Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

JEJARING SASTRA: ALTERNATIF PEDAGOGI KAJIAN STRUKTUR SASTRA (PENERAPAN PADA NOVEL DASAMUKA KARYA JUNAEDI SETIONO) Peni Adji, Susilawati Endah
Prosiding Seminar Nasional dan Internasional HISKI 2024: Konferensi Internasional Kesusastraan XXXII HISKI (Maret 2024)
Publisher : Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51817/psni.v1i0.148

Abstract

Teori strukturalisme dengan kajian strukturnya  telah berkembang pesat dan menjadi dasar bagi perkembangan teori-teori besar berikutnya, seperti  sosiologi sastra, psikologi sastra, poskolonial, ekokritik, dan postruktural. Namun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa kajian struktur sastra, tetaplah penting dan terus dikembangkan. Penerapan teori ini telah banyak dipakai dalam pedagogi/pembelajaran sastra di Indonesia, baik di SD, SMP, maupun SLTA. Pembelajaran struktur sastra tersebut secara garis besar memandang bahwa sastra terdiri dari unsur-unsur seperti alur, tokoh, latar, tema, sudut pandang, gaya, dll.Artikel ini bertujuan memberikan alternatif  dalam pedagogi pembelajaran  struktur karya sastra, yaitu teori jejaring sastra yang dikemukakan oleh Franco Moretti (2011). Secara kuantitatif dan komputasional,  jejaring sastra terdiri dari (1) simpul (tokoh), (2) tepi yang merupakan relasi tokoh dengan tokoh-tokoh, dan (3) model yang merupakan turunan jejaring utama yang berfungsi untuk melihat hubungan yang lebih spesifik dari tokoh  (simpul) dan relasinya (tepi) dan berfungsi untuk melihat sentralitas permasalahan cerita,  konflik, serta  pengelompokan tokoh.Penerapan teori jejaring Moretti dalam novel Dasamuka karya Junaedi Setiono ini dinemukan adanya 29 simpul (tokoh) dengan tepi  (hubungan tokoh) yang sangat visible. Berdasarkan simpul dan tepi tersebut, tampaklah bahwa terdapat tiga tokoh penting yang kemudian diturunkan ke dalam model. Terdapat tiga model yang merupakan turunan dari jejaring utama novel, yaitu model tokoh Williem, Dasamuka, dan Den Wahyono. Dari tiga model tersebut, terungkap bahwa sentralitas permasalahan cerita novel Dasamuka adalah bronjong yang merupakan metafora relasi kekuasaan politik di Pulau Jawa.