Penelitian ini mengeksplorasi konteks sejarah kolonialisme, di mana ketidakstabilan sosial memicu perlawanan politik yang terkait erat dengan semangat keagamaan. Organisasi Islam, terutama Muhammadiyah, muncul untuk melawan kolonialisme, dengan memprioritaskan pendidikan dan penyebaran ajaran agama. Sebagai gerakan modernis, Muhammadiyah bertujuan menanamkan konsep identitas Islam dengan menghilangkan pengaruh budaya agraris dalam Islam dan menekankan kembali pada Al-Qur'an dan Hadis. Didirikan pada tahun 1912 oleh KH Ahmad Dahlan, Muhammadiyah berusaha menyebarkan Islam sebagai rahmat untuk semua, mengatasi beban budaya, dan mengadopsi prinsip operasional, dikenal sebagai khittah perjuangan, yang membimbing kegiatan organisasinya. Review literatur ini menggunakan materi tertulis, termasuk buku dan artikel jurnal, untuk menganalisis prinsip operasional Muhammadiyah, dengan fokus pada gagasan KH Mas Mansur dalam konteks 12 langkah interpretatif. Periode KH Mas Mansur (1938-1940) melibatkan langkah-langkah seperti memperdalam iman, memperluas pemahaman agama, membudayakan budi pekerti, mengajarkan praktik perbaikan diri, memperkuat persatuan, dan terlibat dalam proses penguatan Majlis Tanwir. Studi ini menekankan tujuh langkah yang menargetkan penguatan spiritual dan persatuan nasional, dengan langkah awal yang mendasar, yaitu memperdalam iman. Namun, penelitian ini menegaskan bahwa iman saja tidak cukup; itu harus didukung oleh pola pikir yang luas, menekankan pentingnya memperluas pemahaman agama. Analisis ini berkontribusi pada pemahaman peran kunci Muhammadiyah dalam perlawanan kolonial dan signifikansi abadi prinsip operasionalnya.