AbstractAn ongoing Pandemic Covid-19 requires everyone to keep the physical distance in order to protect oneself from one another. But it does not mean that the condition makes our relations collapsed, because distance can be applied but relations should not be spaced moreover, a very close brotherly relationship. So that, the relationship must be implemented in the real context of life.Welleiya is local language word from Lawawang village, Southwest Maluku regency which means eating together in one plate. Welleiya is a family banquets tradition in this village. Based on the present context, Welleiya is impossible done by the extended families but it is possible done by the nuclear families. The reason is because, the essence of Welleiya is advising to humanize humans.This research used a qualitative method with a hermeneutic approach. The author chose to use this kind of method and approach so the author could further explore the meaning of the Welleiya tradition by classifying it from the past context with the present context.This view aimed to prevent gaps between the past and the present contexts, however it is expected that the spiritual and social meanings can be found through the meaning of Welleiya tradition.Therefore, Welleiya tradition cannot be seen as a routine only.Keywords: Covid-19 pandemic, physical distance, family relation, Welleiya tradition. AbstrakPandemic covid-19 yang sedang terjadi ini, mengharuskan kita semua untuk jaga jarak demi mengamankan diri satu dari yang lainnya. Tetapi ini bukan lalu berarti bahwa hal ini kita biarkan sehingga runtuhnya relasi, karena jarak boleh diterapkan tetapi relasi jangan dijarakan apalagi relasi persaudaraan yang sangat erat ikatannya. Untuk itu maka relasi tersebut harus diimplementasikan dalam konteks kehidupan nyata. Welleiya adalah kata yang berasal dari bahasa daerah desa Lawawang, kabupaten Maluku Barat Daya yang memiliki arti makan bersama satu piring. Welleiya merupakan sebuah tradisi jamuan makan bersama dalam keluarga di desa ini. Tradidi ini bagi extended family hal tersebut sekarang mungkin agak sulit dilakukan tetapi hal ini bukanlah sesuatu yang mustahil dilakukan oleh nuclear family. Karena dalam tradisi ini ada puncak pemaknaan yang dapat memanusiakan manusia.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi hermeneutika. Penulis memilih menggunakan metode dan pendekatan seperti ini agar penulis lebih mendalami pemaknaan tradisi Welleiya melalui cara menggolongkannya dari masa lalu dengan konteks masa kini. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi kesenjangan antara masa lalu dan masa kini melainkan dari tradisi Welleiya ini diharapkan dapat ditemukan makna secara rohani maupun sosial. Sehingga tradisi Welleiya ini tidak hanya dipandang sebagai rutinitas saja.Kata kunci: Pandemic Covid-19, jaga jarak, relasi keluarga, Welleiya tradition.