Pengembangan suatu wilayah menjadi objek wisata perlu memperhatikan beberapa faktor fisik seperti kondisi fisik lapangan. Kondisi fisik lapangan merupakan faktor yang penting dalam menentukan kesesuaian lahan pengembangan objek wisata. Pengembangan Wisata Waduk Selorejo didasar-kan pada analisis kondisi fisik lapangan dengan menggunakan metode deskriptif kuantitatif untuk menganalisis luas lahan, kemiringan lereng, dan ketinggian yang sesuai sebagai lokasi pengembangan wisata. Data kemiringan dan ketinggian diperoleh dari pengolahan data Digital Elevation Model Nasional (DEMNAS). Objek pengembangan wisata ditentukan berdasarkan pengamatan lapangan secara langsung, Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Malang tahun 2010, dan Peta Potensi Wisata Waduk Selorejo Tahun 2022 oleh Departemen Teknik Geomatika ITS. Ketentuan pengembang-an objek wisata dengan kondisi fisik lapangan diketahui melalui overlay peta topografi dan peta rencana pengembangan objek wisata. Pengembangan objek wisata yang dilakukan menghasil-kan 5 (lima) objek wisata baru berupa area outbound dengan kemiringan lereng sebesar 0%−15%, luas 600 m2, dan keting-gian 637 meter di atas permukaan laut (mdpl); bumi perke-mahan pada kemiringan lereng 0%−8%, ketinggian 640,5 mdpl, dan luas 2.500 m2; wisata petik buah dengan luas 5.000 m2 pada ketinggian 630−633,5 mdpl dan kemiringan lereng sebesar 0%−25%; tempat pemancingan di tepi waduk dengan keting-gian 623 mdpl dan kemiringan lereng mencapai >45% dengan area memancing sepanjang ±50 meter; serta kebun bunga dengan konsep terasering yang terletak pada lahan dengan kemiringan lereng 0% hingga >45% dan ketinggian 574−637 mdpl. Kesesuaian objek wisata yang dikembangkan dengan kondisi fisik lapangan divisualisasikan ke dalam Peta Kesesuai-an Pengembangan Wisata Waduk Selorejo Tahun 2023 dengan skala 1:5.000.