Nukman, Novialdi
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Diagnosis and conservative therapy of retropharyngeal hematoma Novriansyah, Wahyu Tri; Nukman, Novialdi
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol. 52 No. 2 (2022): VOLUME 52, NO. 2 JULY - DECEMBER 2022
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32637/orli.v52i2.431

Abstract

ABSTRACTBackground: Retropharyngeal hematoma is the accumulation of blood clots in the retropharyngeal space which can cause upper airway obstruction. Until now, controversy over surgical versus conservative therapy is still being debated. Purpose: Reporting one rare case of retropharyngeal hematoma. Case report: A 72-year-old man was brought to the emergency room with complaints of worsening dyspnea for 12 hours, after slipped and fell in the bathroom. Physical examination revealed purple discoloration on the posterior pharyngeal wall, CT scan showed inhomogeneous hyperdense masses, and coagulopathy. The patient underwent conservative therapy but finally died on the day-10 of treatment. Clinical question: How effective is the conservative therapy in retropharyngeal hematoma compared to surgical therapy? Review method: A literature search using keywords ”retropharyngeal hematoma” was conducted through Pubmed and Google Scholar. Result: Management of retropharyngeal hematoma is still controversial due to the lack of widely accepted guidelines. Conclusion: Conservative therapy in cases of retropharyngeal hematoma, should be administered aggressively, comprehensively, and with a strict protocol. ABSTRAKLatar belakang: Hematoma retrofaring adalah penumpukan bekuan darah di ruang retrofaring yang dapat menyebabkan obstruksi jalan nafas bagian atas. Hingga saat ini, kontroversi mengenai terapi bedah versus konservatif masih menjadi perdebatan. Tujuan: Melaporkan satu kasus hematoma retrofaring yang jarang terjadi. Laporan kasus: Seorang pria berusia 72 tahun dibawa ke ruang gawat darurat dengan keluhan sesak nafas yang semakin memburuk sejak 12 jam setelah jatuh karena terpeleset di kamar mandi. Pada pemeriksaan fisik didapatkan warna keunguan pada dinding posterior faring, CT scan terlihat massa hyperdense yang tidak homogen, serta koagulopati. Pasien menjalani terapi konservatif namun akhirnya meninggal pada hari ke-10 pengobatan. Pertanyaan klinis: Seberapa efektif terapi konservatif pada hematoma retrofaring dibandingkan dengan terapi bedah? Telaah literatur: Pencarian literatur menggunakan kata kunci ”retropharyngeal hematoma” dilakukan melalui Pubmed dan Google Scholar. Hasil: Penatalaksanaan hematoma retrofaring masih menjadi kontroversi karena belum adanya pedoman yang diterima secara luas. Kesimpulan: Terapi konservatif pada kasus hematoma retrofaring sebaiknya diberikan secara agresif, komprehensif, dan dengan protokol yang ketat. 
Ekstirpasi Polip Plika Vokalis Dekstra dengan Laser Dioda Putra, Dian Pratama; Nukman, Novialdi
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 1 No. 1 (2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v1i1.11

Abstract

Pendahuluan: Polip plika vokalis merupakan suatu lesi jinak, sering terjadi karena penyalahgunaan suara yang berakibat trauma pada plika vokalis. Disfonia merupakan gejala utama kelainan ini. Penatalaksanaan polip plika vokalis dengan terapi konservatif dan tindakan pembedahan. Pada polip plika vokalis yang berukuran besar, tindakan pembedahan menjadi terapi pilihan. Tindakan pembedahan menggunakan laser dioda menjadi pilihan dalam terapi polip plika vokalis, dengan kekurangan dan kelebihannya jika dibandingkan dengan instrumen lainnya. Laporan kasus: Dilaporkan satu kasus polip plika vokalis kanan pada seorang laki-laki usia 62 tahun dengan keluhan utama suara serak. Suara serak pada pasien membaik setelah dilakukan ekstirpasi polip plika vokalis dekstra dengan laser dioda. Kesimpulan: Polip plika vokalis memberikan gejala disfonia. Penyalahgunaan suara dan faktor iritan seperti merokok merupakan penyebab polip plika vokalis. Tindakan ekstirpasi polip plika vokalis dekstra dengan laser dioda memberikan hasil yang memuaskan terhadap keluhan suara pasien. Kata kunci: polip plika vokalis, laser dioda, disfonia, penyalahgunaan suara ABSTRACT Introduction: Vocal cord polyp is a benign lesion, often occurs due to voice abuse resulting in phonotrauma. Dysphonia is the main symptom of this disorder. Management of vocal cord polyps with conservative therapy and surgery. In large vocal cord polyps, surgery is the treatment of choice. Surgery using a diode laser is an option in the therapy of vocal cord polyps, with its advantages and disadvantages when compared to other instruments. Case report: Reported one case of right vocal cord polyp in a 62-year-old man with chief complaint of hoarseness. Hoarseness in the patient improved after surgical therapy with diode laser. Conclusion: Vocal cord polyps will give symptoms of dysphonia. Voice abuse and irritants such as smoking are the causes of vocal cord polyps. Surgery using a diode laser provides satisfactory results for the patient's voice complaints Keywords: vocal cord polyps, diode laser, dysphonia, voice abuse