Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGARUH KUANTITAS HANTARAN DUTU TERHADAP KEHARMONISAN KELUARGA PERSPEKTIF HUKUM ISLAM Syahputra, Abdurrahman Adi
Qanuni : Journal of Indonesian Islamic Family Law Vol 1 No 02 (2023)
Publisher : Program Studi Hukum Keluarga Islam UIM Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31102/qanuni.2023.1.02.17-28

Abstract

Penelitian ini mengkaji dampak prosesi adat Tolobalango, khususnya tradisi Dutu, terhadap keharmonisan keluarga di Tamalate, Gorontalo. Prosesi ini mencerminkan nilai-nilai lokal dan Islam, serta melibatkan pemberian mahar yang diatur oleh syariah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan wawancara dan observasi. Hasilnya menunjukkan bahwa tradisi Dutu berpengaruh pada aspek finansial, psikologis, dan emosional dalam rumah tangga. Keseimbangan antara tradisi dan Islam perlu dijaga untuk keluarga yang berkelanjutan dan bahagia. Penelitian ini menyarankan dialog dan reformasi dalam tradisi adat, agar nilai-nilai Islam menjadi landasan utama untuk keluarga yang harmonis dan seimbang.
Pandangan Ulama Salafi Dan Nahdhatul Ulama Kota Gorontalo Terhadap Eksistensi Molapi Saronde Pada Prosesi Pohutu Moponika Syahputra, Abdurrahman Adi
Qanuni : Journal of Indonesian Islamic Family Law Vol 2 No 01 (2024): 2024
Publisher : Program Studi Hukum Keluarga Islam UIM Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31102/qanuni.2024.2.01.25-42

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pandangan ulama Salafi dan NU di Kota Gorontalo terhadap pelaksanaan Molapi Saronde dalam prosesi Pohutu Moponika, serta memahami implikasi dari perbedaan pandangan tersebut terhadap integrasi adat dan syariat Islam di daerah tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik wawancara mendalam dan observasi partisipan untuk mengumpulkan data dari ulama-ulama Salafi dan NU. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ulama Salafi menolak Molapi Saronde karena dianggap sebagai bid’ah, potensi syirik, dan tidak sesuai dengan prinsip kesederhanaan serta kemurnian ajaran Islam. Sebaliknya, ulama NU menerima Molapi Saronde sebagai bagian dari budaya lokal yang dapat diterima selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam, menekankan pentingnya integrasi adat dan syariat serta penghargaan terhadap budaya lokal. Perbedaan pandangan ini mencerminkan pendekatan yang berbeda dalam memahami dan mengaplikasikan ajaran Islam dalam konteks budaya lokal, dengan Salafi yang lebih konservatif dan NU yang lebih moderat.