Kusuma, Ima Candra
Prodi Kebidanan, Fakultas Kesehatan Dan Teknologi, Universitas Muhammadiyah Klaten

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

ATURAN DASAR PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI (MP-ASI) Ima Candra Kusuma
Jurnal Ilmiah Kesehatan Ar-Rum Salatiga Vol 5, No 1 (2020)
Publisher : STIKES Ar-Rum Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36409/jika.v5i1.99

Abstract

Anak merupakan generasi penerus bangsa. Setelah enam bulan anak mendapatkan ASI eksklusif, maka wajib diberikan makanan pendamping ASI. Pemberian makanan setelah bayi berumur enam bulan akan memberikan perlindungan besar dari berbagai penyakit. Seiring bertambahnya umur bayi, ASI saja tidak mencukupi kebutuhan nutrisinya. MP-ASI diberikan untuk mencukupi kebutuhan nutrisi bayi. Makanan pendamping ASI yang berkualitas mampu meningkatkan perkembangan dan pertumbuhan anak serta terhindar dari stunting. Tujuan literatur riview ini untuk mengetahui aturan dasar pemberian MP-ASI sebagai upaya preventif dalam kejadian stunting. Literatur riview ini menggunakan pendekatan dengan pencarian sumber referensi/literatur baik internasional maupun nasional. Hasil literatur riview ini bahwa upaya yang dapat dilakukan sebagai usaha preventif dalam kejadian stunting antara lain dengan membuat jadwal, mengatur lingkungan dan melaksanakan prosedur.
SWEET POTATO (IPMOEA BATATAS L.) LEAF: ITS EFFECT ON PROLACTIN AND PRODUCTION OF BREAST MILK IN POSTPARTUM MOTHERS Ima Candra Kusuma; Onny Setiani; Umaroh Umaroh; Noor Pramono; Melyana Nurul Widyawati; Suryati Kumorowulan
Belitung Nursing Journal Vol. 3 No. 2 (2017): March - April
Publisher : Belitung Raya Foundation, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.42 KB) | DOI: 10.33546/bnj.72

Abstract

Background: Sweet potato leaf is assumed to be one of alternative herbs that can increase breast milk production. However, there were no studies found in the literature that examine the sweet potato leaves to increase the levels of prolactin and milk production. Objective: To examine the effect of sweet potato (Ipomoea batatas L.) leaf on the level of prolactin and milk production in postpartum mothers. Methods: This was a quasi-experimental study with pretest-posttest design with control group, conducted on November 2016 to December 2016 in the Health Center (Puskesmas) of Boyolali I. Thirty respondents were selected using consecutive sampling, which were divided to be 15 respondents in intervention group and 15 respondents in control group. Enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) was used to measure prolactin levels, while breast milk production was measured based on the volume of breast milk and baby’s weight. Data were analyzed using Independent t-test and paired t-test. Results: Finding showed that there was a significant difference in prolactin levels between the intervention (270.43) and control group (156.28) after intervention with p-value 0.000, and a significant difference in breast milk production in terms of breast milk volume (intervention group 136.33; and control group 119) with p-value 0.028; and baby’s weight (intervention group 3030.3; and control group 2787.33) with p-value 0.000. Conclusion: There was a significant effect of sweet potato (Ipomoea batatas L.) leaf on the levels of prolactin and breast milk production. Thus, it could be suggested that sweet potato leaves should be considered to be one of alternative treatments for health care providers, especially for midwives to help breastfeeding mothers in increasing their breast milk production and prolactin levels. Further research is needed to examine all factors affecting breast milk production.
ATURAN DASAR PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI (MP-ASI) Kusuma, Ima Candra
Jurnal Ilmiah Kesehatan Ar-Rum Salatiga Vol 5, No 1 (2020)
Publisher : STIKES Ar-Rum Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36409/jika.v5i1.99

Abstract

Anak merupakan generasi penerus bangsa. Setelah enam bulan anak mendapatkan ASI eksklusif, maka wajib diberikan makanan pendamping ASI. Pemberian makanan setelah bayi berumur enam bulan akan memberikan perlindungan besar dari berbagai penyakit. Seiring bertambahnya umur bayi, ASI saja tidak mencukupi kebutuhan nutrisinya. MP-ASI diberikan untuk mencukupi kebutuhan nutrisi bayi. Makanan pendamping ASI yang berkualitas mampu meningkatkan perkembangan dan pertumbuhan anak serta terhindar dari stunting. Tujuan literatur riview ini untuk mengetahui aturan dasar pemberian MP-ASI sebagai upaya preventif dalam kejadian stunting. Literatur riview ini menggunakan pendekatan dengan pencarian sumber referensi/literatur baik internasional maupun nasional. Hasil literatur riview ini bahwa upaya yang dapat dilakukan sebagai usaha preventif dalam kejadian stunting antara lain dengan membuat jadwal, mengatur lingkungan dan melaksanakan prosedur.
DETERMINAN KESEHATAN MENTAL IBU HAMIL DI NEGARA BERKEMBANG: SCOPING REVIEW Lusiana Ambarsari; Amrina Nur Rohmah; Ima Candra Kusuma
Jurnal Borneo Cendekia Vol 9 No 2 (2025): Jurnal Borneo Cendekia
Publisher : STIKES Borneo Cendekia Medika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54411/jbc.v9i2.665

Abstract

Kesehatan mental ibu hamil merupakan isu krusial di negara berkembang karena tingginya prevalensi depresi, kecemasan, dan stres yang berdampak pada kesehatan ibu, janin, serta tumbuh kembang anak. Beban masalah meningkat akibat keterbatasan layanan kesehatan jiwa, stigma, dan rendahnya dukungan sosial. Scoping review ini bertujuan untuk mengetahui determinan kesehatan mental ibu hamil di negara berkembang. Scoping review ini dikembangkan menggunakan kerangka Population, Exposure, dan Outcome (PEO). Identifikasi literatur yang relevan dilakukan pada PubMed, ScienceDirect, ProQuest, Wiley, dan Google Scholar. Pencarian literatur yang relevan dilakukan di database yaitu PubMed, Science Direct, Proquest, Wiley Online Library, dan grey literature yaitu google scholar. Proses pencarian literatur yaitu menggunakan PRISMA Flowchart, dan 15 dari 167.980 artikel dipilih berdasarkankriteria inklusi dan eksklusi. Hasil review ditemukan 3 determinan utama, yaitu faktor sosial dan demografis (usia, status pernikahan dan kepuasan hubungan, pendidikan, status ekonomi/pendapatan, pekerjaan, dan tempat tinggal), faktor psikososial dan lingkungan (KDRT, dukungan sosial dan pasangan, dan riwayat gangguan mental sebelumnya), serta faktor obstetri dan kesehatan fisik (riwayat aborsi/keguguran, usia kehamilan, komplikasi kehamilan/penyakit penyerta, dan status paritas). Upaya skrining rutin, peningkatan dukungan sosial, serta penguatan layanan kesehatan jiwa dalam sistem antenatal sangat diperlukan untuk mencegah dan menangani gangguan mental pada ibu hamil di negara berkembang.
Pengaruh Faktor Sosiodemografi Keluarga terhadap Status Gizi Anak Balita Ima Candra Kusuma; Lusiana Ambarsari; Amrina Nur Rohmah
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandala Waluya Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandala Waluya
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883/jikmw.v6i1.1595

Abstract

Status gizi balita merupakan indikator penting dalam menilai pertumbuhan dan perkembangan anak. Faktor sosiodemografi keluarga, seperti tingkat pendidikan ibu, pekerjaan ayah, dan pendapatan keluarga, berperan dalam menentukan status gizi balita. Identifikasi faktor-faktor tersebut diperlukan sebagai dasar penyusunan program intervensi gizi yang tepat sasaran. Menganalisis hubungan faktor sosiodemografi keluarga dengan status gizi anak balita di wilayah kerja Puskesmas Ngawen. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilakukan di Desa Candirejo wilayah kerja Puskesmas Ngawen pada November–Desember 2025. Populasi penelitian adalah seluruh balita usia 12–59 bulan sebanyak 62 balita dengan teknik total sampling. Data faktor sosiodemografi dikumpulkan menggunakan kuesioner, sedangkan status gizi diukur berdasarkan indeks berat badan menurut umur (BB/U) mengacu pada standar WHO. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 5%. Sebagian besar balita memiliki status gizi normal (58,1%). Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan antara usia balita (p-value 0,397) dan jenis kelamin (p-value 0,204) dengan status gizi. Sebaliknya, terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan ibu (p-value 0,001), pekerjaan ayah (p-value <0,001), dan pendapatan keluarga (p-value <0,001) dengan status gizi balita. Tingkat pendidikan ibu, pekerjaan ayah, dan pendapatan keluarga berhubungan dengan status gizi balita, sedangkan usia dan jenis kelamin balita tidak berhubungan. Peningkatan status gizi balita memerlukan dukungan edukasi gizi bagi orang tua serta penguatan kondisi ekonomi keluarga.