi nyanyian sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan. Sementara itu, mencari (search) dan melihat (view) nyanyian melalui aplikasi musik mulai makin digemari. Makin sering sebuah nyanyian dilihat, maka makin potensial jenis nyanyian yang sama atau serupa untuk direkomendasikan. Kebiasaan para pemusik untuk langsung mencontoh penyajian nyanyian juga menjadi kebiasaan yang jamak. Dalam tulisan ini, penulis menggunakan penelitian kualitatif, yaitu survei kepada pelayan musik muda dan kajian literatur. Dari penelitian ini tampak bahwa pelayan musik generasi muda lebih memilih media digital sebagai cara untuk mengenal dan memilih nyanyian. Tantangannya kini adalah aturan musik dan sejarah yang menjadi jiwa dari sebuah nyanyian justru mulai jarang diperhatikan. Hal ini turut memengaruhi cara gereja berteologi lewat nyanyian jemaat. Daripada mementingkan aspek fungsi dan kedalaman nyanyian, bukan tidak mungkin pilihan nyanyian justru lebih mementingkan tingkat popularitas penggunaan. Melihat gejala ini, sudah saatnya gereja melihat dan mengantisipasi kebiasaan-kebiasaan yang terjadi dalam mempersiapkan nyanyian di ibadahnya, khususnya pada generasi muda.