Pattinaja, Aska
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KAJIAN HERMENEUTIK FRASE "SALAH BERDOA" BERDASARKAN YAKOBUS 4:3 SEBAGAI IMPLEMENTASI MOTIVASI DALAM BERDOA Pattinaja, Aska; Maahaly, Caroline; Hendarto, James
EKKLESIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 2 No. 1 (2023): November 2023
Publisher : STT Ekklesia Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63576/ekklesia.v2i1.40

Abstract

The book of James is one of the epistles in the general epistles section of the New Testament. An interesting part of the book is found in James 4:3 which contains a statement by James about the phrase "wrong prayer" which is a major part of the thematic discussion of prayer in the Letter of James. There is no previous researcher who focuses specifically on the phrase "wrong prayer", making this research so important to study because it relates to the wrong motivation in praying, and has implications for receiving answers to prayer from God. This article focuses on discussing the hermeneutic study of the phrase "wrong prayer" as an implementation of motivation in prayer, using qualitative research methods in a hermeneutic exegesis approach. This article finds three appropriate motivations for prayer, as a result of analyzing the phrase "wrong prayer" in James 4:3, namely: first, ask for what is in accordance with God's will; second, do not focus on the answer to prayer, focus on God as the source of life; third, remain grateful if God has not answered prayer because He knows the right time to answer. The results of this study serve as a reference for the implementation of understanding the motivation of every believer who is struggling in prayer and waiting for God's answer. Kitab Yakobus merupakan salah satu dari surat dalam bagian surat-surat umum di dalam Perjanjian Baru. Bagian menarik dari kitab ini terdapat dalam Yakobus 4:3 yang memuat sebuah pernyataan Yakobus tentang frase “salah berdoa” yang termasuk bagian utama dari pembahasan tematik doa dalam Surat Yakobus. Belum terdapat peneliti sebelumnya yang memfokuskan penelitian secara khusus pada frase “salah berdoa” menjadikan penelitian ini begitu penting untuk diteliti karena berhubungan dengan motivasi yang keliru dalam berdoa, serta berimplikasi terhadap penerimaan jawaban doa dari Tuhan. Artikel ini difokuskan untuk membahas kajian hermeneutika dari frase “salah berdoa” sebagai implementasi terhadap motivasi dalam berdoa, dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dalam pendekatan hermeneutik eksegesis. Artikel ini menemukan tiga motivasi doa yang tepat, sebagai hasil analisa frase “salah berdoa” dalam Yakobus 4:3, yaitu: pertama, mintalah apa yang sesuai dengan kehendak Tuhan; kedua, jangan fokus kepada jawaban doa, Fokuslah kepada Tuhan sebagai sumber hidup; ketiga, tetap bersyukur jika Tuhan belum menjawab doa karena Ia tahu waktu yang tepat untuk menjawab. Hasil penelitian ini menjadi rujukan bagi implementasi pemahaman terhadap motivasi setiap orang percaya yang sementara bergumul dalam doa dan menantikan jawaban Tuhan.
JEBAKAN KENYAMANAN BAGI PEMIMPIN DAN IMPLIKASINYA: KAJIAN HERMENEUTIK DOSA REHABEAM BERDASARKAN 2 TAWARIKH 12:1 Pattinaja, Aska; Adiatma, Daniel Lindung
Jurnal Penggerak Vol. 7 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62042/jtp.v7i2.124

Abstract

Kisah Rehabeam dalam 2 Tawarikh 12:1 menggambarkan kebangkitan dan kejatuhan seorang raja yang masa pemerintahannya menandai momen penting dalam sejarah Israel. Ketika kekuasaannya menjadi mapan, Rehabeam memutuskan untuk meninggalkan hukum Tuhan. Pengabaian prinsip-prinsip rohani ini membawa konsekuensi bagi dirinya sendiri dan bangsa Yehuda. Dalam penelusuran literatur, maka riset mengenai Rehabeam hanya terfokus kepada studi tematis dan sejarah sehingga kurang menyasar secara spesifik kegagalan kepemimpinananya. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti secara spesifik nuansa dosa Rehabeam dan implikasinya terhadap kepemimpinan, menyoroti tema-tema kesombongan, kompromi moral, dan pentingnya untuk tetap setia pada tuntunan Ilahi. Berdasarkan metode hermeneutik studi eksegesis, maka penelitian menemukan ada 5 alasan kejatuhan Rehabeam, yakni: Pertama, kesombongan dan keangkuhan Rehabeam. Kedua, Rehabeam tidak mengindahkan nasihat para penatua yang berpengalaman dan bijaksana. Ketiga, Rehabeam mengabaikan Hukum Tuhan. Keempat, Rehabeam telah salah dalam membuat pilihan hidup, dan kelima, Rehabeam mengabaikan kesetiaan kepada Tuhan. Hasil riset ini menggarisbawahi relevansi dari kisah Rehabeam sebagai kisah peringatan bagi para pemimpin di segala zaman untuk waspada dan tidak lupa diri ketika berada dalam keberhasilan dan kesuksesan; jika tidak, maka ada konsekuensi hukuman Allah karena menyimpang dari jalan kebenaran.