Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Sirok Bastra

PERAN SINTAKTIS SUBJEK DALAM KONSTRUKSI KALIMAT DASAR BAHASA INDONESIA A. Danang Satria Nugraha
Sirok Bastra Vol 3, No 2 (2015): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.79 KB) | DOI: 10.37671/sb.v3i2.59

Abstract

Penelitian ini membahas peran sintaktis subjek dalam konstruksi kalimat dasar bahasa Indonesia. Tujuan penelitian ini mendeskripsikan peran sintaktis subjek yang berdistribusi bersama predikat berpengisi verba bervalensi satu, dua, atau tiga dalam konstruksi kalimat dasar. Teori peran sintaktis dan metode simak, catat, serta agih digunakan dalam penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran sintaktis subjek dalam kalimat dasar terdiri atas tiga tipe kaidah distribusi, yaitu (1) tipe A yang berupa peran agentif, objektif, atau pengalam bila subjek berdistribusi bersama verba bervalensi satu, (2) tipe B yang berupa peran agentif, objektif, atau pengalam bila subjek berdistribusi bersama verba bervalensi dua, dan (3) tipe C yang berupa peran agentif atau objektif bila subjek berdistribusi bersama verba bervalensi tiga.
CIRI MORFOSEMANTIK AFIKS DERIVASIONAL {ME(N)-} DALAM KONSTRUKSI VERBA DENUMERAL BAHASA INDONESIA (Morphosemantic Features of Derivational Affix {Me(N)-} in The Indonesian Denumeral Verb Constructions) Danang Satria Nugraha
Sirok Bastra Vol 9, No 2 (2021): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37671/sb.v9i2.317

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan ciri-ciri morfosemantik afiks derivasional {me(N)-} dalam konstruksi verba denumeralia bahasa Indonesia (bI). Konstruksi verba denumeralia dipahami sebagai kata kerja derivasional atau verba turunan. Sebagai konstruksi derivasional, sumber asal verba denumeralia adalah kata bilangan atau numeralia. Beberapa contoh konstruksi dalam bI antara lain (a) {menyatu} seperti dalam klausa “setiap reaksi hidup kita akan menyatu dengan Firman-Nya” dan (b) {mendua} seperti dalam klausa “banyak kata yang kini artinya mendua”. Data dalam penelitian ini berupa konstruksi verba denumeralia berpemarkah afiks {me(N)-}. Sumber data adalah korpus bI dengan identitas Leipzig Corpora Collection dengan alamat https://corpora.uni-leipzig.de/en?corpusId=ind_mixed_2013. Data dikumpulkan melalui teknik korpus. Data dianalisis berdasarkan teknik bagi unsur langsung dengan mengacu pada teori Morfologi Derivasional (Lieber, 2017) dan Semantik Transposisional (Lieber, 2015). Berdasarkan analisis, dihasilkan dua temuan sebagai berikut. Pertama, secara umum afiks derivasional {me(N)-} berstatus sebagai pembawa ciri morfosemantik pada proses derivasi numeralia ke dalam verba. Tanpa kehadiran afiks {me(N)-}, ciri-ciri verba tidak dapat disematkan pada numeralia. Kedua, secara khusus, konstruksi verba denumeralia berpemarkah {me(N)-} memiliki kecenderungan untuk (a) menderivasikan numeralia kardinal baik takrif maupun tak takrif, (b) membentuk tipe semantis verba ‘proses’ dan makna gramatikal “X menjadi Y”, dan (c) memberikan status peran ‘pengalam’ pada argumen letak kiri yang menyertai VDnum. Sebagai simpulan, dapat dinyatakan bahwa ciri morfosemantik afiks derivasional {me(N)-} dalam konstruksi VDnum tercipta melalui proses morfologi derivasional. Ciri tersebut dapat dideskripsikan ketika afiks {me(N)-} berdistribusi secara lengkap bersama numeralia kardinal dalam suatu konstituen verba bI. This study aims to describe the morphosemantic characteristics of derivational affix {me(N)-} in the construction of Indonesian denumeral verbs (bI). Denumeral verb construction is understood as a verb or derived verb. As a derivational construction, the source of the origin of denumeral verbs is the word number or numeralia. Some examples of constructions in bI include (a) uniting as in the clause that every reaction of our lives will unite with His Word and (b) ambiguity as in the clause of many words which now have two meanings. The data in this study are denumeral verb constructions with affix mark {me(N)-}. The data source is the bI corpus with the identity of the Leipzig Corpora Collection with the address https://corpora.uni-leipzig.de/en?corpusId=ind_mixed_2013. Data were collected through the corpus technique. The data were analyzed based on the technique for direct elements regarding the theory of Derivational Morphology (Lieber, 2017) and Semantics of Transposition (Lieber, 2015). Based on the analysis, two findings were produced as follows. First, in general, derivational affixes {me(N)-} have the status as carriers of morphosemantic characteristics in the derivation process of numerals into verbs. Signs of the presence of affixes {me(N)-}, verb characteristics cannot be attached to numerals. ralia. Second, in particular, the construction of denumeral verbs marked with {me(N)-} tends to (a) derive cardinal numerals both indicative and non-descriptive, (b) form the semantic type of the verb 'process' and the grammatical meaning of "x menjadi Y, and (c) assigns the role state 'experience' to the left position argument accompanying veba. In conclusion, it can be stated that the morphosemantic characteristics of derivational affix {me(N)-} in the construction of denumeral verbs are created through a derivational morphological process. These characteristics can be described when the affix {me(N)-} is completely distributed with cardinal numerals in a constituent verb of bI.
PERBANDINGAN FITUR MORFOLOGIS ANTARA VERBA DENOMINATIF DALAM BAHASA INDONESIA DAN BAHASA INGGRIS (The Morphological Comparison of Denominal Verbs in The Bahasa Indonesia and The English) Danang Satria Nugraha; I. Praptomo Baryadi
Sirok Bastra Vol 7, No 2 (2019): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37671/sb.v7i2.171

Abstract

AbstrakPredikat dalam bahasa Indonesia (bI) dan bahasa Inggris (bIng) secara umum diisi oleh kata kerja atau verba. Kelaziman tersebut berimplikasi pada munculnya fenomena perubahan kelas kata nomina menjadi verba. Konstruksi yang diciptakan dari proses perubahan tersebut dikenal dengan verba denominatif (VDn). Konstruksi VDn dalam bI dapat berwujud membukukan, berpidato, menggambarkan, dan sejenisnya. Konstruksi VDn dalam bIng dapat berwujud summarize, darken, beautify, dan sejenisnya. Melalui penelitian ini, fenomena konstruksi VDn dalam dua bahasa tersebut diperbandingkan. Pembandingan dilakukan untuk mendeskripsikan fitur morfologis konstruksi VDn dalam bI dan bIng. Data berupa konstruksi VDn yang mengisi fungsi predikat klausa atau kalimat bI dan bIng yang dikumpulkan dengan menggunakan metode simak (observasi) model Sudaryanto (2015). Data dianalisis berdasarkan landasan teoretis morfologi kontrastif (contrastive morphology) (Lefer, 2011). Hasil penelitian menunjukkan dua deskripsi kecenderungan. Pertama, secara khusus, aspek persamaan bersumber pada (a) afiks derivasional sebagai pemarkah konstruksi dan (b) jenis nomina yang diderivasikan. Kedua, aspek perbedaan terdiri atas (a) distribusi afiks derivasional bI lebih bervariasi daripada bIng dan (b) pola pembentukan konstruksi VDn bI lebih bervariasi daripada bIng.Kata kunci: verba denominatif, morfologi kontrastif, bahasa Indonesia, bahasa Inggris AbstractThe function of predicate of the Bahasa Indonesia and the Englsih commonly filled by the verb classes. That syntactical order stimulates the phenomenon of word class-changes, namely from noun into verb. The construction that producted by those process identified as denominal verb (VDn). The constructions of VDn of Bahasa Indonesia appear on many form, for example membukukan, berpidato, menggambarkan, and so on. In addition to Bahasa Indonesia, the VDn of English appear on several forms, for example summarize, darken, beautify, and so on. In this study, the phenomenon of VDn of the Bahasa Indonesia and the English compared to describe the morphological feature of VDN on those two languages. The data were clause or sentence of the Bahasa Indonesia and the English that using VDn as a predicate. The data of study collected by observation method (simak) formulated by Sudaryanto (2015). The analysis of data based on the theoretical framework of Contrastive Morphology  (Lefer, 2011). The results show two descriptions of tendency. First, the similarity of VDn of the Bahasa Indonesia and the English is on (a) the derivational affixes as a VDn marker and (b) the types of noun as a based morpheme. Second, the difference of VDn of the Bahasa Indonesia and the English is on (a) the distribution of afffixes on the VDn of Bahasa Indonesia were more varied than the VDn of English and (b) the pattern of formation of VDn of the Bahasa Indonesia more varied than the VDn of the English. Keywords: denominal verbs, contrastive morphology, the bahasa Indonesia, the English 
PERLUASAN MAKNA LEKSEM ANAK DALAM BAHASA INDONESIA A. Danang Satria Nugraha
Sirok Bastra Vol 4, No 1 (2016): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.571 KB) | DOI: 10.37671/sb.v4i1.70

Abstract

Penelitian ini membahas perluasan makna leksem anak dalam bahasa Indonesia (bI). Metode observasi digunakan selama penyediaan data dan metode padan digunakan selama analisis data. Data berwujud kalimat yang bersumber pada penggunaan bahasa Indonesia baik secara lisan maupun tertulis. Hasilpenelitian menunjukkan perluasan makna leksem anak dapat dideskripsikan melalui tiga bagian pembahasan, yaitu (a) konstruksi idiomatis, (b) makna literal dan makna perluasan, dan (c) jejaring semantis leksem anak. Konstruksi idiomatis leksem anak terdiri atas enam tipe, yaitu [X + N], [X + Adj.], [X + V], [X + N + N], [X + N + V], dan [X + Num. + N]. Makna literal leksem anak adalah ‘keturunan yang keduaʼ. Makna perluasan leksem anak sekurang-kurangnya berjumlah tujuh, yaitu ‘urutan kelahiranʼ, ‘manusia yang masih kecilʼ, ‘binatang yang masih kecilʼ, ‘pohon kecil atau tanaman yang tumbuh pada tumbuh-tumbuhan yang lebih besarʼ, ‘orang yang berasal dari atau dilahirkan di suatu daerahʼ, ‘orang yang termasuk dalam suatu golonganʼ, dan ‘yang lebih kecil daripada yang lainʼ. Jejaring semantis leksem anak mengilustrasikan arus perluasan makna dari ranah literal ke ranah perluasan.
STRUKTUR TEMA-REMA DALAM TEKS ABSTRAK BERBAHASA INDONESIA A. Danang Satria Nugraha
Sirok Bastra Vol 5, No 1 (2017): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (645.664 KB) | DOI: 10.37671/sb.v5i1.91

Abstract

Manifestasi pesan dalam teks abstrak tersusun dalam struktur tema-rema. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan struktur tema-rema tersebut, khususnya dalam teks abstrak berbahasa Indonesia (bI). Penelitian ini menggunakan metode simak/dokumentasi pada pengumpulan data dan metode agih/distribusional pada penganalisisan data. Data berwujud kalimat-kalimat deklaratif. Penelitian ini menunjukkan bahwa struktur tema-rema dalam teks abstrak berbahasa Indonesia terdiri atas empat klasifikasi struktur, yaitu (a) tema tunggal (TT), (b) tema ganda (TG), (c) rema tidak berekor (RTB), dan (d) rema berekor (RB). Struktur tema tunggal diwujudkan dalam frasa dan klausa. Sementara itu, baik struktur tema ganda, rema tidak berekor, maupun rema berekor diwujudkan sesuai pola frasa dan pola kombinasi frasa-klausa.