Tappil Rambe
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Perang Aceh Perlawanan terhadap Kolonialisasi Belanda Aceh War Resistance Against the Colonialization of the Netherlands Ika Purnamasari; Tappil Rambe; Juni Elfi Br Purba; Dwi Adinda; Muhammad Waldano
Public Service and Governance Journal Vol. 5 No. 2 (2024): Juli: Public Service and Governance Journal
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/psgj.v5i2.1507

Abstract

The Sultanate of Aceh Darussalam is a sovereign kingdom, the Aceh region is famous for its high-value crops throughout the world, Aceh is a large, strong and influential empire in Sumatra, its strategic location makes European countries especially the Netherlands want to control the Aceh Sultanate, but there is public resistance aceh, where the aceh war or sabil war is the war of the aceh people to defend the homeland from the Dutch colony. The Aceh war was motivated by general and special causes that made the Dutch attack Aceh, but the Acehnese people fought against Dutch colonialism and were led by resistance figures such as: Teuku Cut Ali, Teuku Umar, Teuku Cik Di Tiro, and Cut Nyak Dien .this aceh war had an impact on the aceh people and left a legacy in aceh of Dutch colonization.
Perang Aceh Perlawanan terhadap Kolonialisasi Belanda Aceh War Resistance Against the Colonialization of the Netherlands Ika Purnamasari; Tappil Rambe; Juni Elfi Br Purba; Dwi Adinda; Muhammad Waldano
Public Service and Governance Journal Vol. 5 No. 2 (2024): Juli: Public Service and Governance Journal
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/psgj.v5i2.1507

Abstract

The Sultanate of Aceh Darussalam is a sovereign kingdom, the Aceh region is famous for its high-value crops throughout the world, Aceh is a large, strong and influential empire in Sumatra, its strategic location makes European countries especially the Netherlands want to control the Aceh Sultanate, but there is public resistance aceh, where the aceh war or sabil war is the war of the aceh people to defend the homeland from the Dutch colony. The Aceh war was motivated by general and special causes that made the Dutch attack Aceh, but the Acehnese people fought against Dutch colonialism and were led by resistance figures such as: Teuku Cut Ali, Teuku Umar, Teuku Cik Di Tiro, and Cut Nyak Dien .this aceh war had an impact on the aceh people and left a legacy in aceh of Dutch colonization.
Peranan Sangkep Nggeluh (Sistem Kekerabatan) dalam Upaya Penyelesaian Masalah Nangkih (Kawin Lari) Studi Kasus Desa Persadanta Endang Aloina Br Barus; Aminah Safitri Siregar; Elida Wardah Lubis; Febiola Elisabeth Br Sembiring; Tappil Rambe
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 5: Agustus 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i5.18060

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fenomena terjadinya Nangkih (Kawin Lari) di Desa Persadanta, Penyebab terjadinya Nangkih (Kawin Lari) di Desa Persadanta, Makna yang terkandung dalam Sangkep Nggeluh (Sistem Kekerabatan) di Desa Persadanta, Peran dan tanggung jawab Sangkep Nggeluh (Sistem Kekerabatan) dalam menyelesaikan Nangkih (Kawin Lari) di Desa Persadanta. Peneliti menggunakan Metode Kualitatif dengan Pendekatan Studi Kasus untuk memperoleh data-data melalui Observasi, Wawancara, dan Studi Kepustakaan kemudian disajikan secara deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa Nangkih merupakan kawin lari yang dibenarkan dalam adat istiadat karo dimana sepasang kekasih memilih menikah secara diam-diam karena memiliki hambatan dari luar namun saat ini Nangkih di Desa Persadanta sudah dianggap hal yang negatif karena dilakukan tanpa adanya restu dari orang tua terlebih dahulu. Faktor penyebab Nangkih di Desa Persadanta yaitu tidak direstui orang tua (Perbedaan agama, Menikah dengan keluarga yang tidak bisa dinikahi dan Status sosial), Mendesak (Hamil), dan Ngobah-ngobah bicara (Merubah pembicaraan). Makna yang terkandung dalam Sangkep Nggeluh yaitu Rakut Sitelu sebagai tatanan kekerabatan, Merga Silima sebagai identitas sah sebagai orang karo, Gotong royong, dan tanggung jawab moral untuk hidup yang harmonis. Peran dan tanggung jawab Sangkep Nggeluh yang utama terletak pada Rakut Sitelu, Senina/Sembuyak yang berperan sebagai kepanjangan tangan bagi Anak Beru dan Sukut (Tuan rumah), Anak Beru sebagai jembatan komunikasi keluarga pihak laki- laki dan perempuan serta bertugas dalam menyiapkan kebutuhan logistik dan Kalimbubu berperan sebagai orang yang memberi saran, pendapat serta masukan kepada Anak Beru, dan Sukut agar Nangkih dapat diselesaikan dengan baik.