Prasetyono, Juli Dwi
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

STUDI KASUS: PERILAKU PROMOSI KESEHATAN PADA OPERATOR SPBU TERHADAP PAPARAN BAHAYA BENZENA (UAP BENSIN) Prasetyono, Juli Dwi
NURSE: Journal of Nursing and Health Science Vol 2, No 2 (2023): NURSE: Journal of Nursing and Health Sciences
Publisher : Prodi Ilmu Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/nurse.v2i2.33889

Abstract

Background. Working at a petrol station has a considerable and serious impact on the health of workers/labourers. This is because workers, especially petrol station operators, must inhale petrol vapour every working day when serving customers, which can have a direct and long-term health impact. In addition, petrol contains chemicals that can harm the body, and this can result in damage to the brain system, dizziness, cancer, and those who often inhale it can cause death. However, the health behaviours of petrol station operators are still lacking and therefore do not meet optimal health needs while working.Aim. To explore the health promotion behaviour of petrol station workers towards exposure to benzene (gasoline vapour) hazards.Sample. The study population is petrol station operators in West Bandung. The sampling technique that will be carried out in this study is purposive sampling, namely petrol station operators who have worked for at least 12 months.Methods. Data from participants will be obtained by in-depth interviews and observations. This research design uses qualitative research: Case Study on 3 participants who work at DODO X petrol station. The interviews were recorded, transcribed verbatim and analysed using qualitative content analysis using ATLAS.ti software.Results. After the analysis, 3 themes were described with subthemes obtained from the interviews, namely 1) petrol station operators' perceptions of petrol vapour hazards 2) petrol station workers' responses and 3) workplace policies to prevent exposure to petrol vapour hazards.Conclusion.  Improving positive perceptions in preventing health risks, passive and active responses of individual workers and occupational health policies also occupational health nurse role is need to be improved as an effort to make the working community at large healthy, especially petrol station operators.Keywords : petrol station operators, health promotion, workers, benzena AbstrakLatar Belakang. Bekerja di SPBU memiliki dampak yang cukup besar dan serius untuk kesehatan pekerja/ buruh. Hal ini dikarenakan pekerja/buruh terutama operator SPBU harus menghirup uap bensin setiap hari kerja ketika melayani konsumen sehingga dapat berdampak bagi kesehatan secara langsung dan jangka panjang. Selain itu di dalam bensin mengandung zat kimia yang dapat membahayakan tubuh, dan hal demikian bisa berakibat pada kerusakan sistem otak, memberikan efek pusing, kanker, dan terhadap pihak yang sering menghirupnya dapat mengakibatkan kematian. Namun begitu, perilaku kesehatan dari operator SPBU masih kurang sehingga belum dapat memenuhi kebutuhan kesehatan optimal saat bekerja.Tujuan. Mengeksplorasi bagaimana perilaku promosi kesehatan pekerja SPBU terhadap paparan bahaya benzena (uap bensin).Sampel Penelitian. Populasi penelitian adalah operator SPBU yang ada di Bandung Barat. Teknik sampling yang akan dilakukan pada penelitian ini adalah purposive sampling yaitu opeartor SPBU yang telah bekerja minimal 12 bulan.Metode. Data dari partisipan akan diperoleh dengan wawancara mendalam dan observasi. Desain penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif: Case Study pada 3 orang partisipan yang bekerja di SPBU DODO X. The interviews were recorded, transcribed verbatim and analysed using qualitative content analysis menggunakan software ATLAS.tiHasil. Setelah dilakukan analisis diperoleh sebanyak 3 tema yang diuraikan dengan subtema-subtema yang diperoleh dari hasil wawancara tersebut, yaitu 1) persepsi operator SPBU tentang bahaya uap bensin 2) respon pekerja SPBU dan 3) kebijakan tempat kerja untuk mencegah paparan bahaya uap bensin.Kesimpulan.  Perbaikan persepsi yang positif dalam mencegah risiko kesehatan dapat dilakukan oleh perawat kesehatan kerja, respon pasif dan aktif individu pekerja serta kebijakan kesehatan kerja perlu ditingkatkan sebagai upaya menyehatkan masyarakat pekerja secara luas terutama pada operator SPBU.Kata kunci: operator SPBU, Promosi kesehatan, perawat kesehatan kerja, benzena
Occupational health (job dissatisfaction and work life balanced) impacted to poor sleep quality in nurse Prasetyono, Juli Dwi; Permatasari, Henny; Setiawan, Agus; Mulyono, Sigit; Susanto, Tantut; Mansyur, Muchtaruddin
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 1 (2025): Volume 19 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i1.659

Abstract

Background: Nurses constitute the largest proportion of healthcare human resources globally, accounting for 59% of all healthcare professionals worldwide. Poor sleep quality among nurses can lead to decreased performance, lack of concentration, physical and mental health issues, and a reduced quality of life. Purpose: To determine the impact of occupational health (job dissatisfaction and work-life balance) on poor sleep quality in nurses. Method: This study employed a quantitative cross-sectional design with purposive sampling. A total of 38 respondents participated in the study. The research instruments included Microsoft Forms, utilizing the Work-Life Balance (WLB) questionnaire and the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) to assess sleep quality. Results: A total of 92.1% of nurses experienced poor sleep quality, 57.9% WLB was unbalanced, and 76.3% were dissatisfied with their jobs. The results of the bivariate analysis using the chi-square test showed that the p value of WLB was 0.651 and job satisfaction was 0.015*. This indicates that WLB is not related to sleep quality in nurses, while job satisfaction is related to sleep quality in nurses. Conclusion: There is a significant relationship between nurses' sleep quality and job satisfaction, but no association with WLB. Suggestion: Strengthening job satisfaction among nurses should be carried out extensively through strategies such as mindfulness-based stress reduction interventions. These efforts aim to enhance job satisfaction and workplace resilience, enabling nurses to provide optimal patient care in healthcare settings.   Keywords: Job Satisfaction; Nurses; Occupational Health; Sleep Quality; Work-Life Balance.   Pendahuluan: Perawat merupakan sumber daya manusia (SDM) tenaga kesehatan yang paling banyak secara global sebesar 59% dari seluruh profesi kesehatan di dunia. Kualitas tidur yang buruk pada perawat dapat menyebabkan kinerja berkurang, tidak konsentrasi, gangguan kesehatan baik fisik, dan mental serta menurunkan kualitas hidup. Tujuan: Untuk mengetahui dampak kesehatan kerja (ketidakpuasan kerja dan keseimbangan kehidupan kerja) terhadap kualitas tidur yang buruk pada perawat. Metode: Penelitian kuantitatif desain cross-sectional dengan teknik purposive sampling. Sampel pada penelitian sebanyak 38 responden. Instrumen penelitian menggunakan Microsoft form dengan kuesioner Work-Life Balance (WLB) dan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) untuk mengukur kualitas tidur. Hasil: Sebanyak 92.1% perawat mengalami kualitas tidur yang buruk, WLB tidak seimbang 57.9%, dan tidak puas terhadap pekerjaannya sebanyak 76.3%. Hasil analisis bivariat menggunakan uji chi-square, menunjukkan bahwa p-value WLB sebesar 0.651 dan kepuasan kerja 0.015*. Hal ini menunjukkan bahwa WLB tidak berhubungan dengan kualitas tidur pada perawat, sedangkan kepuasan kerja berhubungan dengan kualitas tidur pada perawat. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas tidur perawat dengan kepuasan kerja, tetapi tidak ada hubungan dengan WLB. Saran: Penguatan kepuasan kerja yang diberikan kepada perawat perlu dilakukan secara massif melalui strategi, seperti intervensi mindfulness-based stress reduction program. Hal ini sebagai upaya meningkatkan kepuasan kerja pada perawat dan penguatan resiliensi di tempat kerja agar dapat memberikan asuhan keperawatan yang maksimal pasien di pelayanan kesehatan.    Kata Kunci: Kepuasan Kerja; Kesehatan Kerja; Kualitas Tidur; Perawat; Work-Life Balance.