Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Akuaponik Sebagai Solusi Untuk Ketahanan Pangan dan Pemberdayaan Masyarakat di Kelurahan Bejen Kabupaten Karanganyar Negara, Muh. Radhitya Kusuma; Milal, Malihatul; Simanjuntak, Michael Prilas; Putri, Deanna Amanda; Hapsari, Sandra Kartika; Chairani, Deswita Putri; Respati, Yohana Natalia Lintang; Istiqomah, Nurul
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa Vol. 2 No. 2 (2024): April
Publisher : Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/jpmba.v2i2.808

Abstract

Akuaponik merupakan sistem pertanian berkelanjutan yang mengintegrasikan budidaya ikan dengan pertanian tanaman secara bersamaan. Sistem ini telah dilakukan sejak lama dan terus diperbarui dengan menyesuaikan modal dari pemilik. Hal iniĀ  membuat Akuaponik menjadi alternatif dalam melakukan pertanian yang ramah lingkungan namun juga terjangkau oleh masyarakat miskin. Ketahanan pangan yang menjadi masalah bagi banyak orang dapat teratasi dengan Akuaponik yang merupakan bagian dari pertanian berkelanjutan. Ketahanan pangan berkaitan erat dengan sadarnya kebutuhan gizi dalam penyajian makanan dan perekonomian dalam ruamh tangga. Kedua hal ini sangat erat kaitannya dengan ibu rumah tangga. Ibu-ibu rumah tangga menjadi orang yang bertanggung jawab dalam penyajian makanan dan perekonomian keluarga. Oleh karena itu, sasaran program ini jatuh pada ibu rumah tangga di Kampung Munggur Lor, Kelurahan Bejen, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Karanganyar. Pengabdian ini dilaksanakan dengan memberikan pengenalan melalui sosialisasi yang menghadirkan narasumber, kemudian dilanjutkan dengan pelatihan dan pembuatan Akuaponik. Kegiatan ini diikuti oleh ibu rumah tangga dari enam RT yang masing-masing mendapatkan satu paket perlengkapan untuk membuat Akuaponik. Dalam waktu sebulan, telah berhasil memanen kangkung dan satu kali panen lele. Kegiatan Akuaponik hadir dengan harapan akan membawa keberlanjutan dalam praktiknya dan membawa manfaat bagi ibu rumah tangga.
Strategi Direktorat Jenderal bea dan Cukai (DJBC) Dalam Manajemen Komunikasi Krisis Putri, Deanna Amanda; Rahmanto, Andre Noevi
Jurnal Komunikasi Massa Vol 17, No 2 (2024): Jurnal Komunikasi Massa Volume 17 Nomor 2 Desember 2024
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jkm.v17i2.95621

Abstract

In the digital era, public perception of an organization or institution can be easily shaped and rapidly changed. This is due to the ease of access to information and its dissemination through social media, online news, and other digital platforms. In this environment, both accurate and inaccurate information can quickly go viral, influencing public opinion within minutes or hours. As a result, an organization's reputation can be significantly impacted, either positively or negatively, depending on how the information is interpreted by the public. Direktorat Jenderal Bea Dan Cukai (DJBC) faced crisis communication issues due to several incidents that occurred in April-May 2024, involving;1). imported shoes, 2). donated equipment for Sekolah Luar Biasa (SLB), and 3). robotic shipments. These crises have triggered negative sentiment from the public toward DJBC. This study uses a qualitative approach with a case study method and purposive sampling technique to collect data through interviews with six (6) informants. Based on the Situational Crisis Communication Theory (SCCT), DJBC has navigated the pre-crisis, crisis, and post-crisis phases by implementing communication strategies that include a deny strategy with denial and scapegoat elements, diminish strategy through excuses during the crisis, and rebuild strategy through apology and bolstering strategy via reminders and ingratiation in the post-crisis phase. An analysis of the three main factors determining the threat of a crisis to an organization Crisis Responsibility, Crisis History, and Prior Relational Reputation indicates that DJBC faces significant challenges in managing its crisis communication in the current era.