Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Karakteristik Interior Kopitiam di Kota Malang Melalui Tipologi Arsitektur Dafina Amira
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 12 No. 2 (2024): Jurnal Mahasiswa Arsitektur
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Kopitiam, yang berasal dari budaya Cina dan Melayu, telah menjadi ruang sosial yang populer di Asia Tenggara sejak abad ke-18. Di Malang, popularitas kopitiam meningkat pesat dengan kehadiran anak muda dan mahasiswa, memicu munculnya berbagai kopitiam yang perlu diklasifikasikan dari kafe modern. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik kopitiam di Malang dibandingkan dengan coffee shop atau kafe modern, serta perbedaan dan persamaannya dengan kopitiam asalnya. Teori elemen pembentuk ruang oleh Wicaksono dan Tisnawati (2014) dan teori sistem ruang oleh Bruno Zevi (1974) digunakan untuk menganalisis elemen interior dan karakteristik ruang kopitiam. Pendekatan tipologi diterapkan untuk mengklasifikasikan kopitiam berdasarkan kategori tertentu, memungkinkan identifikasi perbedaan dan persamaan. Objek penelitian meliputi Omah Datok 24, Shou Kopitiam, Laoban Kopitiam, Toko Kopi Kongca, dan Pengyu Kopitiam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kopitiam di Malang mengusung gaya interior tradisional Cina yang kaya budaya, dengan warna, dekorasi, dan material yang mencerminkan identitas lokal. Meskipun berbeda dengan kafe modern dalam integrasi budaya dan praktik tradisionalnya, kopitiam di Malang mempertahankan esensi dasar yang mirip dengan kopitiam di Singapura, menegaskan keberlanjutan konsep budaya di berbagai lingkungan. Kata kunci: Tipologi elemen interior, Kopitiam, Interior Cina ABSTRACT Kopitiams, with their roots in Chinese and Malay cultures, have emerged as popular social spaces across Southeast Asia since the 18th century. In Malang, their popularity has soared with the influx of young people and students, leading to the establishment of numerous kopitiams that need to be distinguished from modern cafes. This research aims to analyze the characteristics of kopitiams in Malang compared to coffee shops or modern cafes, as well as their differences and similarities with their original counterparts. The theory of interior elements by Wicaksono and Tisnawati (2014) and the theory of spatial systems by Bruno Zevi (1974) are employed to examine the interior elements and spatial characteristics of kopitiams. A typological approach is implemented to classify kopitiams based on specific categories, enabling the identification of their distinctions and commonalities. The research subjects include Omah Datok 24, Shou Kopitiam, Laoban Kopitiam, Toko Kopi Kongca, and Pengyu Kopitiam. The findings reveal that kopitiams in Malang embrace a culturally rich traditional Chinese interior style, with colors, decorations, and materials that reflect local identity. While differing from modern cafes in their cultural integration and traditional practices, the kopitiams in Malang retain a fundamental essence similar to those in Singapore, affirming the sustainability of cultural concepts across diverse environments. Keywords: Interior element typology, Kopitiam, Chinese interior
Karakteristik Interior Kopitiam di Kota Malang Melalui Tipologi Arsitektur Dafina Amira
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 12 No. 3 (2024): Jurnal Mshasiswa Arsitektur
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kopitiam, yang berasal dari budaya Cina dan Melayu, telah menjadi ruang sosial yang populer di Asia Tenggara sejak abad ke-18. Di Malang, popularitas kopitiam meningkat pesat dengan kehadiran anak muda dan mahasiswa, memicu munculnya berbagai kopitiam yang perlu diklasifikasikan dari kafe modern. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik kopitiam di Malang dibandingkan dengan coffee shop atau kafe modern, serta perbedaan dan persamaannya dengan kopitiam asalnya. Teori elemen pembentuk ruang oleh Wicaksono dan Tisnawati (2014) dan teori sistem ruang oleh Bruno Zevi (1974) digunakan untuk menganalisis elemen interior dan karakteristik ruang kopitiam. Pendekatan tipologi diterapkan untuk mengklasifikasikan kopitiam berdasarkan kategori tertentu, memungkinkan identifikasi perbedaan dan persamaan. Objek penelitian meliputi Omah Datok 24, Shou Kopitiam, Laoban Kopitiam, Toko Kopi Kongca, dan Pengyu Kopitiam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kopitiam di Malang mengusung gaya interior tradisional Cina yang kaya budaya, dengan warna, dekorasi, dan material yang mencerminkan identitas lokal. Meskipun berbeda dengan kafe modern dalam integrasi budaya dan praktik tradisionalnya, kopitiam di Malang mempertahankan esensi dasar yang mirip dengan kopitiam di Singapura, menegaskan keberlanjutan konsep budaya di berbagai lingkungan. Kata kunci: Tipologi elemen interior, Kopitiam, Interior Cina