Fungsi Al-Qur’an diantaranya adalah memberikan solusi terhadap masalah kehidupan masyarakat, termasuk kemerosotan moral pada anak yang terjadi di zaman sekarang ini. Namun selain itu harus ada jiwa-jiwa dan semangat orang tua untuk membekali anak dalam melawan tantangan melalui pendidikan anak secara benar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penafsiran Sayyid Quthb dan Buya Hamka terhadap ayat pendidikan anak dalam surat Luqman ayat 12-19. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode muqorin (metode komparasi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam menafsirkan surat Luqman ayat 12-19, baik Buya Hamka maupun Sayyid Quthb memberikan makna yang sama, saling menguatkan satu sama lain. Ayat 12 mengarahkan kepada kesyukuran, ayat 13 merupakan nasihat yang mengandung pengikraran tauhid, ayat 14 mengandung syukur kepada orang tua, ayat 15 menunjukkan ikatan nasab berada dalam urutan setelah ikatan akidah, ayat 16 menunjukkan bahwa Allah Maha Teliti atas segala sesuatu, ayat 17 merupakan perintah shalat, amar ma’ruf nahi munkar, dan bersabar dalam berdakwah, ayat 18 merupakan larangan berbuat sombong, dan ayat 19 menerangkan etika berjalan dan berbicara kepada orang lain. Namun, dari penafsiran tersebut ada beberapa perbedaan dalam penafsiran mereka. Pertama, dalam penasfirannya Buya Hamka memberikan judul pada pembahasan tema, sedangkan Sayyid Quthb tidak memberikan tema. Kedua, penafsiran Buya Hamka lebih banyak memberikan penjelasan riwayat hadits dibandingkan penafsiran Sayyid Quthb. Ketiga, Buya Hamka lebih banyak memberikan analogi dan contoh-contoh dalam masyarakat yang berkaitan dengan tema ayat dibandingkan penafsiran Sayyid Quthb. Rumusan pendidikan yang terkandung dalam surat Luqman ayat 12-19 adalah: mengajarkan bersyukur, mengajarkan tauhid, berbakti kepada kedua orang tua, merasa di bawah pengawasan Allah, pendidikan shalat, amar ma’ruf nahi munkar, belajar sabar, larangan berbuat sombong, sederhana dalam berjalan, dan berbicara dengan pelan dan lembut.