Wulandari, Christina R
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Resilience in Emerging Adulthood Viewed from Social Support Lekatompessy, Shella Kristiani; Dimala, Cempaka Putrie; Wulandari, Christina R
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 11, No 4 (2023): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v11i4.12335

Abstract

At each stage of development, individuals have tasks and demands that must be met during the transition from adolescence to adulthood. Term Emerging adulthood introduced by Arnett (2000), namely the phase of self-exploration in various aspects during the transition from adolescence to adulthood. To overcome obstacles and challenges in the future emerging adulthood, individuals must have the strength to endure and develop positive emotions. This ability is referred to as resilience. Resilience is an individual's ability to survive and adapt to difficult circumstances in their life. In order for the transition to be successful in facing change, individuals need social support to reduce psychological pressure and control negative emotions. StudyThis aims to determine the impact of social support on resilience in emerging adulthood in Karawang. This quantitative research involved 100 early adults in Karawang using a purposive sampling technique. Data collection was carried out using questionnaires distributed randomly.daring. Resilience is measured using the Connor-Davidson scaleResilience Scale (CD-RISC) modified by Yu & Zhang (2007), while social support was measured using scala Multidimensional Scale Perceived Social Support (MSPSS) from Zimet (2015) theory. The significance value shows that social support has a significant positive influence of (F=13.615) with sig. 0.000 (p<0.05), proving that there is a significant positive influence between social support on resilience in emerging adulthood in Karawang. The analysis results prove the coefficient of determination (R2) of 0.491, which means that social support has an influence of 49.1 percent, the remaining 50.9 percent is influenced by other factors outside the scope of this research. It is hoped that individuals who are in the future emerging adulthood, not to hesitate to ask for physical and psychological support from the surrounding environment in facing a developmental crisis.Di setiap tahap perkembangan, individu mempunyai  tugas serta  tuntutan yang harus terpenuhi di masa transisi dari remaja menuju dewasa. Istilah emerging adulthood dikenalkan oleh Arnett (2000), yaitu fase mengekplorasi diri dalam berbagai aspek di masa peralihan dari remaja menuju dewasa. Untuk mengatasi hambatan dan tantangan di masa emerging adulthood, individu harus memiliki kekuatan untuk bertahan dan mengembangkan emosi positif. Kemampuan ini disebut sebagai resiliensi. Resiliensi adalah kemampuan individu untuk bertahan dan beradaptasi pada keadaan sulit dalam hidupnya. Agar arahtransisi sukses dalam menghadapi perubahan, individu memerlukan dukungan sosial untuk menurunkan tekanan psikologis dan mengontrol emosi negatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak dukungan sosial terhadap resiliensi pada emerging adulthood di Karawang. Penelitian kuantitatif ini melibatkan 100 dewasa awal di Karawang memakai teknik purposive sampling.Pengumpulan data dilakukan menggunakan penyebaran kuesioner secara daring. Resiliensi diukur menggunakan skala Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC) yang dimodifikasi oleh Yu & Zhang (2007), sedangkan dukungan sosial diukur memakai skala Multidimensional Scale Perceived Social Support (MSPSS) dari teori Zimet (2015). Nilai signifikasi menunjukkan bahwa dukungan sosial memiliki pengaruh positif dengan signifikan sebesar (F=13,615) dengan sig. 0.000 (p< 0,05), membuktikan bahwa adanya pengaruh positif yang   signifikan antara dukungan sosial terhadap resiliensi pada emerging adulthood di Karawang. Hasil analisis membuktikan nilai koefisiensi determinasi (R2) sebesar 0.491 yang berarti bahwa dukungan sosial memiliki pengaruh 49,1 persen, selebihnya sebesar 50,9 persen dipengaruhi faktor lain diluar cakupan penelitian ini. Diharapkan individu yang berada di masa emerging adulthood, untuk tidak ragu meminta dukungan secara fisik dan psikologis dari lingkungan sekitar dalam menghadapi krisis perkembangan. 
PENGARUH WORK-STUDY CONFLICT DAN OPTIMISME TERHADAP KOMITMEN ORGANISASI PADA ANGGOTA ORMAWA DI UNIVERSITAS BUANA PERJUANGAN KARAWANG Febrianti, Iceu; Simatupang, Marhisar; Wulandari, Christina R
Jurnal Psikologi : Media Ilmiah Psikologi Vol 21, No 2 (2023): Jurnal Psikologi : Media Ilmiah Psikologi
Publisher : Esa Unggul University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/jpsi.v21i2.323

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh work-study conflict dan optimisme terhadap komitmen organisasi pada mahasiswa anggota organisasi mahasiswa di Universitas Buana Perjuangan Karawang. Terdapat tiga variabel dalam penelitian ini, yakni work-study conflict, optimisme dan komitmen organisasi. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 84 mahasiswa aktif di UBP Karawang yang mengikuti organisasi serta bekerja. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik sampling jenuh dimana semua populasi digunakan sebagai sampel penelitian. Skala yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari skala work-study conflict dan komitmen organisasi yang dirancang oleh peneliti. Skala optimisme yang digunakan merupakan modifikasi dari life orientation test. Uji hipotesis menggunakan uji regresi linear berganda. Hasil penelitian menemukan bahwa work-study conflict dan optimism berpengaruh terhadap komitmen organisasi (p < 0,05). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa work-study conflict dan optimisme memiliki pengaruh yang signifikan terhadap komitmen organisasi. Hasil temuan ini menjadi pertimbangan dalam membuat penangan untuk meningkatkan komitmen organisasi anggota organisasi mahasiswa di UBP Karawang dengan menerapkan sikap optimisme dan work-study conflict yang terjadi pada mahasiswa yang bekerja dan aktif mengikuti organisasi.
Can Self-Efficacy Serve as a Mediator Variable of Hardiness to Cheating Behavior in College Students? Agustin, Sofhie Istiqomah; Dimala, Cempaka Putrie; Wulandari, Christina R
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 11, No 2 (2023): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v11i2.11767

Abstract

Cheating behavior is nothing new nowadays. This dishonest behavior is considered normal in the world of education. If it continues, there are possibility that this dishonesty behavior will also be applied in every  social situations. This research aims to determine the role of hardiness in cheating behavior through self-efficacy. This research involved 400 college students. The Cheating Behavior measuring instrument use the Cheating Behavior Scale based on Cizek category  (2003). The Hardiness Scale modified from the Christianto and Amalia scale (2022), and the Self-Efficacy Scale were measured using a modified Indonesian version of the General Self-Efficacy Scale from Novrianto et al (2019). The approach used in this research is a quantitative approach with statistical analysis, namely regression analysis. The results showed that: (1) there is a significant direct role of hardiness on cheating behavior; (2) There is a significant direct role of hardiness on self-efficacy; (3) There is a significant direct role of self-efficacy on cheating behavior; (4) Self-efficacy can play a significant role as a mediator variable from hardiness to cheating behavior. It can be concluded that hardiness plays a role in cheating behavior through self-efficacy as a mediator variable. The role obtained from hardiness and self-efficacy towards cheating behavior together is equal to 29.3% with effective contributions of hardiness is 23.9% and self-efficacy is 5.3%. The implication of this research is the importance of hardiness as an individual personality characteristic, this affects self efficacy. Thus the possibility of individuals to do cheating behavior in academic environment will be low.Perilaku menyontek bukanlah hal yang baru pada saat ini. perilaku tidak jujur ini sudah dianggap biasa dalam dunia pendidikan, jika terus dibiarkan maka tidak menutup kemungkinan perilaku ketidakjujuran ini akan diterapkan juga dalam lingkungan sosial sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran efikasi diri sebagai variabel mediator dari  hardiness terhadap perilaku menyontek. Teknik sampling penelitian ini menggunakan kuota sampling dengan sampel sebanyak 400 mahasiswa di Karawang. Alat ukur Perilaku Menyontek dalam penelitian ini menggunakan Skala Perilaku Menyontek (Cheating) berdasarkan kategori Cizek (2003). Skala Hardiness yang  dimodifikasi  dari skala Christianto dan Amalia (2022), dan Skala  Efikasi diri diukur menggunakan modifikasi General Self Efficacy Scale (GSES) Versi Indonesia dari Novrianto, et al (2019). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan analisis statistik yaitu analisis regresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Terdapat peran langsung yang signifikan dari hardiness terhadap perilaku menyontek; (2) Terdapat peran langsung yang signifikan dari hardiness terhadap efikasi diri ; (3) Terdapat peran langsung yang signifikan dari efikasi diri terhadap perilaku menyontek; (4) Efikasi diri dapat berperan signifikan sebagai variabel mediator dari hardiness terhadap perilaku menyontek. Dapat disimpulkan bahwa terdapat peran hardiness terhadap perilaku menyontek melalui efikasi diri sebagai variabel mediator. Peranan yang diperoleh dari hardiness dan efikasi diri terhadap perilaku menyontek secara bersama-sama yaitu sebesar 29.3% dengan sumbangan efektif hardiness sebesar 23.9% dan efikasi diri sebesar 5.3%. Implikasi pada penelitian ini yaitu pentingnya hardiness sebagai karakteristik kepribadian individu, hal ini berpengaruh terhadap efikasi diri. Sehingga, kemungkinan individu untuk melakukan perilaku menyontek di lingkungan akademik akan rendah.